SEJARAH

Babad Sruni: Jejak Kadipaten Sruni Sebelum Kebumen Berdiri, Kisah Raden Tumenggung Kertinagara

411
×

Babad Sruni: Jejak Kadipaten Sruni Sebelum Kebumen Berdiri, Kisah Raden Tumenggung Kertinagara

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Sejarah panjang wilayah Kebumen tidak bisa dilepaskan dari kisah Kadipaten Sruni, sebuah pemerintahan lokal yang telah eksis jauh sebelum berdirinya Kabupaten Kebumen seperti sekarang. Dalam naskah Babad Sruni, diceritakan perjalanan penuh dinamika politik, strategi, hingga konflik kekuasaan yang dipimpin oleh tokoh penting, Raden Tumenggung Kertinagara.

Pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I, wilayah Sruni dipimpin oleh Mas Tumenggung Kertinagara, cucu dari Adipati Mancanagara, seorang patih dari Pajang. Kertinagara dikenal sebagai pemimpin yang kuat, berwibawa, dan memiliki dua putra tangguh dalam ilmu perang, yakni Ki Kertileksana dan Ki Kertisentika.

Kedua putranya masyhur sebagai ksatria yang sakti dan tidak mempan senjata. Mereka aktif melatih pasukan dan memperkuat pertahanan wilayah, menjadikan Sruni disegani oleh daerah-daerah di sekitarnya.

Ambisi dan Rencana Pembangkangan

Keperkasaan militer Sruni memicu ambisi Kertinagara untuk memperluas kekuasaan. Ia bahkan berniat membangkang kepada Mataram dengan tidak lagi mengirim upeti. Niat ini juga dipengaruhi oleh ketidakpuasan terhadap kepemimpinan raja yang dinilai zalim.

Meski mendapat nasihat dari Ki Sutamenggala agar tidak melawan raja, Kertinagara tetap melanjutkan rencananya. Ia pun menyusun strategi besar, salah satunya dengan merebut pusaka sakti Kyai Jabardas, yang diyakini sebagai simbol legitimasi kekuasaan.

Strategi Sandi dan Perebutan Pusaka

Upaya perebutan pusaka dilakukan melalui strategi penyusupan. Seorang abdi setia, Ki Trunayuda, dikirim ke Mataram dan berhasil mengambil Kyai Jabardas setelah mendapat kepercayaan dari raja.

Keberhasilan ini membuat Kertinagara semakin percaya diri. Dalam waktu singkat, wilayah kekuasaan Sruni meluas hingga meliputi Panjer, Roma, Ledok, dan Semawung.

Namun, Mataram tidak tinggal diam. Melalui strategi balasan, diutuslah Demang Sutawijaya untuk menyusup ke Sruni. Dengan kecerdikannya, ia berhasil mengambil kembali pusaka tersebut melalui taktik pernikahan politik dengan keluarga Kertinagara.

Konflik dan Rekonsiliasi

Di tengah memanasnya konflik, muncul ancaman lain dari pemberontakan Trunajaya. Pasukan Sruni justru membantu menghalau serangan tersebut, yang akhirnya membuka jalan rekonsiliasi antara Kertinagara dan pihak Mataram.

Sebagai bentuk penghargaan, Kertinagara diampuni dan bahkan diangkat menjadi bupati dengan gelar Raden Tumenggung Kertinagara, serta diberi hak atas wilayah yang telah dikuasainya.

Masa Keemasan dan Kemunduran Sruni

Di bawah kepemimpinan Kertinagara, Sruni mengalami masa kejayaan dengan kondisi masyarakat yang makmur dan stabil. Namun, setelah wafatnya, kekuasaan beralih kepada putranya, Kertinagara II.

Sayangnya, konflik kembali terjadi ketika Kertinagara II menolak tunduk kepada Banyumas. Peperangan pun pecah melawan pasukan Kartasura, yang berakhir dengan kekalahan Sruni. Kertinagara II terluka parah dan akhirnya wafat.

Sejak saat itu, status Sruni diturunkan dari kadipaten menjadi wilayah kademangan, menandai berakhirnya kejayaan Sruni sebagai kekuatan politik besar di wilayah selatan Jawa.

Warisan Sejarah

Meski telah lama berlalu, kisah Kadipaten Sruni menjadi bagian penting dari sejarah lokal Kebumen. Babad ini tidak hanya menggambarkan konflik kekuasaan, tetapi juga nilai kesetiaan, strategi, dan dinamika sosial-politik pada masa Mataram Islam.

Sejarah Sruni menjadi bukti bahwa sebelum Kebumen berdiri, wilayah ini telah memiliki sistem pemerintahan dan tokoh-tokoh besar yang berperan dalam perjalanan sejarah Jawa.

Sumber:Website Desa Jatimulyo, Kecamatan Petanahan, Kebumen

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.