KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Jemur, yang terletak di Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang sarat nilai budaya dan religius. Berdasarkan cerita para sesepuh dan pelaku sejarah, nama “Jemur” berasal dari tokoh yang merintis atau babat tanah desa ini. Tokoh tersebut dikenal sebagai seorang tokoh Islam, sehingga wajar jika hingga kini seluruh warga Desa Jemur menganut agama Islam.
Bukti sejarah yang menegaskan hal ini dapat dilihat dari keberadaan Stana Bental Jemur, sebuah makam atau petilasan yang terletak di Dukuh Wanasepuh RT 003 RW 001. Tempat ini masih ramai dikunjungi peziarah, bahkan sebagian besar berasal dari luar Kabupaten Kebumen maupun luar Jawa Tengah.
Sejarah mencatat bahwa Desa Jemur sudah ada sejak abad ke-17, meski kemungkinan keberadaannya lebih lama. Menariknya, Desa Jemur memiliki “nama kembar” dengan desa lain di Kecamatan Kebumen. Dahulu, kedua wilayah ini merupakan satu kesatuan, namun terpisah karena faktor alam, salah satunya pemisahan oleh Sungai Lukulo yang kini menjadi sungai terbesar di Kabupaten Kebumen.
Kepemimpinan Desa dari Masa ke Masa
Perjalanan kepemimpinan desa ini tercatat dengan baik melalui daftar kepala desa dari generasi ke generasi:
- Mbah Sinduluyu (1804 – 1814)
- Mbah Sindupraja (1814 – 1819)
- Mbah Sindupati (1819 – 1837)
- Mbah Sindureja (1837 – 1848)
- Mbah Nalajaya (1848 – 1863)
- Mbah Nyai Kertaleksana / Nyai Sakem (1863 – 1893)
- Mbah San Ngabdulloh (1893 – 1933)
- Mbah San Ikhwan (1933 – 1937)
- Mbah Mohamad Iksan (1937 – 1962)
- Mbah H. Matori (1962 – 1989)
- Drs. Purbani (1989 – 1998)
- Paryoto Budi Yulianto (1998 – 2007)
- Warisno (2007 – 2013 dan 2013 – 2019)
- Tunjangsari (2019 – sekarang)
Seiring waktu, desa ini mengalami perkembangan dari masa sebelum kemerdekaan hingga era modern, baik dalam infrastruktur maupun pemberdayaan masyarakat. Desa Jemur awalnya terdiri dari beberapa pedukuhan: Dukuh Wanasepuh, Dukuh Lengkong, Dukuh Krajan, Dukuh Kedungsamak, dan Dukuh Kalidlingo. Pada 2004, Dukuh Wanasepuh mengalami pemekaran menjadi Dukuh Jatisawit, sehingga kini desa memiliki enam pedukuhan, enam RW, dan 26 RT dengan luas 298 hektare, terdiri dari perbukitan, sawah, dan ladang/tegalan di sisi barat Sungai Lukulo.
Adat Istiadat Desa Jemur
Sebagai desa yang berbasis Islam, adat istiadat Jemur selaras dengan ajaran agama dan kebiasaan masyarakat setempat. Beberapa tradisi penting di desa ini antara lain:
- Peristiwa Kelahiran:
- Mapati (hamil 4 bulan)
- Mitoni / Keba (hamil 7 bulan)
- Muputi (pemberian nama bayi)
- Peristiwa Remaja:
- Khataman Al-Qur’an
- Khitan bagi anak laki-laki
- Peristiwa Dewasa / Pernikahan:
- Lamaran / Mbesan
- Akad Nikah
- Peristiwa Kematian:
- Pemakaman secara Islam
- Yasinan/Tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, dan haul tahunan
- Sosial/Kebangsaan:
- Sambatan / gotong royong membangun atau memperbaiki rumah warga
- Gotong royong lingkungan
- Peringatan HUT Kemerdekaan RI
- Keagamaan:
- Peringatan Tahun Baru Hijriyah
- Maulid Nabi Muhammad SAW
- Peringatan Rojabiyah, Walimatus Sya’ban, dan peringatan khusus toriqoh
- Haul Syaikh Abdul Qodir Jailani
- Khataman lembaga pendidikan Madrasah Diniyah/TPQ
Sejarah dan adat istiadat Desa Jemur menunjukkan keterikatan yang erat antara nilai agama, budaya, dan kebersamaan sosial masyarakat. Meski informasi sejarah masih perlu digali lebih dalam karena banyak sesepuh yang telah meninggal, Desa Jemur tetap mempertahankan identitas religius dan tradisi yang telah berusia ratusan tahun.
Sumber: Desa Jemur – Kecamatan Pejagoan, Kebumen
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















