KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tambaharjo, yang terletak di Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang unik. Meskipun dokumen resmi mengenai pembentukannya belum pernah ditemukan, cerita turun-temurun menyebutkan bahwa desa ini terbentuk pada zaman Mataram.
Awalnya, Desa Tambaharjo merupakan gabungan dari dua kelurahan, yakni Karangduwur dan Bugel. Kelurahan Karangduwur terdiri dari Karangduwur, Pabrit, dan Patut, sementara Kelurahan Bugel mencakup Bugel dan Cangkringan. Babat alas Kelurahan Karangduwur dilakukan oleh Mbah Surakarsa, sedangkan Kelurahan Bugel dibabat oleh Mbah Tamenggala dan Mbah Surawana, yang merupakan prajurit Pangeran Diponegoro.
Kepemimpinan awal Desa Tambaharjo diwarnai oleh para lurah, antara lain Nuryamenawi, H. Doelah, Mad Yamin, dan Marta Sentana dari Karangduwur. Sementara Bugel dipimpin oleh Dipadiwangsa dan Dipadiwirya. Pada masa itu, kehidupan masyarakat masih sederhana karena banyak lahan rawa dan pertanian dilakukan secara tradisional.
Tahun 1921 menjadi titik penting bagi Desa Tambaharjo. Kedua kelurahan digabung melalui proses yang disebut blengketan, dengan nama “Tambaharjo” yang berarti “lebih makmur”, harapan dari penggabungan tersebut.
Setelah Indonesia merdeka, pemilihan kepala desa pertama menghasilkan Kartosupono sebagai Kepala Desa. Peremajaan kepemimpinan dilanjutkan dengan Tasimun (1988–1998), Yahyo (1998–2006), Drs. Mahdi (2007–2013), dan Akhmadi yang memimpin dua periode sejak 2013 hingga 2025.
Sejarah Desa Tambaharjo menggambarkan perjalanan panjang dari masa penjajahan hingga era modern, serta usaha masyarakat untuk mewujudkan kehidupan yang lebih makmur.
Sumber: website resmi Desa Tambaharjo
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















