SEJARAH

Sejarah Desa Sekarteja: Dari Hutan Belantara hingga Desa yang Mandiri

297
×

Sejarah Desa Sekarteja: Dari Hutan Belantara hingga Desa yang Mandiri

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Setiap desa memiliki sejarah yang menjadi fondasi bagi generasi penerusnya. Begitu pula dengan Desa Sekarteja, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen. Meski dokumentasi tertulis mengenai asal-usul desa ini terbatas, cerita lisan yang diwariskan dari para sesepuh hingga keturunan memberikan gambaran tentang perjalanan panjang desa ini dari masa lampau.

Menurut silsilah dan narasumber yang merupakan keturunan Eyang Tumenggung Wonosalam, desa ini bermula ketika Eyang Tumenggung Wonosalam, seorang Tumenggung dari Majapahit, melarikan diri ke arah barat akibat peperangan di kerajaan Majapahit. Bersama istri dan para pengikutnya, beliau sampai di wilayah yang saat itu masih berupa hutan belantara.

Hutan tersebut dikenal banyak ditumbuhi pohon teja, sehingga masyarakat awal menamainya Sekarteja. Eyang Tumenggung Wonosalam dan pengikutnya bekerja keras menebang pohon dan membuka lahan untuk bercocok tanam. Hingga kini, petilasan tempat beristirahat beliau masih ada dan terjaga keasliannya sebagai bukti sejarah yang dapat diceritakan kepada generasi penerus.

Eyang Tumenggung Wonosalam memiliki beberapa anak, di antaranya Mbah Madjamal, dan keturunan berikutnya adalah Mbah Perna Gati dan Jaya Gati. Setelah wafatnya Eyang Tumenggung, wilayah Sekarteja sempat tidak aman. Banyak perampokan dan begal meresahkan masyarakat. Menanggapi hal ini, Bupati Karanganyar mengutus Partodimejo dari Giri Selo untuk menertibkan wilayah tersebut. Berkat keahlian ilmu kanuragan yang dimiliki, Partodimejo berhasil mengamankan Desa Sekarteja dan diangkat menjadi sesepuh wilayah utara dekat Desa Bonjok.

Perbedaan pandangan antara masyarakat utara dan selatan menyebabkan Desa Sekarteja terbagi menjadi tiga kelompok:

Dukuh Prambanan (Utara) – Dinamakan demikian karena banyak tokoh asal Yogyakarta. Beberapa empu seperti Mbah Rajem dan Mbah Ragaíta turut berperan dalam perkembangan wilayah ini. Empat kepala desa/sesepuh pernah memimpin Dukuh Prambanan, yaitu Parto Dimejo, Wiryorejo, Perna Sentana, dan Parawedana.

Danasari (Selatan) – Wilayah ini memisahkan diri dan dipimpin oleh dua tokoh sesepuh, Mbah Prayawedana (Danasari Wetan) dan Mbah Surayasa (Danasari Kulon). Wilayah ini dibatasi oleh Sungai Kemit.

Wilayah Utara yang Jomplang – Setelah wafatnya kepala desa utara, terjadi kesenjangan yang kemudian menjadi titik terang bagi penyatuan kembali Desa Sekarteja.

Pada tahun 1924, tiga sesepuh dari selatan (Patuk) mengadakan pertemuan penting untuk menentukan kepemimpinan desa. Hasilnya, R. Sosromiharjo terpilih sebagai kepala desa dengan kemenangan tipis, dan memimpin Desa Sekarteja hingga tahun 1983.

Sejarah ini menjadi saksi bisu perjuangan para pendahulu Desa Sekarteja dalam membangun hunian dari hutan belantara, menjaga keamanan desa, dan meletakkan dasar pemerintahan desa yang berkelanjutan.

Demikian sejarah singkat Desa Sekarteja. Penulis menyadari adanya keterbatasan bukti tertulis, sehingga sebagian informasi bersumber dari cerita lisan para sesepuh dan keturunan Eyang Tumenggung Wonosalam.

Sumber: Desa Sekarteja, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.