KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Karangtengah, yang terletak di Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang kaya akan nilai budaya dan tradisi. Desa ini awalnya merupakan bagian dari wilayah yang dikenal dengan nama Jurang Jero, sebelum berkembang menjadi desa mandiri seperti sekarang.
Menurut cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, sejarah Desa Karangtengah dimulai dari Mbah Agung Kajoran atau yang dikenal dengan nama Pangeran Danasari, yang membuka hutan di sekitar lembah pegunungan yang kini dikenal sebagai Pegunungan Condong. Setelah Mbah Agung memiliki lahan pertanian, anak dan cucunya pun mengikuti dan menetap di wilayah tersebut.
Salah satu putra Mbah Agung, Mbah Derwak, menetap di wilayah timur yang kini dikenal sebagai Dukuh Petokal. Mbah Derwak memiliki empat anak, dengan putri tertua bernama Nyai Raga Jaya, serta tiga orang lainnya yang dikenal sebagai Mbah Padureksa, Mbah Demang, dan Mbah Kedung Pane. Dari Mbah Padureksa lahirlah tiga putra yang menjadi tokoh penting dalam sejarah desa, yaitu Mbah Kerta Brani, Mbah Kerta Dinaya, dan Mbah Cakradipa.
Pada masa itu, wilayah Kajoran dan Karangtengah belum memiliki pemerintahan resmi, dan pengumpulan pajak dilakukan oleh pihak luar yang kerap digunakan untuk kepentingan pribadi. Menyikapi kondisi tersebut, masyarakat menunjuk Mbah Kerta Brani untuk meminta surat kekancingan ke Keraton Yogyakarta guna membentuk pemerintahan desa. Mbah Kerta Brani pun berangkat ke keraton ditemani adiknya, Mbah Cakradipa, dan keduanya berhasil mendapatkan surat kekancingan.
Akhirnya, Mbah Kerta Brani menjadi Lurah di Kajoran, sementara Mbah Cakradipa memimpin wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Karangtengah. Sejak saat itu, Desa Karangtengah terus berkembang hingga kini, dipimpin oleh 12 Lurah/kepala desa/penjabat, yaitu:
- Cakradipa
- Wangsawedana
- Bangsawirana
- Karyadikrama
- Rusman (Pengurus TNI)
- Martadimedja
- Rajan
- Rasman
- Suryonegoro
- Sugiri (PJ)
- Chabib Nasrudin (PJ)
- Saidun (Kades PAW)
Meski mayoritas masyarakat Desa Karangtengah, sekitar 99%, beragama Islam, adat istiadat setempat tetap terjaga dengan baik. Tradisi ini bisa dilihat dari bentuk makam yang sebagian besar masih dibangun cungkup, serta kegiatan selamatan yang masih rutin dilaksanakan, seperti kenduri palakiah setiap malam Jum’at Kliwon.
Desa Karangtengah menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat bisa menjaga nilai sejarah dan budaya sambil tetap mengikuti perkembangan zaman.
Sumber: Desa Karangtengah – Sejarah dan Adat Istiadat
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















