KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Arjosari merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Adimulyo yang memiliki sejarah dan kekayaan budaya yang menarik untuk ditelusuri. Meski dikenal sebagai desa terkecil di kecamatan tersebut, Arjosari menyimpan potensi sosial, budaya, dan pertanian yang kuat serta tetap lestari hingga kini.
Secara geografis, Desa Arjosari berbatasan dengan Desa Meles di bagian timur, Desa Caruban dan Bonjok di selatan, Desa Jatimulyo di barat, serta Desa Sidomukti dan Pekuwon di utara. Keunikan lainnya, desa ini dilintasi oleh tiga aliran sungai, yakni Kali Kemit, Kali Abang, dan Kali Karanganyar yang turut menunjang kehidupan masyarakat, khususnya di sektor pertanian.
Dalam perjalanan pemerintahannya, Desa Arjosari telah dipimpin oleh beberapa kepala desa. Tercatat, Eman Dikan menjabat pada periode 1995–2001 dan kembali memimpin sejak 2019 hingga sekarang. Sementara itu, kepemimpinan desa juga pernah dipegang oleh Hartono (2001–2007), Sutikno (2007–2013), serta Mursidi (2013–2019).
Dari sisi sosial, masyarakat Arjosari tergolong homogen dengan jumlah penduduk sekitar 1.000 jiwa. Mayoritas warga menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan peternakan. Lahan desa yang didominasi persawahan memungkinkan petani melakukan panen padi dua kali dalam setahun, diselingi tanaman palawija seperti kacang hijau saat musim kemarau.
Kekayaan budaya Desa Arjosari juga tercermin dari kesenian tradisional yang masih hidup hingga sekarang, yakni Seni Jamjaneng. Kesenian bernuansa Islami ini biasanya ditampilkan pada malam hari dalam berbagai acara hajatan, dengan iringan alat musik tradisional “terbang” serta lantunan syair-syair religius yang syahdu. Di desa ini terdapat dua kelompok Jamjaneng aktif, yaitu Al Mutaqin yang dipimpin Sumedi, S.Pd. di Dukuh Sasak, serta Al Mahrifat pimpinan H. Sihabuddin di Dukuh Kemukus.
Selain itu, pada masa sebelum tahun 1980-an, masyarakat Arjosari rutin menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dalam rangka selamatan desa atau “merdi desa”. Dalang yang kerap tampil kala itu antara lain Ki Suwito dari Kedungbunder dan Ki Warsono dari Gombong. Namun tradisi tersebut kini mulai jarang dilakukan. Terakhir, pertunjukan wayang kulit sempat digelar pada tahun 2005 dengan dalang Ki Sunaryo, S.IP., seorang perantau asal Arjosari yang menekuni seni pedalangan di Jakarta.
Dengan segala potensi yang dimiliki, Desa Arjosari tetap menjadi potret desa kecil yang kaya akan nilai tradisi, religiusitas, dan semangat gotong royong masyarakatnya.
Sumber: Website Resmi Desa Arjosari
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















