KEBUMEN, Kebumen24.com – Sebuah kisah legenda yang sarat nilai sejarah dan filosofi hidup masih terjaga di tengah masyarakat Desa Jatimulyo, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Cerita ini berkaitan erat dengan asal-usul nama desa yang diyakini berasal dari keberadaan pohon jati raksasa pada masa lampau.
Menurut penuturan masyarakat secara turun-temurun, dahulu wilayah tersebut ditandai dengan berdirinya pohon jati berukuran sangat besar dan rimbun. Lebatnya dedaunan membuat sinar matahari sulit menembus ke tanah, sehingga suasana di sekitarnya terasa gelap bahkan di siang hari.
Konon, pohon jati raksasa itu kemudian ditebang dan dimanfaatkan untuk pembangunan Masjid Kauman Kebumen sekitar tahun 1830, atas permintaan seorang tokoh agama setempat, Kyai Imam Manadi. Keunikan lainnya, tunggak pohon yang tersisa memiliki diameter sangat besar hingga mampu menampung puluhan orang untuk menggelar kenduri atau slametan.
Sebelum dikenal sebagai Desa Jatimulyo, wilayah tersebut merupakan gabungan dari sejumlah desa kecil yang berdiri sendiri, di antaranya Jatisari, Pejaten, Sembir, Depok, Karangtawang, Karangtanjung, dan Karajiwan. Masing-masing desa dipimpin oleh lurah, seperti Raden Joyo Pawiro di Jatisari, Ki Wana Sentana di Pejaten, serta Ki Karta Sentika di Sembir.
Sejarah penting terjadi pada tahun 1924 ketika pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan penggabungan desa atau “blengketan” guna mempermudah administrasi pemerintahan. Dari proses tersebut, lahirlah satu desa baru yang kemudian diberi nama Jatimulyo.
Terdapat beberapa versi mengenai asal-usul nama Jatimulyo. Versi pertama menyebutkan bahwa nama tersebut merupakan gabungan dari kata “Jaten” dan “Jatisari”, yang menggambarkan banyaknya pohon jati di wilayah itu.
Versi kedua menyebutkan bahwa nama Jatimulyo diusulkan oleh tokoh masyarakat, R. Ngabei Atmosastro atau yang dikenal sebagai Mbah Puring. Nama tersebut dipilih dengan harapan masyarakat dapat hidup mulia dan sejahtera.
Sementara versi ketiga mengaitkan nama Jatimulyo dengan makna filosofis dari legenda pohon jati raksasa. Kata “jati” dimaknai sebagai “sejatine” (hakikat), sedangkan “mulyo” berarti mulia. Filosofi ini mencerminkan harapan agar masyarakat hidup dengan akhlak yang luhur dan kehidupan yang sejahtera.
Hari jadi Desa Jatimulyo sendiri diperingati setiap tanggal 9 Oktober, merujuk pada pelaksanaan pemilihan kepala desa pertama pada 9 Oktober 1924. Pada saat itu, R. Hardjo Soedarmo atau Sajid terpilih sebagai kepala desa pertama dan menjabat hingga tahun 1944.
Hingga kini, legenda pohon jati raksasa tersebut tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Jatimulyo. Kisah ini tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga pengingat akan nilai kebersamaan, sejarah, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi generasi penerus.
Sumber: Website Resmi Desa Jatimulyo Petanahan Kebumen
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















