SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Selang: Kental dengan Tapak Tilas R.Ng. Kramaleksana

496
×

Jejak Sejarah Desa Selang: Kental dengan Tapak Tilas R.Ng. Kramaleksana

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Menelusuri sejarah Desa Selang tidak bisa dilepaskan dari sosok penting bernama Raden Ngabehi (R.Ng.) Kramaleksana. Tokoh ini dikenal sebagai figur berpengaruh yang memiliki peran besar dalam perkembangan wilayah tersebut pada masa lalu. Bahkan, untuk mengenang jasanya, nama beliau kini diabadikan sebagai salah satu jalan desa yang menghubungkan Desa Selang dengan Desa Kalirejo sepanjang kurang lebih tiga kilometer.

Bagi masyarakat setempat, nama Jalan Kramaleksana bukan sekadar penanda lokasi, tetapi juga simbol penghormatan terhadap seorang tokoh yang memiliki kontribusi penting dalam sejarah lokal.

R.Ng. Kramaleksana hidup pada kisaran tahun 1630–1735 Masehi, pada masa kejayaan Kesultanan Mataram Islam. Dalam pemerintahan kala itu, ia dikenal sebagai Menteri Pemajegan, yakni pejabat yang bertugas mengumpulkan pajak di sejumlah wilayah penting di Jawa bagian selatan. Wilayah tugasnya meliputi Kebumen, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Purworejo hingga Cilacap.

Namun perjalanan hidup tokoh ini tidaklah sederhana. Kisahnya dimulai jauh sebelum ia dikenal sebagai pejabat kerajaan.

Masa Kecil Mukhammad Sabaruddin

R.Ng. Kramaleksana lahir dengan nama Mukhammad Sabaruddin. Ia merupakan putra dari Bekel Sutawijaya, seorang pejabat pemerintahan Mataram Islam yang menjabat sebagai Demang di Kutowinangun, Kebumen sekaligus pernah menjadi Manggala Yudha (kepala pasukan) pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Ibunya bernama Ong Mien Tang, seorang perempuan keturunan Tionghoa–Cirebon. Sejak kecil, Sabaruddin tumbuh di lingkungan Keraton Mataram sehingga mendapatkan pendidikan yang cukup lengkap, baik dalam ilmu agama maupun keterampilan bela diri.

Dalam bidang keagamaan, ia dibimbing oleh ulama keraton, salah satunya Ki Ageng Gribig. Sementara dalam ilmu kanuragan atau bela diri, ia digembleng oleh Ki Ageng Ronggojati, seorang guru kanuragan sekaligus penasihat spiritual di lingkungan keraton.

Sejak usia sekitar 10 hingga 13 tahun, Sabaruddin sudah terbiasa berlatih tanding dengan para prajurit muda Mataram yang usianya jauh lebih tua. Bakatnya dalam ilmu bela diri membuat banyak orang terkesan.

Selain dikenal tangguh, ia juga memiliki karakter yang santun. Sabaruddin tumbuh sebagai pemuda pendiam, rendah hati, dan berakhlak baik, nilai-nilai yang dibentuk dari pendidikan para gurunya.

Hijrah ke Banyumas

Situasi politik di Keraton Mataram berubah setelah wafatnya Sultan Agung pada tahun 1645. Pergantian kekuasaan kepada Amangkurat I menimbulkan berbagai konflik internal.

Kondisi tersebut membuat Bekel Sutawijaya memutuskan untuk mengungsikan keluarganya ke Banyumas, tepatnya di wilayah Tamansari. Di sana, Sabaruddin melanjutkan pendidikan agama kepada Kyai Jumirin, seorang ulama yang juga pernah menjadi guru ayahnya.

Selama tinggal di Banyumas, Sabaruddin tetap mengasah kemampuan bela diri. Ia sering berlatih di halaman rumah Kyai Jumirin hingga menarik perhatian para pemuda desa. Lambat laun, latihan tersebut berkembang menjadi kegiatan bersama yang diikuti banyak santri dan masyarakat.

Kegiatan itu bahkan menjadi tontonan warga desa setiap malam tertentu. Bagi Kyai Jumirin, kegiatan tersebut dimanfaatkan sebagai sarana dakwah untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat sekitar.

Menarik Perhatian Adipati Banyumas

Popularitas latihan kanuragan yang dipimpin Sabaruddin akhirnya sampai ke telinga Adipati Banyumas, R. Adipati Mertayuda I. Ia sempat mencurigai kegiatan tersebut sebagai potensi pemberontakan.

Untuk memastikan, Kyai Jumirin dipanggil menghadap ke kadipaten. Tak lama kemudian, Sabaruddin juga diminta datang dan diminta menunjukkan kemampuan bela dirinya di hadapan para prajurit muda kadipaten.

Hasilnya mengejutkan. Tidak ada satu pun prajurit yang mampu menandingi kemampuan Sabaruddin.

Meski kagum, sang adipati justru semakin curiga. Ia kemudian memutuskan membawa pemuda tersebut ke Keraton Mataram untuk dilaporkan langsung kepada raja.

Kembali ke Keraton Mataram

Setibanya di Keraton Mataram, Sabaruddin dihadapkan kepada Susuhunan Amangkurat I. Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa ia memang benar putra Bekel Sutawijaya, seorang pejabat yang setia kepada kerajaan.

Setelah memastikan identitasnya, Sultan Mataram justru melihat potensi besar dalam diri Sabaruddin. Ia kemudian diperintahkan menjadi prajurit bergodo jajar (tamtama) Keraton Mataram.

Sejak saat itu, Sabaruddin kembali menetap di lingkungan kerajaan dan memulai karier militernya.

Pernikahan dan Perjalanan Hidup

Dalam perjalanan hidupnya, Sabaruddin sempat menikah dengan Endang Sulastri, putri bungsu Kyai Jumirin. Namun pernikahan itu tidak berlangsung lama karena sang istri wafat saat melahirkan anak ketiga mereka.

Beberapa waktu kemudian, ia menikah kembali dengan Roro Inten, putri Tumenggung Kertinegara, Adipati Sruni.

Pernikahan ini memiliki cerita tersendiri. Sebab sebelumnya Sabaruddin sempat diutus oleh Keraton Mataram untuk membantu merebut kembali Pusaka Kyai Jabardas, pusaka penting kerajaan yang dikuasai oleh Adipati Sruni.

Melalui kecerdikan dan strategi diplomasi yang melibatkan hubungan keluarga, konflik besar antara Kadipaten Sruni dan Mataram dapat dihindari.

Jejak Sejarah yang Masih Dikenang

Seiring perjalanan waktu, Mukhammad Sabaruddin kemudian dikenal dengan gelar R.Ng. Kramaleksana, seorang tokoh yang memiliki peran dalam pemerintahan Mataram sekaligus memberikan pengaruh bagi wilayah Kebumen dan sekitarnya.

Bagi masyarakat Desa Selang, kisah hidupnya bukan sekadar legenda masa lalu. Nilai keberanian, kecerdikan, serta kebijaksanaan yang dimiliki tokoh ini masih dikenang hingga sekarang.

Pengabadian namanya sebagai Jalan Kramaleksana menjadi bukti bahwa jejak sejarahnya tetap hidup dalam ingatan masyarakat hingga hari ini.

Sumber Website Kelurahan Selang


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.