KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Grenggeng, yang terletak di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang yang tidak hanya berkaitan dengan pembentukan wilayah administratif, tetapi juga erat dengan jejak perjuangan, spiritualitas, dan kearifan lokal masyarakatnya.
Awal Pembentukan Desa Grenggeng
Sejarah mencatat, pada tahun 1924 enam kepala desa di wilayah sekitar Kemit menggelar pertemuan penting. Pertemuan tersebut bertujuan membahas keberlangsungan desa di tengah kuatnya tekanan pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Enam desa yang terlibat antara lain Kemit Udanegaran, Kemit Keputihan, Rowokawuk Udanegaran, Setana Kunci, Jrabang Keputihan, dan Bodeh. Para tokoh desa sepakat mengajukan pembentukan desa baru kepada pemerintah kolonial.
Usulan tersebut akhirnya disetujui berdasarkan regulasi Inlandsche Gemeente Ordonnantie yang tertuang dalam Staatsblad 1906 No. 83 beserta perubahan-perubahannya. Secara resmi, Desa Grenggeng berdiri pada 16 Agustus 1924.
Pemilihan kepala desa pertama dilakukan dengan sistem tradisional “dodokan”, yang kemudian menetapkan R. Kartowiardjo sebagai kepala desa pertama.
Asal-usul Nama “Grenggeng”
Menariknya, nama “Grenggeng” tidak berasal dari salah satu desa pendiri. Nama ini justru diambil dari sebuah gunung di wilayah Setana Kunci yang kini dikenal sebagai Gunung Grenggeng.
Nama tersebut berkaitan erat dengan kisah spiritual seorang tokoh ulama bernama Syeh Baribin, yang diyakini sebagai putra Prabu Brawijaya V. Ia dikenal sebagai penyebar Islam yang pernah bermukim di Gunung Wulan.
Legenda masyarakat menyebutkan, setelah wafatnya Syeh Baribin, terdengar suara dzikir bergemuruh atau “gumrenggeng” dari kawasan gunung tersebut. Sejak saat itu, Gunung Wulan dikenal dengan nama Gunung Grenggeng, dan makam beliau menjadi salah satu lokasi ziarah hingga kini.
Kaitan dengan Sejarah Besar Jawa
Wilayah Grenggeng dan sekitarnya juga tidak lepas dari dinamika sejarah Jawa. Kawasan ini pernah menjadi bagian dari Kabupaten Karanganyar lama, yang dikenal sebagai basis perlawanan terhadap Belanda sejak masa Perang Diponegoro.
Bahkan, tokoh penting seperti Raden Adipati Arya Tirtokoesoemo disebut sebagai bagian dari sejarah kepemimpinan di wilayah tersebut.
Perkembangan Kepemimpinan Desa
Sejak berdiri, Desa Grenggeng mengalami berbagai fase kepemimpinan:
- Era Kolonial Belanda
Dipimpin oleh R. Kartowiardjo hingga 1936, dilanjutkan Muhammad Djudi hingga 1942.
- Masa Pendudukan Jepang
Kepemimpinan dipegang Prawiro Diharjo, dengan sistem pemerintahan yang berubah drastis, termasuk praktik kerja paksa (romusha).
- Era Kemerdekaan
Medjowijono menjadi kepala desa pertama hasil pemilihan tanpa campur tangan penjajah pada 1946, dengan masa jabatan panjang hingga 1985.
- Era Modern
Kepemimpinan desa terus berlanjut hingga saat ini, dengan Eri Listiawan, S.Pd.I menjabat sejak 2019.
Potensi Wisata dan Nilai Historis
Pemilihan nama Grenggeng terbukti visioner. Kawasan ini kini dikenal memiliki potensi wisata religi, khususnya di kompleks makam Syeh Baribin yang rutin dikunjungi peziarah, termasuk utusan dari Keraton Yogyakarta.
Selain itu, wilayah ini juga pernah menjadi lokasi strategis dalam perjuangan Pangeran Diponegoro bersama pasukannya dalam melawan penjajah Belanda.
Sejarah Desa Grenggeng menjadi bukti bahwa sebuah wilayah tidak hanya dibangun dari aspek administratif, tetapi juga dari nilai perjuangan, spiritualitas, dan kearifan para pendahulunya. Nama “Grenggeng” yang lahir dari kisah dzikir dan perjuangan kini justru menjadi identitas kuat yang dikenal hingga hari ini.
Sumber: Website resmi Desa Grenggeng
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















