KEBUMEN, Kebumen24.com – Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah kembali menjadi perhatian publik. Namun, Ketua RMI PCNU Kebumen, KH. Johan Amru Alhafidz, menegaskan fenomena ini bukanlah tanda perpecahan, melainkan bukti hidupnya tradisi keilmuan dalam Islam di Indonesia.
“Perbedaan Lebaran itu sudah menjadi peristiwa tahunan. Ada yang melihatnya sebagai ketidaksatuan, tapi sejatinya ini menunjukkan bahwa Islam di Indonesia kaya dengan tradisi ijtihad dan penghormatan terhadap perbedaan,” ujarnya, pengasuh Ponpes Al Istiqomah Karnagsari Kebumen Itu, Jumat 20 Maret 2026.
Menurutnya, NU dan Muhammadiyah memiliki tujuan yang sama, yakni menjalankan syariat Islam dengan sungguh-sungguh. Perbedaan hanya terletak pada metode dalam menentukan awal bulan Syawal.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu penetapan awal bulan berdasarkan perhitungan astronomi dengan kriteria tertentu. Sementara NU berpegang pada metode rukyatul hilal, yakni pengamatan langsung bulan sabit, dan jika tidak terlihat maka bulan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).
Dalam konteks negara, Kementerian Agama RI mengombinasikan keduanya melalui sidang isbat sebagai dasar penetapan awal bulan Hijriah.
KH. Johan menilai, memandang perbedaan ini sebagai konflik adalah cara pandang yang sempit. Justru, hal tersebut menunjukkan kekayaan intelektual umat Islam yang telah berkembang sejak lama.
“Ini wilayah ijtihad, jadi wajar jika ada perbedaan. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan dewasa,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam sejarah Islam, perbedaan pendapat bukanlah hal baru. Bahkan, dalam hadis riwayat Sahih Muslim tentang rukyat hilal, terdapat perbedaan praktik di masa sahabat, seperti yang terjadi antara Ibnu Abbas di Madinah dan rukyat di Syam.
Lebih lanjut, KH. Johan mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan perbedaan ini sebagai bahan perdebatan apalagi olok-olok di media sosial. Ia menekankan pentingnya menjaga adab dan persaudaraan.
“Orang yang Lebaran duluan belum tentu lebih saleh, begitu juga yang belakangan. Ukuran di hadapan Allah adalah ketakwaan, bukan perbedaan tanggal,” tegasnya.
Ia juga mengutip nilai Al-Qur’an, bahwa manusia diciptakan berbeda untuk saling mengenal, bukan saling merendahkan. Dalam konteks ini, perbedaan Lebaran harus menjadi sarana memperkuat toleransi dan kedewasaan beragama.
Di tengah masyarakat, lanjutnya, praktik toleransi sebenarnya sudah berjalan dengan baik. Meski berbeda hari, umat Islam tetap saling bersilaturahmi, mengirim makanan, dan menjaga hubungan kekeluargaan.
“Ini justru wajah Islam Indonesia yang sesungguhnya, damai dan penuh penghormatan,” katanya.
KH. Johan menegaskan bahwa NU dan Muhammadiyah bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan intelektual umat. NU menjaga tradisi fikih dan rukyat, sementara Muhammadiyah mengembangkan pendekatan astronomi modern.
“Perbedaan ini bukan ancaman, tapi kekayaan yang harus disyukuri,” pungkasnya.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum kembali ke fitrah, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kebesaran jiwa dalam menyikapi perbedaan.
“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.”(k24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















