SEJARAH

Sejarah dan Adat Istiadat Desa Pekuwon: Warisan Budaya yang Terjaga

347
×

Sejarah dan Adat Istiadat Desa Pekuwon: Warisan Budaya yang Terjaga

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Pekuwon, yang terletak di Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang dan adat istiadat yang masih dijaga hingga kini. Desa ini terbentuk dari penggabungan lima desa kecil yang awalnya dipimpin oleh lima lurah berbeda. Kelima desa tersebut adalah Desa Pekeyongan Kulon (dipimpin Lurah Jayadireksa), Desa Pekeyongan Wetan (Lurah Tawikrama alias Mbah Kuwu), Desa Karangmangu (Lurah Cahbau dan Martatika), Desa Karangputat (Lurah Reden Cemet dan Mbah Kesodi), dan Desa Blater (Lurah Soka).

Pada masa itu, daerah ini masih berupa hutan belantara, dan para lurah adalah tokoh yang pertama kali membuka lahan di wilayah tersebut. Hubungan baik antar-lurah membuahkan kesepakatan untuk menyatukan kelima desa menjadi satu, yang kemudian dinamai Desa Pekuwon, diambil dari nama tokoh paling sepuh, Mbah Kuwu. Mbah Kuwu dan Jayadireksa dimakamkan di perbatasan Pekeyongan Kulon dan Pekeyongan Wetan, yang hingga saat ini dikenal sebagai Makam Panembahan Kuwu, menjadi simbol sejarah dan kebanggaan masyarakat setempat.

Adat Istiadat yang Masih Dilestarikan

Masyarakat Desa Pekuwon tetap menjaga tradisi turun-temurun sebagai bagian dari warisan budaya yang diyakini membawa keberkahan dan keharmonisan. Beberapa tradisi yang masih eksis antara lain:

  1. Suran (Sedekah Bumi)
    Tradisi selamatan atau kenduri untuk bersyukur atas nikmat dan rejeki dari bumi Desa Pekuwon. Pelaksanaannya berbeda di tiap pedukuhan, misalnya di Krangputat menggunakan kambing kendit, kepala kambing dikubur di Panembahan Putat, sementara di Pekeyongan digelar di jalan menuju Makam Kuwu, dan di Blater sesaji diletakkan di Panembahan Jati.
  2. Sabanan
    Selamatan rutin menjelang bulan puasa (bulan Saban) dengan ritual ziarah kubur atau resik makam keluarga. Tujuannya mendoakan arwah agar derajatnya dinaikkan di sisi Allah SWT dan memberi kekuatan lahir-batin bagi keluarga yang masih hidup untuk melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan.
  3. Muludan
    Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap bulan Maulud (Rabi’ul Awal), dengan pengajian umum dan selamatan berupa sodakoh makanan.
  4. Rajaban
    Tradisi serupa Muludan yang dilaksanakan setiap bulan Rajab, sebagai pengingat pentingnya sholat bagi umat Islam, dengan ritual dan kegiatan yang hampir sama.

Selain tradisi di atas, masih terdapat berbagai tradisi keluarga yang bersifat pribadi, yang tidak dibahas dalam naskah ini. Masyarakat Desa Pekuwon terus menjaga adat istiadat ini sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur dan untuk memperkuat kerukunan sosial.

Pemerintah Desa Pekuwon, melalui Sekretaris Desa Samrudin Nurhidayat, membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memberikan kritik dan saran demi kebenaran sejarah dan pelestarian budaya Desa Pekuwon.

Sumber: pekuwon.kec-adimulyo.kebumenkab.go.id

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.