KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Clapar, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang terkait dengan Pangeran Untung Surapati, salah satu pahlawan yang gigih melawan penjajah Belanda.
Untung Surapati lahir di Mataram pada hari Jumat Legi, bulan Sura, tahun 1661 Masehi dengan nama asli R.M. Sudarmaji, putra Sunan Amangkurat Mas dan cucu Sultan Agung Hanyokrokusuma. Semasa bayi, ia diungsikan oleh ibunya ke Pangeran Kajoran demi keselamatan. Bayi ini kemudian diasuh Raja Buleleng di Bali sebagai anak angkat, dan diberi nama Untung. Di Bali, ia mendapatkan pendidikan kanuragan, olah batin, dan pengembangan karakter.
Setelah dewasa, Untung Surapati merantau ke tanah Jawa dengan tujuan menuntut ilmu. Perjalanan lautnya sempat terombang-ambing gelombang hingga sampai di Banyuwangi, di mana ia dibantu nelayan setempat. Ia kemudian dibawa ke Batavia dan menjadi bawahan seorang bangsawan Belanda, Kapten Moor. Kemampuannya yang menonjol menarik perhatian seorang putra bernama Susana, hingga Untung diangkat menjadi prajurit Kompeni.
Namun, niat Untung Surapati untuk membela pribumi menentang Belanda membuatnya ditangkap dan dipenjara. Di penjara, ia berteman dengan berbagai tokoh dari Bugis, Madura, Betawi, Bali, dan Tionghoa, termasuk Tan Boen Saka dan Jalandria dari Bali, yang kemudian menjadi sahabat setianya. Berkat tekad dan kecerdikannya, Untung berhasil melarikan diri dan melanjutkan perjuangan di Cirebon, Pekalongan, Banyumas, Dieng, dan Surakarta.
Peristiwa penting terjadi di Surakarta ketika Untung Surapati berhasil mengalahkan Kapten Tack dari Belanda. Ia kemudian mendapat gelar Adipati Aria Wiranegara pada tahun 1701 setelah menggantikan Adipati Cakraningrat. Pada tahun 1705, pasuruhan yang dipimpinnya diserang Belanda, sehingga Untung Surapati melanjutkan perjalanan ke barat melewati Yogyakarta, Purworejo, Kebumen, hingga tiba di Desa Pawinihan.
Di Pawinihan, Untung Surapati membantu masyarakat mengatasi penyakit dan bencana, hingga para putra desa menominasikannya sebagai tokoh leluhur mereka. Desa Pawinihan kemudian dikenal sebagai Desa Clapar, karena kejadian simbolis tanaman alang-alang yang terlihat seperti padi saat Belanda mencoba merusak lahan pertanian.
Untuk mengenang perjuangan dan ajaran Untung Surapati, masyarakat mendirikan MTs Kepadhangan Clapar dan makam beliau menjadi objek ziarah leluhur. Beliau wafat pada usia 110 tahun (1661–1771) dan dikenal dengan julukan Mbah Kepadhangan.
“Sumber cerita dari Juru Kunci Makam Panembahan Mbah Kepadhangan Alm. Mbah Suparjo.”
Sumber: clapar.kec-karanggayam.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















