SEJARAH

Kisah Unik Desa Pohkumbang: Pemimpin Adil, Dua Istri, Satu Kepemimpinan

313
×

Kisah Unik Desa Pohkumbang: Pemimpin Adil, Dua Istri, Satu Kepemimpinan

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Setiap desa memiliki kisah masa lalu yang unik dan sarat makna. Begitu pula dengan Desa Pohkumbang, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, yang menyimpan cerita sejarah panjang tentang asal-usulnya yang berakar dari nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan keadilan.

Sejarah Desa Pohkumbang tidak lepas dari peran tokoh sentral bernama R. Singowongso, yang diyakini sebagai pendiri sekaligus pemimpin awal wilayah tersebut. Berdasarkan penuturan para sesepuh dan tokoh masyarakat setempat, sosok ini disebut merupakan keturunan trah Kerajaan Mataram. Hal ini diperkuat dengan adanya catatan silsilah serta keberadaan makam beliau yang hingga kini masih terawat di wilayah Dukuh Pringamba.

Pada masa kepemimpinannya, wilayah Pohkumbang masih berbentuk kademangan yang berada di bawah kekuasaan Mataram. R. Singowongso dikenal sebagai pemimpin yang taat dan disiplin, terutama dalam menjalankan kewajiban membayar upeti kepada kerajaan. Menariknya, meskipun perjalanan menuju pusat pemerintahan Mataram dikenal rawan perampokan, ia selalu berhasil menjalankan tugasnya dengan aman, yang membuatnya disegani oleh pihak kerajaan.

Kisah menarik lainnya terjadi saat ia menghadap penguasa Mataram. Kala itu, ia ditawari hadiah berupa pernikahan dengan seorang putri kerajaan. Awalnya ia menolak karena telah memiliki istri, namun akhirnya menerima tawaran tersebut setelah diyakinkan oleh pihak kerajaan.

Dalam perjalanan kembali ke kademangan, demi menjaga keselamatan sang putri dari ancaman begal, R. Singowongso melakukan cara unik dengan mengoleskan arang di wajah sang putri agar tidak menarik perhatian. Setelah tiba dengan selamat, putri tersebut kemudian diberi nama Raden Ayu Lerang, yang berarti wanita cantik dengan wajah yang “bercorak”.

Kehadiran Raden Ayu Lerang diterima dengan baik oleh istri pertama R. Singowongso. Hubungan keduanya pun terjalin harmonis, mencerminkan nilai kebijaksanaan dalam kehidupan rumah tangga sang pemimpin.

Sebagai bentuk keadilan, R. Singowongso kemudian membagi wilayah kademangan menjadi dua bagian, masing-masing diperuntukkan bagi kedua istrinya. Meski demikian, kepemimpinan tetap berada dalam satu kendali.

Dari sinilah muncul nama Pohkumbang, yang memiliki filosofi mendalam. Kata “poh” dimaknai sebagai “tengah” atau keseimbangan, sementara “kumbang” merujuk pada serangga yang identik dengan bunga dan penghasil madu. Secara makna, Pohkumbang melambangkan sikap adil, bijaksana, dan mampu memberi manfaat bagi banyak orang—nilai yang diwariskan dari kepemimpinan R. Singowongso.

Sejarah ini menjadi bagian penting dari identitas Desa Pohkumbang hingga saat ini. Meski bersumber dari berbagai versi cerita yang berkembang di masyarakat, kisah tersebut telah dirangkum berdasarkan sumber yang dianggap paling mendekati kebenaran, didukung oleh bukti dan garis keturunan yang masih terjaga.

Sumber: Website Resmi Desa Pohkumbang


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.