KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Karanggayam, yang terletak sekitar 5 km sebelah utara Karanganyar, bukan hanya dikenal sebagai pusat administrasi Kecamatan Karanggayam, tetapi juga menyimpan catatan heroik sejarah perjuangan bangsa. Kawasan ini menjadi saksi pertempuran sengit antara pasukan TNI dan Belanda pada masa Agresi Militer Belanda II, tepatnya pada Jumat Pon, 19 Agustus 1947.
Pada waktu itu, satu batalyon Belanda yang berpangkalan di Gombong bergerak ke utara melalui desa Sidayu, Penimbun, dan Kenteng, menuju Karanggayam – front terdepan pedalaman Jawa Tengah. Informasi dari pengintaian udara menunjukkan kubu pertahanan TNI di kuburan Pamekas dilengkapi senjata otomatis berat Watermantel. Meski seharusnya bendera Merah Putih diturunkan untuk menyamarkan posisi TNI, keberanian pemuda-pemuda pejuang tetap terlihat. Prajurit Yacob dan Soedar tampak santai di lapangan sambil menyanyikan lagu nasional, simbol semangat pemuda yang tak gentar menghadapi maut.
Pertempuran dimulai sekitar pukul 05.00 WIB. Sebelumnya, kontak senjata terjadi antara patroli TNI dan Belanda di kampung Randakeli dan Penimbun pada pukul 23.00 WIB. Pasukan TNI yang terdesak mundur ke Gunung Pukul, sementara Belanda menduduki Kuburan Pamekas. Kesalahan koordinasi antar pasukan Belanda membuat mereka saling baku hantam, menewaskan sekitar 60 orang.
Kontak senjata berikutnya berlangsung antara pukul 10.00 hingga 14.00 WIB di Gunung Kodenan dan Simpang Empat Kajoran. Mayor Panoedjoe, komandan pertahanan TNI, memerintahkan mundur ke desa Clapar. Setelah semalam di Clapar, pasukan kembali ke Karanggayam pada 20 Agustus 1947 untuk pembersihan dan penguburan para pejuang serta penduduk yang gugur. Seminggu kemudian, Batalyon 62 digantikan Batalyon 64 Resimen XX Kebumen.
Dalam pertempuran heroik ini, tercatat 25 pejuang gugur, termasuk Aminas, Kopral Kompi I Batalyon 62, dan Boediman, Prajurit I Kompi III Batalyon 62, serta beberapa warga penduduk yang menjadi saksi perjuangan. Selain itu, beberapa prajurit dan warga mengalami luka-luka dan penahanan oleh Belanda.
Sebagai penghormatan terhadap pengorbanan mereka, Monumen Pertempuran Karanggayam atau Monumen Purangga dibangun di tepi jalur Karanggayam ke arah Clapar. Tahap pertama peresmian monumen dilakukan pada 19 Agustus 1992, hasil gotong-royong Paguyuban Keluarga Eks Anggota Batalyon 62 Gombong dengan dukungan tokoh nasional seperti Brigjen TNI (Purn.) Slamet Soebyakto.
Monumen ini kini menjadi simbol heroisme dan pengorbanan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sekaligus titik edukasi sejarah bagi generasi muda Kebumen.
Oleh: Ananda. R
Sumber: https://kebumen2013.com/
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















