SEJARAH

Jejak Sejarah dan Tradisi Desa Wonosari Sadang: Dari Pusat Hutan hingga Desa Kaya Budaya

624
×

Jejak Sejarah dan Tradisi Desa Wonosari Sadang: Dari Pusat Hutan hingga Desa Kaya Budaya

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Wonosari di Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang yang berpadu dengan tradisi dan kepercayaan masyarakat yang masih lestari hingga kini. Nama Wonosari sendiri berasal dari dua kata, yaitu wono yang berarti hutan dan sari yang berarti pusat atau inti. Berdasarkan makna tersebut, Wonosari dahulu diyakini sebagai pusat atau inti hutan yang berada di wilayah Sadang.

Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, sejarah Desa Wonosari sudah ada sejak masa para wali. Pada masa awal berdirinya desa, disebutkan terdapat seorang lurah pertama yang dikenal dengan nama Mbah Dongkol. Makamnya berada berdampingan dengan makam tokoh lain yang dihormati masyarakat, yakni Mbah Kuwu, di kawasan pemakaman bersejarah yang dikenal dengan Makam Sirangkok.

Makam Sirangkok hingga kini masih menjadi tempat ziarah bagi warga maupun pengunjung dari luar daerah. Masyarakat setempat meyakini bahwa Mbah Kuwu merupakan tokoh yang memiliki derajat tinggi pada zamannya, dikenal gagah perkasa serta memiliki karomah. Bahkan berkembang cerita di tengah masyarakat bahwa seseorang yang berniat mencalonkan diri sebagai kepala desa seringkali mengaku “ditemui” Mbah Kuwu dalam mimpi. Kepercayaan tersebut masih dipercaya sebagian warga hingga sekarang.

Selain sejarah tokoh, beberapa wilayah dusun di Desa Wonosari juga memiliki kisah asal-usul tersendiri. Salah satunya adalah Dukuh Kalimengger. Nama Kalimengger berasal dari istilah ngili minggir, yang berarti berpindah atau mengungsi ke tempat yang lebih aman. Konon, pada masa penjajahan Jepang, wilayah ini menjadi tempat pengungsian warga Sadang untuk menghindari tentara Jepang.

Sementara itu di Dukuh Kedunglegok, terdapat sebuah bukit yang dikenal dengan sebutan Pertapan. Menurut cerita turun-temurun, bukit tersebut dahulu menjadi tempat bertapa seorang Bupati dari Banjarnegara bernama Raden Sumitro. Masyarakat setempat bahkan meyakini keberadaan seekor anjing yang konon merupakan hewan peliharaan yang menemani sang bupati saat bertapa di tempat tersebut.

Desa Luas dengan Tiga Dusun

Secara geografis, Desa Wonosari merupakan salah satu dari tujuh desa di Kecamatan Sadang. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 582,4 hektare dan berada pada ketinggian kurang lebih 1.037 meter di atas permukaan laut. Wilayahnya berbatasan dengan Desa Seboro di sebelah barat, Desa Cangkring di sebelah timur, Desa Sadangkulon di sebelah utara, serta Desa Wadasmalang di sebelah selatan.

Desa Wonosari terdiri dari tiga dusun, yaitu Dusun Kedunglegok, Dusun Wonosari, dan Dusun Kalimengger yang terbagi dalam 6 RW dan 21 RT. Sebagian besar lahan desa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, dengan luas sawah sekitar 174 hektare dan lahan kering sekitar 168 hektare.

Dusun Kedunglegok yang berada di bagian barat desa menjadi wilayah dataran paling rendah karena berada di sepanjang aliran Sungai Lokulo. Wilayah ini juga dikenal dengan kesenian religi Jam Janeng yang masih dilestarikan secara turun-temurun.

Sementara itu, Dusun Wonosari merupakan wilayah paling luas yang sebagian besar berupa kawasan perbukitan. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani dan peternak. Di dusun ini juga berkembang kesenian tradisional Ebleg atau Kuda Kepang, yang sering dipentaskan dalam berbagai acara seperti hajatan, peringatan Hari Kemerdekaan, hingga penyambutan tamu.

Di sisi lain, Dusun Kalimengger yang berada di bagian timur desa dikenal sebagai pusat pendidikan agama karena terdapat Pondok Pesantren Attaujieh Al Hikmah, yang menjadi salah satu pondok pesantren terbesar di Kecamatan Sadang. Selain itu, kesenian wayang kulit juga masih aktif dilestarikan oleh masyarakat setempat, khususnya saat acara ruwat bumi yang digelar setiap tahun.

Tradisi dan Budaya yang Tetap Hidup

Selain sejarah dan cerita rakyat, Desa Wonosari juga dikenal memiliki berbagai tradisi budaya yang masih dijaga hingga sekarang.

Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah Merdi Bumi, yang biasanya dilaksanakan pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa keselamatan bagi desa. Rangkaian acaranya meliputi pembersihan makam leluhur, slametan bersama, hingga penyembelihan kambing kendit yang kemudian dimasak dan dibagikan kepada masyarakat.

Selain itu terdapat pula kesenian Jam Janeng, yaitu seni musik islami yang menggunakan alat musik seperti kendang, gong, kempul, kemeng, dan kentung, dengan lantunan syair religius. Kesenian ini kerap ditampilkan dalam acara pernikahan, khitanan, hingga peringatan hari besar Islam.

Tradisi Kuda Lumping atau Ebleg juga menjadi warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat. Di Desa Wonosari sendiri terdapat beberapa kelompok kesenian, di antaranya Manunggal Sari, Bhinneka Tunggal Ika, dan Restu Budoyo Sido Dadi.

Selain itu, budaya ziarah kubur di Makam Sirangkok tetap menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat. Banyak warga maupun peziarah dari luar desa yang datang untuk berdoa dan mengenang jasa para tokoh leluhur.

Dengan perpaduan antara sejarah, legenda, serta tradisi budaya yang masih dijaga hingga kini, Desa Wonosari tidak hanya menjadi wilayah pertanian di lereng perbukitan Sadang, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakatnya.

Sumber; website desa wonosari


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.