SEJARAH

Asal-usul Desa Candimulyo: Antara Jejak Dakwah Ulama Yaman dan Kisah Candi yang Terkubur

566
×

Asal-usul Desa Candimulyo: Antara Jejak Dakwah Ulama Yaman dan Kisah Candi yang Terkubur

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Nama Desa Candimulyo, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, kerap menimbulkan pertanyaan bagi banyak orang. Mengapa desa tersebut dinamakan Candimulyo? Apakah benar di wilayah itu pernah berdiri sebuah candi?

Pertanyaan tersebut ternyata memiliki cerita sejarah panjang yang berkembang di masyarakat. Nama Candimulyo sendiri berasal dari dua kata, yakni candi dan mulyo. Secara bahasa, candi berarti tempat, sedangkan mulyo memiliki arti mulia, subur, makmur, dan sejahtera.

Dengan demikian, secara makna, Candimulyo dapat diartikan sebagai tempat yang subur, makmur, dan masyarakatnya hidup sejahtera.

Secara administratif, Desa Candimulyo terdiri dari tiga pedukuhan, yakni Dukuh Tlimbeng (RW 1), Dukuh Krajan (RW 2), dan Dukuh Pejaten (RW 3).

Jejak Dakwah Ulama dari Yaman

Sejarah Desa Candimulyo juga tidak dapat dilepaskan dari perjalanan dakwah seorang ulama besar dari Yaman, yakni Sayid Muhammad Ishom Al Hasani atau yang lebih dikenal dengan Syekh As Sayid Abdul Kahfi Al Hasani, tokoh yang juga berkaitan erat dengan sejarah Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu.

Menurut berbagai catatan sejarah, Syekh Abdul Kahfi datang ke Pulau Jawa sekitar abad ke-15 Masehi untuk menyebarkan ajaran Islam. Beliau pertama kali mendarat di Pantai Karangbolong, Kecamatan Buayan, Kebumen.

Dalam perjalanan dakwahnya, Syekh Abdul Kahfi berhasil mengislamkan seorang tokoh Hindu bernama Resi Darapundi di wilayah Karanganyar. Setelah peristiwa tersebut, daerah tersebut kemudian dikenal dengan nama Desa Candi.

Perjalanan dakwah beliau kemudian berlanjut ke arah timur hingga sampai ke wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Candimulyo.

Diduga kuat, wilayah ini sejak lama telah dihuni masyarakat. Hal tersebut diperkuat dengan ditemukannya situs lingga dan yoni serta bongkahan batu besar di Desa Sumberadi, yang lokasinya tidak jauh dari Candimulyo. Temuan tersebut menunjukkan bahwa wilayah tersebut kemungkinan sudah dihuni sejak abad ke-8 Masehi dan pernah menjadi bagian dari peradaban Hindu.

Pertemuan dengan Para Resi

Dalam perjalanan dakwahnya, Syekh Abdul Kahfi juga bertemu dengan beberapa tokoh spiritual Hindu di wilayah tersebut. Di antaranya adalah Resi Candra Tirta di Desa Candiwulan dan Resi Danu Tirta di wilayah yang kini menjadi Desa Candimulyo.

Melalui pendekatan dakwah yang bijaksana, Syekh Abdul Kahfi berhasil mengenalkan ajaran Islam kepada Resi Danu Tirta serta masyarakat sekitar. Akhirnya, Resi Danu Tirta beserta pengikutnya memeluk agama Islam.

Setelah peristiwa tersebut, wilayah itu kemudian dinamai Candimulyo, sementara daerah di sebelah baratnya diberi nama Candiwulan.

Hingga kini, belum diketahui secara pasti alasan penggunaan kata candi pada kedua nama wilayah tersebut. Sebagian kalangan menduga hal itu berkaitan dengan keberadaan bangunan candi di masa lampau, sementara yang lain menilai sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya Hindu yang sebelumnya berkembang di daerah tersebut.

Kisah Candi yang Terkubur

Selain catatan sejarah yang berkaitan dengan dakwah Islam, masyarakat juga mengenal cerita turun-temurun yang bersifat legenda.

Dalam cerita tersebut disebutkan bahwa di wilayah Candimulyo dahulu terdapat sebuah candi yang kini telah terkubur oleh tanah. Sebagian masyarakat bahkan percaya bahwa candi tersebut sengaja ditimbun oleh para wali sebagai simbol berakhirnya pengaruh ajaran Hindu dan animisme di wilayah tersebut.

Konon, candi tersebut tidak terlihat utuh karena tertutup tanah atau bahkan karena faktor gaib. Hanya sebagian kecil struktur yang tampak dan tidak menyerupai bentuk candi pada umumnya.

Menurut cerita rakyat, candi tersebut juga diyakini memiliki penjaga gaib. Siapa pun yang ingin membuka atau menggali candi itu harus mampu mengalahkan penjaganya.

Dalam kisah legenda tersebut, diceritakan bahwa Syekh Abdul Kahfi pernah berniat membuka candi tersebut. Namun niat itu ditentang oleh Resi Danu Tirta, hingga akhirnya terjadi pertarungan antara keduanya. Pertarungan tersebut dimenangkan oleh Syekh Abdul Kahfi.

Setelah dialog panjang mengenai ajaran Islam, Resi Danu Tirta akhirnya memeluk Islam. Meski demikian, candi tersebut tetap tidak dibuka dan akhirnya dibiarkan tertutup hingga sekarang.

Reruntuhan di Dukuh Tlimbeng

Sebagian masyarakat meyakini bahwa sisa bangunan candi tersebut berada di Dukuh Tlimbeng. Saat ini, yang tersisa hanyalah gundukan tanah dan beberapa batu bata, tanpa bentuk struktur candi yang jelas.

Hal yang menarik, jika benar itu sebuah candi, materialnya justru berupa batu bata, berbeda dengan banyak candi di Jawa yang umumnya tersusun dari batu andesit yang dipahat.

Namun hingga saat ini belum ada penelitian arkeologis resmi yang dapat memastikan apakah gundukan tersebut benar merupakan sisa bangunan candi atau bukan.

Sejarah yang Terus Hidup

Di tengah berbagai versi cerita yang berkembang, masyarakat Candimulyo tetap meyakini bahwa nama desa mereka memiliki kaitan erat dengan keberadaan candi di masa lampau serta perjalanan dakwah Islam di wilayah Kebumen.

Kisah perjalanan Syekh As Sayid Abdul Kahfi Al Hasani yang mengislamkan Resi Danu Tirta sendiri tercatat dalam berbagai kitab, manuskrip, dan dokumen sejarah yang tersimpan di Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu.

Dari sinilah sejarah Desa Candimulyo terus hidup, menjadi bagian dari warisan budaya dan spiritual masyarakat Kebumen hingga sekarang.

Sumber: berbagai sumber dan arsip sejarah Desa Candimulyo.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.