KEBUMEN, Kebumen24.com – Tradisi Sedekah Bumi atau Memetri Bumi di Desa Kaibon, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, ternyata memiliki akar sejarah panjang yang sarat nilai budaya dan spiritual. Tradisi ini tak sekadar ritual tahunan, melainkan warisan leluhur yang terus dilestarikan hingga kini.
Berdasarkan kisah turun-temurun, tradisi ini berawal dari legenda seorang putri cantik bernama Dewi Rarayana yang hidup pada abad X di wilayah Buleleng, Bali. Dalam sebuah pesta adat besar yang dihadiri berbagai kalangan, termasuk tamu dari luar daerah, hadir seorang bangsawan dari Majalengka bernama Patak Warak.
Terpesona oleh kecantikan Dewi Rarayana, Patak Warak nekat menculik sang putri. Peristiwa ini membuat Ki Demang Buleleng murka dan mengadakan sayembara untuk menemukan putrinya. Sayembara tersebut kemudian diikuti oleh Makdum Ibrahim, putra Adipati Cirebon.
Perjalanan Makdum Ibrahim membawanya ke Majalengka hingga akhirnya terjadi pertempuran sengit dengan Patak Warak. Dalam pertarungan tersebut, Makdum Ibrahim berhasil menang dan membawa Dewi Rarayana kembali.
Namun, perjalanan panjang menuju Buleleng membuat keduanya singgah di wilayah Ambal, tepatnya di Pedukuhan Kebonan yang kini dikenal sebagai Dukuh Madugawe, Desa Kaibon. Di tempat inilah Dewi Rarayana mulai menetap sementara dan berbaur dengan masyarakat setempat.
Selama tinggal di Madugawe, Dewi Rarayana mengajarkan masyarakat bercocok tanam hingga menghasilkan panen melimpah. Ia juga memperkenalkan pengolahan madu pahit menjadi ramuan yang bermanfaat bagi kesehatan. Karena kondisi cuaca yang panas, kulitnya menghitam, hingga ia dikenal dengan nama Dewi Rara Ireng.
Sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan terhadap bumi sebagai sumber kehidupan, Dewi Rara Ireng berpesan agar masyarakat setiap tahun menggelar selamatan adat atau Memetri Bumi, sebagaimana tradisi di daerah asalnya.
Pesan tersebut hingga kini masih dijaga oleh masyarakat Desa Kaibon. Setiap bulan Sura atau Muharam, warga menggelar Sedekah Bumi dengan menyembelih dua ekor kerbau di dua lokasi petilasan yang dianggap keramat, yakni Petilasan Dewi Rarayana (Rara Ireng) dan Petilasan Eyang Joko Kastomo.
Daging hasil sembelihan kemudian dibagikan kepada seluruh warga desa, termasuk pemilik tanah dari luar desa. Rangkaian acara dilanjutkan dengan kenduri di lokasi petilasan serta pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di rumah Kepala Desa.
Tak hanya itu, tradisi Nyadran juga rutin dilaksanakan setiap tanggal 15 bulan Sya’ban di tiap dusun, dengan menyembelih kambing yang kemudian dibagikan kepada warga dan dilanjutkan dengan kenduri bersama.
Seiring berjalannya waktu, Dewi Rarayana dan Makdum Ibrahim akhirnya melanjutkan perjalanan kembali ke Buleleng. Namun, jejak sejarah dan pesan yang ditinggalkan tetap hidup dalam tradisi masyarakat Kaibon hingga sekarang.
Tokoh spiritual sekaligus sesepuh masyarakat, Pujiono, menjadi salah satu narasumber yang menuturkan sejarah ini. Kisah tersebut juga divisualisasikan dalam pagelaran wayang oleh Ki Dalang Samingun dalam lakon “Babad Urut Sewu: Dumadine Dukuh Madugawe”.
Dengan tetap dilestarikannya tradisi ini, masyarakat Desa Kaibon tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong, rasa syukur, dan keharmonisan dengan alam.
Sumber:
Website resmi Desa Kaibon
https://kaibon.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/129/338
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















