SEJARAH

Cerita Tersembunyi Desa Wonorejo: Dari Gangguan Mistis hingga Tradisi Wagean

368
×

Cerita Tersembunyi Desa Wonorejo: Dari Gangguan Mistis hingga Tradisi Wagean

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Wonorejo, yang berada di wilayah Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang yang sarat nilai budaya dan kearifan lokal. Nama Wonorejo sendiri berasal dari dua kata, yakni wana yang berarti hutan dan reja yang berarti makmur, mencerminkan harapan akan kehidupan yang sejahtera di tengah alam yang asri.

Sejarah Desa Wonorejo tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Gunung Cemara. Pada masa lampau, puncak Gunung Cemara menjadi tempat berkumpulnya para penggede atau pemangku wilayah di sekitar Karanganyar. Mereka kerap mengadakan pertemuan di sebuah batu cadas yang datar dan cukup luas, sehingga mampu menampung banyak orang. Dari titik tersebut, wilayah sekitar seperti Gombong, Karanganyar, bahkan hingga Laut Selatan dapat terlihat dengan jelas.

Seiring berjalannya waktu, para penggede bersama masyarakat mulai membuka hutan di sekitar Gunung Cemara melalui kegiatan babad alas. Namun, proses tersebut tidak berjalan mulus. Warga sempat mengalami berbagai gangguan yang diyakini berasal dari penunggu wilayah tersebut, sehingga menimbulkan rasa takut dan keresahan.

Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan ruwatan yang melibatkan para penggede. Dalam prosesi tersebut, dipercaya bahwa para penunggu wilayah meminta agar masyarakat setiap tahunnya melaksanakan ritual khusus pada bulan Suro atau Muharram, tepatnya pada hari Kamis Wage. Ritual tersebut berupa penanaman kambing, di mana bagian-bagian tubuh kambing ditanam sebagai satu kesatuan dari kepala hingga ekor. Tradisi ini kemudian dikenal dengan sebutan Wagean, yang bertujuan agar kehidupan masyarakat menjadi tenteram dan makmur.

Setelah ritual tersebut dilaksanakan, gangguan yang sebelumnya terjadi berangsur hilang. Masyarakat pun dapat hidup dengan tenang dan sejahtera. Tradisi Wagean terus dilestarikan secara turun-temurun hingga saat ini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan kearifan lokal.

Nama Wanareja yang berarti “hutan yang makmur” kemudian mengalami perubahan menjadi Wonorejo seiring pengaruh budaya Mataram pada masa lalu.

Selain memiliki nilai sejarah, kawasan Gunung Cemara juga menyimpan jejak spiritual berupa petilasan yang berada di sebelah utara batu cadas tersebut. Petilasan ini diyakini pernah menjadi tempat singgah sejumlah tokoh penting di tanah Jawa, seperti Syech Baribin, Untung Surapati, hingga Pangeran Diponegoro saat melakukan perjalanan maupun perjuangan gerilya. Lokasi ini dipilih karena strategis, memiliki pandangan luas serta sumber mata air yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang. Petilasan tersebut telah direnovasi pada tahun 2018.

Pada masa sebelum tahun 1970-an, kawasan Gunung Cemara dipenuhi pohon cemara berukuran besar. Namun, sebagian besar pohon tersebut ditebang untuk kebutuhan masyarakat. Kini, upaya penghijauan kembali dilakukan guna mengembalikan kondisi alam seperti sedia kala.

Di sekitar puncak Gunung Cemara juga masih ditemukan berbagai pohon berusia ratusan tahun, seperti pohon duwet dan sawo kecik. Bahkan, terdapat beberapa jenis pohon langka yang belum teridentifikasi namanya, menambah kekayaan hayati kawasan tersebut.

Sejarah panjang dan tradisi yang masih lestari menjadikan Desa Wonorejo sebagai salah satu desa yang kaya akan nilai budaya, spiritualitas, serta kearifan lokal yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Sumber: Website Resmi Desa Wonorejo


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.