SEJARAH

Menelusuri Jejak Sejarah Desa Arjomulyo, Dari Hutan Lebat Hingga Jadi Pusat Kehidupan Warga

317
×

Menelusuri Jejak Sejarah Desa Arjomulyo, Dari Hutan Lebat Hingga Jadi Pusat Kehidupan Warga

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Setiap desa memiliki cerita panjang yang menjadi bagian penting dari identitas dan jati dirinya. Hal itulah yang juga dimiliki oleh Desa Arjomulyo, sebuah desa yang menyimpan kisah historis penuh nilai perjuangan, kebersamaan, dan kearifan lokal.

Berdasarkan penelusuran sejarah, awal mula Desa Arjomulyo dulunya merupakan kawasan hutan lebat yang belum berpenghuni. Seiring waktu, datanglah sekelompok orang yang diyakini sebagai pengawal Pangeran Diponegoro. Karena kelelahan, mereka memutuskan untuk beristirahat dan akhirnya menetap di wilayah tersebut.

Dari tempat persinggahan itu, lambat laun terbentuk sebuah pedukuhan yang diberi nama Wanatawang. Nama tersebut berasal dari kata “wana” yang berarti hutan dan “tawang” yang berarti terang atau lapang, menggambarkan perubahan dari hutan belantara menjadi wilayah yang mulai terbuka dan dihuni.

Seiring perkembangan waktu, muncul pedukuhan baru di sebelah selatan Wanatawang yang dinamakan Glempang. Nama ini mencerminkan kondisi masyarakat yang hidup makmur dengan hasil bumi melimpah. Tidak berhenti di situ, masyarakat kembali membentuk pedukuhan baru bernama Pedati, yang dikenal sebagai pusat aktivitas perdagangan menggunakan gerobak kuda atau pedati.

Menariknya, Dukuh Pedati juga dikenal dengan sebutan Putihan. Hal ini berkaitan dengan kebijakan pada masa Kerajaan Mataram, di mana wilayah tersebut mendapatkan keistimewaan berupa pembebasan pajak setelah memberikan upeti kepada raja.

Dalam perkembangannya, masing-masing pedukuhan dipimpin oleh tokoh-tokoh yang disebut lurah. Nama-nama seperti Mbah Wonodiwiryo, Mbah Nur Zaeman, dan Mbah Sirad di Wanatawang; Mbah Karta dan Mbah Krama Dimeja di Glempang; serta Mbah Danu S, Mbah Manpura, dan Mbah Suro Pawiro di Pedati menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah desa.

Memasuki masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1918, terjadi penggabungan ketiga pedukuhan tersebut dalam satu sistem pemerintahan yang dikenal sebagai “Blengketan”. Dalam proses demokrasi saat itu, tiga tokoh mencalonkan diri sebagai lurah, yakni Mbah Sirad, Mbah Krama Dimeja, dan Mbah Suro Pawiro.

Hasilnya, Mbah Suro Pawiro terpilih sebagai pemimpin dan kemudian menggagas penyatuan wilayah menjadi satu desa bernama Arjomulyo. Nama tersebut resmi ditetapkan pada Senin Kliwon, 1 Januari 1919, yang hingga kini diperingati sebagai hari jadi Desa Arjomulyo.

Sejak saat itu, sistem pemerintahan desa mulai tertata dengan adanya perangkat seperti kebayan, kaum, hingga aparat lainnya. Meski istilah tersebut kini sudah jarang digunakan, jejaknya masih dikenal oleh masyarakat sebagai bagian dari sejarah lokal.

Adapun daftar kepala desa yang pernah memimpin Desa Arjomulyo antara lain:

  • 1.    Mbah Suro Pawiro (1919–1946)
  • 2.    Mbah Marto Diharjo (1946–1984)
  • 3.    Karto Sujono (1986–1994)
  • 4.    Suwardi (1994–2002)
  • 5.    Eko Heriyanto (2002–2007)
  • 6.    Suwardi (2007–sekarang)

Perjalanan panjang Desa Arjomulyo menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya bertumpu pada fisik semata, tetapi juga pada nilai kebersamaan, musyawarah, dan gotong royong yang telah diwariskan sejak dulu.

Meski sebagian kisah yang ada berasal dari cerita turun-temurun, nilai historisnya tetap menjadi bagian penting dalam membangun identitas masyarakat Desa Arjomulyo hingga saat ini.

Sumber:Website resmi Desa Arjomulyo


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.