SEJARAH

Mengungkap Sejarah Desa Adikarso: Dari Hutan Belantara hingga Tradisi Krapyak yang Tetap Lestari

768
×

Mengungkap Sejarah Desa Adikarso: Dari Hutan Belantara hingga Tradisi Krapyak yang Tetap Lestari

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Adikarso menjadi salah satu desa yang memiliki sejarah panjang dan tradisi budaya yang masih terjaga hingga kini di wilayah Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen. Desa yang berada sekitar 3,4 kilometer dari pusat kecamatan dan sekitar 2,6 kilometer dari pusat kota Kebumen ini tidak hanya dikenal sebagai wilayah yang subur, tetapi juga menyimpan kisah sejarah pembukaan desa yang sarat nilai kearifan lokal.

Secara geografis, Desa Adikarso memiliki luas wilayah sekitar 133 hektare yang terdiri dari 82 hektare lahan persawahan, 9 hektare tegalan, 34 hektare pekarangan, serta sekitar 8 hektare yang digunakan untuk jalan, sungai, dan fasilitas umum lainnya. Wilayah ini berbentuk dataran rendah dengan tingkat kesuburan tanah yang baik, didukung curah hujan rata-rata 476 mm dan suhu rata-rata sekitar 29 derajat celcius.

Letak Desa Adikarso cukup strategis karena berbatasan langsung dengan Desa Tamanwinangun di sebelah utara dan barat, Desa Selang–Jatisari di sebelah timur, serta Desa Depokrejo di sebelah selatan.

Penduduk dan Mata Pencaharian

Jumlah penduduk Desa Adikarso tercatat sebanyak 4.115 jiwa yang terdiri dari 2.105 laki-laki dan 2.010 perempuan, dengan total 1.309 kepala keluarga. Mayoritas warga bekerja di sektor wiraswasta dan perdagangan sebanyak 1.635 orang, disusul sektor pertanian dan peternakan.

Selain itu terdapat pula warga yang berprofesi sebagai tenaga pengajar, aparatur negara, tenaga kesehatan, hingga pelajar dan mahasiswa yang jumlahnya mencapai lebih dari 800 orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa desa tersebut memiliki dinamika sosial dan ekonomi yang cukup aktif.

Struktur Pemerintahan Desa

Dalam sistem pemerintahan desa, Desa Adikarso dipimpin oleh kepala desa yang dibantu oleh sekretaris desa, kepala urusan, kepala seksi, serta para kepala dusun. Lembaga desa yang berperan dalam pengelolaan pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat antara lain Badan Permusyawaratan Desa (BPD), LKMD, PKK, Karang Taruna, RT, RW, hingga Linmas.

Secara administratif, Desa Adikarso terbagi menjadi lima dusun, yaitu Dusun Kedompon, Dusun Kayuapu, Dusun Gentan, Dusun Keputihan, dan Dusun Ketraman.

Berawal dari Hutan Belantara

Di balik perkembangan desa saat ini, Desa Adikarso memiliki sejarah menarik. Nama “Adikarso” berasal dari dua kata, yaitu “Adi” yang berarti niat dan “Karsa” yang berarti kehendak baik. Secara etimologi, Adikarso dimaknai sebagai niat atau kehendak yang baik.

Sejarah desa ini berkaitan dengan tokoh pembuka wilayah bernama Raden Aminggati dan Amonggati. Kedua tokoh tersebut dikenal memiliki niat baik untuk membuka wilayah yang pada masa itu masih berupa hutan belantara.

Berkat perjuangan keduanya dalam melakukan babat alas, wilayah tersebut kemudian berkembang menjadi permukiman yang akhirnya dikenal sebagai Desa Adikarso. Hingga saat ini, makam Raden Aminggati dan Amonggati masih dirawat dengan baik oleh masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur desa.

Tradisi Krapyak yang Terus Dijaga

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan masyarakat Desa Adikarso adalah tradisi Krapyak. Tradisi ini berupa kegiatan gotong royong membuat pagar bambu atau gethek yang dilakukan oleh warga, khususnya di wilayah Dusun Gentan, Keputihan, dan Ketraman.

Tradisi ini digelar setiap dua tahun sekali pada bulan Suro. Sehari sebelum pelaksanaan, warga bersama-sama menyembelih tiga ekor kambing untuk dimasak menjadi gulai kambing, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan walimahan dan pembuatan makanan khas dari ketan.

Keesokan harinya, sebelum proses pembuatan pagar bambu dimulai, kepala desa bersama perangkat desa, ulama, tokoh masyarakat, serta para sesepuh desa melakukan doa dan pembacaan tahlil di makam Simbah Amonggati, Simbah Aminggati, dan Simbah Wargantaka.

Setelah itu, warga secara bergotong royong membongkar pagar bambu lama dan menggantinya dengan pagar baru. Proses pembuatan gethek dilakukan dengan sangat teliti karena pola anyaman harus tersusun rapi dan tidak boleh salah.

Bahan utama yang digunakan adalah bambu wulung, dan seluruh sambungan dibuat tanpa menggunakan paku besi, melainkan paku dari bambu.

Menariknya, anyaman gethek tersebut memiliki pola hitam dan putih yang sarat makna filosofis. Anyaman berlatar hitam melambangkan kebijaksanaan, sementara anyaman putih melambangkan keberanian.

Tradisi ini bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi juga menjadi simbol kuatnya nilai kebersamaan dan gotong royong masyarakat Desa Adikarso yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Sumber: Website resmi Desa Adikarso.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.