KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Adikarto menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Berdasarkan penelusuran dari laman resmi desa, keberadaan Desa Adikarto sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, meski asal-usul nama “Adikarto” hingga kini masih belum diketahui secara pasti.
Pada masa awal, wilayah Desa Adikarto didominasi oleh hutan lebat dan rawa-rawa. Penduduknya masih sangat sedikit, dengan mata pencaharian utama bercocok tanam, seperti padi dan palawija. Namun, keterbatasan lahan membuat hasil pertanian tidak maksimal, sehingga sebagian besar masyarakat hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit.
Sejarah awal desa juga tidak lepas dari kisah “babat alas” atau pembukaan lahan pertama. Meski belum ada catatan pasti siapa yang pertama kali membuka wilayah ini, masyarakat setempat mengenal sejumlah tokoh yang dianggap sebagai pepunden atau leluhur desa. Nama-nama seperti Surya Ali dan Mbah Jati dikenal di wilayah Dukuh Wanasintru dan Kedungbener. Sementara itu, di wilayah Dukuh Karangmangu dan Sulastri, sosok Mbah Bopong disebut sebagai pepunden.
Jejak keberadaan para tokoh tersebut masih dapat ditemukan hingga kini melalui makam yang tersebar di beberapa titik. Makam Mbah Jati berada di area persawahan perbatasan Desa Adikarto dan Desa Temanggal, yang dikenal dengan sebutan “Sarean”. Makam Surya Ali terletak di Dukuh Wanasintru, tepatnya di sebelah utara Masjid Al Ikhlas. Sedangkan makam Mbah Bopong berada di Dukuh Karangmangu, berbatasan dengan Desa Sidoharjo, yang dikenal dengan nama “Kuwu”.
Secara administratif, Desa Adikarto terbagi menjadi empat wilayah dukuh, yakni Dukuh Sulastri (RW I), Dukuh Karangmangu (RW II), Dukuh Wanasintru (RW III), dan Dukuh Kedung Bunder (RW IV).
Memasuki masa setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, kondisi Desa Adikarto mulai mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan meningkat, ditandai dengan semakin banyak anak-anak yang mengenyam bangku sekolah.
Perkembangan signifikan terjadi pada masa kepemimpinan Kepala Desa Wardoyo U.S sekitar tahun 1973. Di bawah kepemimpinannya, berbagai pembangunan dilakukan secara masif. Sektor pertanian mengalami peningkatan melalui pembangunan saluran irigasi, yang berdampak langsung pada hasil panen padi.
Selain itu, pembangunan infrastruktur desa juga digencarkan, mulai dari jalan, gang, hingga gapura lingkungan. Pada periode 1975–1977, pemerintah desa berhasil membangun kantor balai desa yang representatif. Fasilitas pendidikan pun ditingkatkan dengan pembangunan SD Negeri Adikarto sebagai upaya mencerdaskan generasi muda.
Program pembangunan jalan melalui kegiatan ABRI Masuk Desa (AMD) turut mempercepat akses transportasi warga. Masuknya listrik ke desa juga menjadi tonggak penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, meskipun pada awalnya belum menjangkau seluruh wilayah.
Semangat gotong royong yang tinggi menjadi kekuatan utama masyarakat Adikarto dalam membangun desa. Hal ini terlihat dari keberhasilan warga secara swadaya membangun lapangan sepak bola, yang kemudian menjadi pusat aktivitas olahraga pemuda.
Bahkan, pada masa itu, prestasi sepak bola Desa Adikarto sempat mencapai masa kejayaan. Klub sepak bola “PERSAD” dikenal luas hingga tingkat kecamatan, kabupaten, bahkan luar daerah, dengan berbagai prestasi dalam turnamen yang diikuti.
Hingga kini, sejarah dan legenda Desa Adikarto tetap menjadi bagian penting dari identitas dan kebanggaan masyarakat setempat, sekaligus menjadi warisan budaya yang patut dilestarikan.
Sumber: Website Resmi Desa Adikarto
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















