SEJARAH

Sejarah Desa Sidobunder: Dari Rawa hingga Menjadi Satu Kesatuan Desa

424
×

Sejarah Desa Sidobunder: Dari Rawa hingga Menjadi Satu Kesatuan Desa

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sidobunder, yang berada di wilayah Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang bermula dari kawasan hutan dan rawa-rawa pada masa lampau.

Berdasarkan catatan sejarah desa, kawasan ini mulai dihuni pada masa Perang Diponegoro sekitar tahun 1825. Dikisahkan, salah satu prajurit pengikut Pangeran Diponegoro bernama Raden Dipayasa (Mbah Dipayasa) melarikan diri ke arah barat bersama kedua orang tuanya, Mbah Suta Dipa dan istrinya.

Mereka kemudian tiba di sebuah wilayah yang masih berupa hutan dan rawa-rawa. Karena kawasan tersebut menghasilkan bahan makanan dari rawa, daerah itu kemudian dinamakan Bonosari.

Tidak lama berselang, datang seorang tokoh dari arah timur bernama Mbah Kantong yang menetap di wilayah sebelah barat Bonosari. Di lokasi tersebut terdapat batu besar berbentuk bulat di tengah-tengah tumbuhan air berbunga, sehingga wilayah itu kemudian dikenal dengan nama Kembang Bunder atau Bangbunder.

Sebelum tahun 1939, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Sidobunder terdiri dari tiga desa, yakni Desa Banasari (utara dan selatan) yang dipimpin oleh Lurah Reksa Diwangsa, Desa Kembang Bunder yang dipimpin Lurah Cakra, serta Desa Tanjung (utara dan selatan).

Pada tahun 1939, para tokoh dari ketiga desa tersebut menggelar musyawarah untuk menyatukan wilayah mereka. Hasil musyawarah menyepakati penggabungan ketiga desa menjadi satu desa baru. Karena keputusan tersebut diambil secara bulat, desa ini kemudian diberi nama Sidobunder.

Dalam musyawarah itu pula disepakati pemilihan kepala desa dengan sistem dodokan. R. Atmosuwarno, yang merupakan keturunan Mbah Dipayasa, terpilih sebagai kepala desa pertama.

Perjalanan desa tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1943 hingga 1946, wilayah ini mengalami bencana kelaparan dan wabah penyakit kulit. Kemudian pada periode 1947–1948, terjadi pertempuran antara Tentara Pelajar melawan Belanda yang mengakibatkan 23 pejuang gugur. Untuk mengenang jasa mereka, dibangun sebuah tugu pahlawan di Sidobunder.

Bencana banjir dan paceklik juga sempat terjadi pada tahun 1970 hingga 1974, yang mendorong sebagian warga melakukan transmigrasi ke luar Pulau Jawa.

Memasuki era pembangunan, pada tahun 1980 masyarakat secara swadaya mendirikan balai desa. Selanjutnya pada tahun 1984, Desa Sidobunder menerima bantuan pembangunan monumen tugu pahlawan dan balai desa dari Brigadir III-17 Jakarta.

Kini, Desa Sidobunder terus berkembang sebagai wilayah yang memiliki nilai sejarah, semangat persatuan, dan perjuangan masyarakat yang kuat.

Sumber: Website resmi Desa Sidobunder


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.