KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik tenangnya suasana pedesaan, Desa Kalijering, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang tentang perjuangan masyarakatnya membangun kemandirian wilayah. Sejarah desa ini tidak lepas dari legenda Kademangan Puying, wilayah yang menjadi cikal bakal lahirnya Desa Kalijering.
Pada masa lampau, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Kalijering merupakan sebuah kademangan bernama Puying yang masih berada di bawah pemerintahan Desa Kalijering saat itu. Kademangan Puying terletak di bagian paling barat wilayah tersebut dan dipisahkan oleh sebuah sungai besar bernama Sungai Lesung.
Keberadaan sungai ini menjadi kendala utama bagi masyarakat Puying untuk menjalin komunikasi maupun mengurus pemerintahan ke pusat desa. Akses yang sulit membuat warga merasa terhambat dalam menjalankan berbagai urusan administrasi dan kehidupan sosial.
Keinginan untuk membentuk pemerintahan sendiri pun muncul dari masyarakat. Warga Kademangan Puying sejak lama berharap dapat memisahkan diri agar lebih mudah mengatur wilayah dan kehidupan masyarakatnya.
Setelah melalui berbagai desakan dari warga, akhirnya penguasa Desa Kalijering pada masa itu memberikan izin kepada masyarakat Puying untuk membentuk desa sendiri. Momentum ini menjadi titik awal lahirnya pemerintahan desa yang baru.
Atas gagasan Demang Puying, wilayah tersebut kemudian resmi menjadi sebuah desa dengan dirinya sebagai kepala desa pertama. Desa baru tersebut diberi nama Kalijering.
Nama Kalijering sendiri memiliki makna yang unik. Penamaan itu terinspirasi dari kondisi alam di sekitar sungai yang dipenuhi pohon jering atau jengkol yang tumbuh subur di sepanjang tepian sungai. Dari situlah nama Kalijering lahir dan terus digunakan hingga sekarang.
Perjalanan Sejarah Desa
Dalam perjalanan waktunya, Desa Kalijering mengalami berbagai peristiwa penting, baik yang membawa kemajuan maupun tantangan bagi masyarakat.
Pada tahun 1948, wilayah ini sempat mengalami situasi genting ketika terjadi pengeboman oleh tentara Belanda yang menargetkan lokasi persembunyian Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di desa tersebut.
Memasuki tahun 1950–1951, masyarakat Kalijering melaksanakan pemilihan kepala desa pertama setelah Indonesia merdeka. Dalam pemilihan tersebut, Hadi Prayitno terpilih sebagai kepala desa.
Periode berikutnya juga diwarnai berbagai dinamika nasional. Pada tahun 1966, misalnya, terjadi peralihan kepemimpinan nasional dari Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto, yang turut mempengaruhi kondisi sosial politik di berbagai daerah, termasuk Kalijering.
Di masa itu pula masyarakat sempat menghadapi masa sulit seperti bencana kelaparan serta situasi politik akibat peristiwa G30S/PKI.
Pembangunan dan Perkembangan Desa
Memasuki era pembangunan, sejumlah program mulai masuk ke Desa Kalijering. Pada tahun 1979, program Padat Karya mulai dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kemudian pada 1990, dilakukan pemilihan kepala desa pada masa Orde Baru dan Saniyo terpilih sebagai lurah. Pada periode ini pula dibangun jalan penghubung Kalijering–Padureso melalui program ABRI Masuk Desa (AMD).
Namun desa juga menghadapi tantangan kesehatan, seperti serangan penyakit cacar yang sempat melanda warga.
Pada tahun 1997, pembangunan Masjid Al-Khayun menjadi salah satu tonggak penting bagi kehidupan keagamaan masyarakat. Di tahun yang sama, masuk pula program dari organisasi internasional Plan International yang membantu pembangunan sarana air bersih, gedung TK, bantuan untuk anak kurang mampu, serta pembangunan MCK umum.
Setelah masa reformasi, roda pemerintahan desa terus berjalan dengan beberapa kali pergantian kepemimpinan.
Pada 1998, Kodol Beni Santoso terpilih sebagai kepala desa menggantikan Saniyo.
Selanjutnya pada periode 2009–2014, kepemimpinan desa dipegang oleh Kesod Kuswoyo. Pada masa ini Desa Kalijering mendapatkan program PNPM Mandiri Perdesaan yang mendorong pembangunan Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) serta gedung PAUD.
Tahun 2010, pemerintah juga melakukan pengukuran tanah melalui program SISMIOP sebagai bagian dari pendataan dan administrasi pertanahan desa.
Pada 2013, pemilihan kepala desa kembali digelar dan Sadiyo terpilih sebagai pemimpin desa. Kemudian pada 2019, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Suyanto setelah memenangkan pemilihan kepala desa.
Dari masa ke masa, perjalanan Desa Kalijering menunjukkan bagaimana sebuah wilayah yang lahir dari keterbatasan akses mampu berkembang menjadi desa yang terus membangun, menjaga sejarahnya, serta memperkuat kehidupan sosial masyarakatnya.
Sumber: Website Desa Kalijering Padureso
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















