KEBUMEN, Kebumen24.com – Wilayah Prembun di Kabupaten Kebumen menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Sebelum dikenal sebagai Desa Prembun seperti sekarang, kawasan ini dulunya merupakan beberapa desa terpisah yang memiliki kisah asal-usul unik, mulai dari hutan lebat yang dibuka para pengungsi perang hingga legenda tokoh-tokoh yang dipercaya sebagai cikal bakal desa.
Salah satu kisah penting berasal dari Desa Wonocolo, yang dahulu dikenal dengan nama Wono Solo dan Wono Yojo. Menurut penuturan sumber yang masih memiliki hubungan keluarga dengan lurah terakhir Wonocolo, wilayah tersebut pada mulanya merupakan hutan rimbun yang kemudian dibuka oleh para pengungsi Perang Diponegoro.
Rombongan pertama datang dari wilayah Kasultanan Solo yang dipimpin oleh Eyang Singowiryo, ayah dari Mbah Djogo Wiryo atau dikenal juga sebagai Mbah Lurah Dongkol, kepala desa terakhir Wonocolo. Mereka membuka hutan dan menamai kawasan itu Wono Solo, yang berarti Wono (hutan) dan Solo (asal dari Kasultanan Solo).
Tidak lama kemudian, rombongan lain dari Yogyakarta datang dipimpin oleh Eyang Coh Bowo. Mereka membuka hutan di bagian utara Wono Solo dan menamainya Wono Yojo.
Karena wilayah Wono Solo lebih luas, nama tersebut lebih dikenal oleh masyarakat dan menjadi satu wilayah pemerintahan desa pada masa kolonial yang dipimpin oleh seorang lurah. Seiring waktu, penyebutan Wono Solo kemudian berubah menjadi Wonocolo, yang dianggap lebih mudah diucapkan oleh masyarakat Jawa saat itu.
Lurah pertama Desa Wonocolo tercatat bernama Jogonolo Penyarik, yang kemudian digantikan oleh Djogo Wiryo hingga masa penggabungan desa pada era kolonial.
Penggabungan Desa di Masa Krisis Ekonomi
Sekitar tahun 1939, terjadi penggabungan wilayah desa yang dikenal dengan istilah “Blengketan”, yaitu kebijakan pemerintah kolonial Belanda untuk menyatukan beberapa desa sebagai langkah penghematan anggaran akibat krisis ekonomi global (Malaise) pada tahun 1930-an.
Dalam kebijakan tersebut, tiga desa yakni Kranggan, Bogowati, dan Wonocolo (Wono Solo) digabung menjadi satu wilayah yang kemudian dikenal sebagai Desa Prembun.
Nama Prembun sendiri dipilih melalui musyawarah masyarakat pada masa itu. Konon, nama Prembun berasal dari kata “Rimbun” yang berarti lebat dan subur. Dalam perkembangannya, kata tersebut berubah menjadi Rembun, kemudian Parembun, hingga akhirnya dikenal sebagai Prembun.
Bahkan pada sekitar tahun 1870-an, wilayah ini pernah berdiri sebuah pabrik gula bernama Remboen Suikerfabriek, yang kemudian tutup ketika krisis ekonomi dunia melanda.
Legenda Mbah Bogo, Cikal Bakal Bogowati
Selain Wonocolo, wilayah Bogowati juga memiliki kisah sejarah yang tak kalah menarik. Konon pada masa Kerajaan Majapahit, seorang pengembara laki-laki dan perempuan yang diyakini kakak beradik melakukan perjalanan ke arah barat hingga tiba di sebuah dataran rendah yang sangat subur.
Sang perempuan kemudian memilih menetap di wilayah tersebut untuk mencari penghidupan, sementara sang laki-laki tinggal di kawasan pegunungan Kempreng di sebelah utara.
Perempuan itu kemudian dikenal sebagai Mbah Bogo, yang dipercaya masyarakat sebagai cikal bakal Desa Bogowati. Nama Bogowati sendiri memiliki beberapa versi makna. Salah satunya berasal dari kata “Boga” yang berarti makanan dan “Wati” yang berarti perempuan.
Ada pula penafsiran lain yang menyebutkan bahwa nama Bogowati berasal langsung dari sosok Mbah Bogo, tokoh perempuan yang diyakini membuka wilayah tersebut.
Hingga kini, makam Mbah Bogo berada di kompleks pemakaman umum Dukuh Bogowati dan masih dianggap keramat oleh sebagian masyarakat setempat.
Menariknya, di kalangan warga Bogowati masih berkembang sebuah mitos bahwa jika ingin usaha keluarga berhasil, maka pengelola utama usaha tersebut sebaiknya adalah perempuan dalam keluarga, biasanya sang istri.
Kisah Kranggan dan Mbah Ronggo
Wilayah Kranggan juga memiliki sejarah tersendiri yang berkaitan dengan tokoh bernama Mbah Ronggo. Dahulu, wilayah yang dikuasai tokoh berpengaruh atau orang linuwih sering disebut dengan nama tokoh tersebut.
Contohnya seperti Kabumian yang kemudian menjadi Kebumen, atau Kawedanan yang dipimpin seorang wedono. Demikian pula dengan Kranggan, yang diyakini merupakan wilayah yang pernah dipimpin oleh Mbah Ronggo.
Makam Mbah Ronggo hingga kini berada di wilayah Pedukuhan Jambewangen, Prembun, yang dulunya masih termasuk bagian dari Desa Kranggan.
Prembun: Hasil Perjalanan Panjang Sejarah
Kini, Desa Prembun merupakan hasil perjalanan panjang sejarah yang menyatukan tiga desa lama, yaitu Kranggan, Bogowati, dan Wonocolo. Penggabungan tersebut menjadi bagian dari dinamika sejarah akibat perubahan politik dan ekonomi pada masa kolonial.
Jejak sejarah itu masih bisa ditelusuri melalui cerita turun-temurun, situs makam tokoh pendiri desa, hingga penamaan wilayah yang tetap bertahan hingga sekarang.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap desa memiliki akar sejarah yang panjang dan sarat makna, sekaligus menjadi warisan budaya yang patut dijaga oleh generasi masa kini.
Sumber: FP Komunitas Pusaka Prembun
Website Kecamatan Prembun
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















