KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Argopeni di Kabupaten Kebumen menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Nama “Argopeni” sendiri memiliki makna filosofis yang indah. Kata “argo” berarti gunung, sedangkan “peni” berarti indah. Secara harfiah, Argopeni dapat dimaknai sebagai “gunung yang indah”, menggambarkan keindahan alam yang membentang di kaki pegunungan wilayah tersebut.
Secara historis, Desa Argopeni terbentuk dari penggabungan beberapa pedukuhan yang telah ada sejak masa sebelum penjajahan Belanda. Cikal bakal wilayah ini terdiri dari sejumlah desa kecil, antara lain Bogor, Karang, Karangdesa, Bengkiyek, Bojong Kidul, dan Bojong Lor. Keberadaan wilayah-wilayah tersebut bahkan dapat dilacak melalui peta peninggalan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1905.
Pada masa penjajahan Belanda, beberapa pedukuhan tersebut kemudian digabungkan menjadi satu wilayah administratif yang diberi nama Desa Argopeni. Saat itu, pusat pemerintahan desa berada di Desa Bogor, yang kemudian berubah status menjadi Dukuh Krajan karena menjadi pusat pemerintahan desa.
Setelah tahun 1905, secara resmi wilayah Argopeni dikenal sebagai satu desa dengan beberapa pedukuhan di dalamnya, yaitu Krajan, Karang, Karangdesa, Bojong, dan Bengkiyek. Tokoh yang tercatat sebagai kepala desa pertama Argopeni adalah Raden Soma Diwirya, yang memimpin pada masa awal terbentuknya pemerintahan desa tersebut.
Selain memiliki sejarah administratif yang panjang, Desa Argopeni juga dikenal sebagai wilayah yang menyimpan jejak peradaban kuno. Salah satu kawasan yang cukup terkenal adalah Trasisdi, sebuah lokasi yang memiliki situs punden berundak. Situs ini telah diteliti oleh Balai Arkeologi dan ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi undang-undang.
Keberadaan punden berundak yang tersusun dari batu bata merah menunjukkan bahwa wilayah Argopeni telah dihuni masyarakat sejak zaman dahulu dengan tingkat peradaban dan budaya yang cukup maju. Temuan tersebut juga berkaitan dengan tradisi masyarakat setempat yang sejak dulu dikenal sebagai pengrajin genteng dan bata merah, sebuah aktivitas ekonomi yang diyakini telah berlangsung turun-temurun.
Sejarah panjang Argopeni juga tercermin dari bangunan pemerintahan desanya. Kantor Desa Argopeni pada masa lalu merupakan bangunan Sekolah Rakyat (SR) peninggalan zaman Belanda. Setelah pemerintah membangun SD Inpres di tanah desa, bangunan SR tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi kantor balai desa.
Tidak hanya itu, aula Balai Desa Argopeni hingga kini juga tercatat sebagai bagian dari warisan cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang, menambah nilai historis sekaligus identitas budaya desa tersebut.
Dengan perpaduan antara sejarah panjang, jejak arkeologi, serta kekayaan budaya masyarakatnya, Desa Argopeni menjadi salah satu wilayah di Kebumen yang menyimpan cerita penting tentang perjalanan peradaban lokal di kaki pegunungan yang indah.
Sumber: Website resmi Desa Argopeni.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















