KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Pagebangan, yang terletak di Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang sarat nilai budaya, tradisi, dan peninggalan bersejarah. Dahulu dikenal dengan nama Desa Pagombangan, yang berarti tempat mensucikan atau membersihkan benda pusaka seperti keris, gamelan, dan benda-benda sakral lainnya.
Pusaka dan Situs Bersejarah
Seorang sesepuh pernah membawa keris untuk bertapa di salah satu lokasi di Desa Pagebangan. Setelah bertapa, keris tersebut ditinggalkan di lokasi yang kini dikenal sebagai Petilasan Pusaka Empu Sedah, tepatnya di Dukuh Sileok RT 01 RW 02, sebelah pasar. Masyarakat zaman sekarang sering mengira lokasi itu adalah makam Empu Sedah, padahal dulunya merupakan tempat mensucikan pusaka.
Selain itu, terdapat Makam Eyang Jalma (Ki Ketawijaya) di Dukuh Kedungpane RT 02 RW 02. Menurut sesepuh, Eyang Jalma adalah keturunan Mbah Kepadangan atau Untung Surapati. Pusaka peninggalannya seperti ikat kepala (udeng), kain jarit berlafadz Arab, dan keris kini disimpan di kediaman Bapak Sumodiharjo di Dukuh Sigembok RT 04 RW 01.
Desa Pagebangan juga memiliki peninggalan kolonial Belanda, seperti SDN Pagebangan, yang dibangun pada tahun 1918 dengan empat ruangan, serta sejumlah batu besar di lokasi persawahan Dukuh Asinan dan Dukuh Sigembok, dan sebuah gua kecil di sungai perbatasan Desa Clapar dan Pagebangan.
Tradisi Adat dan Sistem Kepercayaan
Desa Pagebangan masih memegang erat tradisi pertanian. Sebelum menanam padi hingga panen, masyarakat mengadakan slametan atau kenduren. Tradisi tolak bala (Kenduren Palakiyah) dilakukan oleh mereka yang merasakan firasat buruk, diikuti dengan ritual penyebaran nasi di atas genting untuk menangkis bencana.
Pembangunan bangunan di desa ini juga diiringi tradisi adat seperti Kenduren Wiwiti saat meletakkan batu pertama pondasi, dan Kenduren Mayu setelah pembangunan selesai. Penentuan waktu pembangunan dan pernikahan mengikuti kalender Jawa, dengan memperhatikan hari, tanggal, dan bulan sesuai itungan adat.
Sistem Sosial, Ekonomi, dan Pengetahuan Lokal
Masyarakat Pagebangan menerapkan gotong royong, baik dalam bertani, membangun, maupun menghadapi kematian. Ekonomi desa ini masih bergantung pada bertani, berladang, dan berdagang.
Dalam ilmu pengetahuan, masyarakat mengenal sistem pranoto mangsa, yakni pengetahuan tradisional terkait musim tanam dan panen padi, mulai dari Mangsa Kalmia hingga Mangsa Kasepuluh.
Teknologi dan Peralatan Hidup
Beberapa peralatan tradisional yang masih digunakan antara lain lesung untuk menumbuk beras atau singkong, jubleg, dan amben sebagai tempat istirahat dari bambu, serta meja, kursi, dan risban untuk aktivitas sehari-hari.
Desa Pagebangan menjadi contoh desa yang kaya akan warisan budaya, adat, dan sejarah yang patut dilestarikan, sekaligus menunjukkan bagaimana tradisi dan modernisasi bisa berjalan beriringan.
Sumber: Desa Pagebangan, Kecamatan Karanggayam
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















