KEBUMEN, Kebumen24.com – Asal-usul berdirinya Desa Merden, Kecamatan Padureso, Kabupaten Kebumen, hingga kini masih menyimpan misteri. Tidak ditemukan dokumen tertulis, naskah kuno, maupun catatan sejarah yang secara pasti menjelaskan kapan dan bagaimana desa tersebut pertama kali berdiri.
Minimnya sumber tertulis membuat sejarah awal Desa Merden lebih banyak dituturkan secara lisan oleh para sesepuh desa dari generasi ke generasi. Dari cerita yang berhasil dihimpun, nama “Merden” diyakini memiliki makna yang berkaitan dengan kondisi geografis wilayah tersebut.
Menurut penuturan para tokoh sepuh desa, kata Merden berasal dari dua kata, yakni “Redi” dan “Den”. “Redi” dalam bahasa Jawa merujuk pada gunung atau bukit, sementara “Den” merupakan panggilan kehormatan yang digunakan untuk menyapa seorang bangsawan.
Dikisahkan, pada masa lampau wilayah yang kini menjadi Desa Merden berada di antara dua bukit yang dilalui aliran sungai. Suatu ketika, seorang tokoh sakti dari Kerajaan Mataram Kuno melintas di wilayah tersebut dan bertanya kepada penduduk setempat, “Saking pundi, Pak?” atau “Dari mana, Pak?”.
Penduduk menjawab bahwa mereka berasal dari Redi atau gunung. Karena penanya berasal dari kalangan bangsawan, masyarakat menyapanya dengan panggilan “Den”. Dari percakapan itulah kemudian muncul sebutan Redi-Den yang lambat laun berubah menjadi Merden.
Awalnya Terdiri dari Tiga Desa
Pada masa awal, wilayah yang kini menjadi Desa Merden sebenarnya terdiri dari tiga desa kecil yang berdiri sendiri, yaitu Desa Mranti, Desa Merden, dan Desa Jeblogan. Ketiganya memiliki batas wilayah yang jelas serta pemerintahan masing-masing.
Keberadaan tiga desa tersebut juga diperkuat dengan ditemukannya makam para lurah pertama di masing-masing wilayah.
Di wilayah Mranti, terdapat makam Mbah Rosogati yang dikenal sebagai lurah pertama. Sementara di wilayah Merden terdapat makam Mbah Anggarasa, dan di Jeblogan terdapat makam Mbah Udo Pati.
Dalam perkembangannya, ketiga desa kecil tersebut kemudian bergabung menjadi satu desa besar. Meski tidak diketahui secara pasti kapan dan apa alasan penggabungan tersebut, masyarakat sepakat menggunakan nama Desa Merden sebagai identitas bersama.
Nama tersebut dipilih karena letaknya berada di tengah-tengah antara wilayah Mranti dan Jeblogan. Setelah penggabungan itu, nama Mranti dan Jeblogan tetap dipertahankan sebagai nama pedukuhan atau dusun, sedangkan wilayah Desa Merden lama kini dikenal sebagai Dukuh Krajan.
Catatan Peristiwa Penting di Desa Merden
Seiring perjalanan waktu, Desa Merden juga mengalami berbagai peristiwa penting, baik yang bersifat sosial maupun bencana alam.
Pada tahun 1943, wilayah ini pernah mengalami masa sulit berupa kelaparan dan wabah penyakit kulit, yang terjadi pada masa penjajahan Belanda.
Kemudian pada 1950–1951, Desa Merden mulai terbentuk secara administratif dengan kepemimpinan lurah pertama Kyai M. Syamhudi. Pada masa itu juga terjadi peristiwa pemberontakan AOI serta dampak hujan abu dari letusan Gunung Galunggung.
Selanjutnya pada 1953, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Ky. Ngabdul Kadir sebagai kepala desa.
Pada 1965, situasi nasional turut memengaruhi kehidupan masyarakat desa dengan adanya peristiwa G30S/PKI.
Peristiwa besar lainnya terjadi pada 1978, ketika banjir besar melanda wilayah Jeblogan dan Krajan, menyebabkan banyak rumah serta ternak warga hanyut terbawa arus.
Di sektor pembangunan, tahun 1983 menjadi tonggak penting dengan dimulainya proyek irigasi Wadaslintang, yang berdampak pada pengembangan pertanian di wilayah tersebut.
Dalam bidang pemerintahan desa, Suprapto terpilih sebagai Kepala Desa Merden pada 1990 dan kembali memenangkan pemilihan kepala desa pada beberapa periode berikutnya, termasuk 2013 dan 2019.
Desa ini juga pernah menghadapi sejumlah wabah penyakit, di antaranya malaria pada 2002–2003, flu burung pada 2008, serta chikungunya pada 2009. Selain itu, warga juga sempat mengalami gangguan serangan babi hutan di wilayah Ngangkruk dan Mranti pada tahun 2007.
Meski berbagai peristiwa pernah terjadi, masyarakat Desa Merden tetap menjaga semangat kebersamaan dan gotong royong dalam membangun desa hingga sekarang.
Hingga kini, kisah asal-usul Desa Merden masih terus menjadi bahan cerita yang hidup di tengah masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari kekayaan sejarah lokal yang patut dijaga dan dilestarikan.
Sumber: Website Desa Merden, Kecamatan Padureso, Kabupaten Kebumen.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















