KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sidorejo di Kecamatan Ambal menyimpan kisah sejarah yang sarat makna tentang perjalanan hidup, persahabatan, dan semangat membangun kesejahteraan. Berawal dari kisah seorang bangsawan yang meninggalkan kemewahan, wilayah ini tumbuh menjadi desa dengan filosofi kehidupan yang kuat.
Dikisahkan, pada zaman dahulu hiduplah seorang bernama Tirtomenggolo, keturunan bangsawan dari Kasultanan Surakarta. Meski hidup di lingkungan keraton yang serba berkecukupan, Tirtomenggolo justru tidak menemukan ketenangan batin. Ia kemudian memutuskan meninggalkan istana dan mengembara ke arah barat wilayah kekuasaan Surakarta.
Perjalanan panjang selama hampir satu bulan mengantarkannya ke sebuah hutan yang masih asri dan belum berpenghuni. Di tempat itulah ia menemukan kedamaian yang selama ini dicari, hingga akhirnya memutuskan untuk menetap.
Namun, ujian datang ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama sepekan penuh. Banjir pun tak terelakkan. Melihat kondisi itu, Tirtomenggolo berinisiatif membuat tanggul di sekitar tempat tinggalnya. Upaya tersebut berhasil mengatasi banjir yang sebelumnya kerap melanda.
Sebagai bentuk penghormatan atas peristiwa tersebut, wilayah itu kemudian dinamakan Panggel, yang berasal dari kata “Anggel” yang berarti bendungan.
Kisah kepiawaian Tirtomenggolo dalam mengatasi banjir pun tersebar luas hingga terdengar oleh Mbah Mranggi, seorang kepala dukuh yang lebih dulu menetap di wilayah tersebut. Mbah Mranggi sebelumnya telah mendirikan perkampungan bernama Malang, yang diambil dari kondisi awal wilayah tersebut saat ditemukan—terdapat kayu besar yang melintang atau “malang-malang” di jalan.
Pertemuan antara Tirtomenggolo dan Mbah Mranggi menjadi awal dari persahabatan erat. Keduanya kemudian sepakat untuk menyatukan wilayah yang mereka kelola demi menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera.
Dari kesepakatan itulah lahir nama Sidorejo, yang memiliki makna filosofis mendalam. Kata “Sido” berarti jadi atau terlaksana, sedangkan “Rejo” berarti sejahtera. Nama ini menjadi simbol harapan dan doa agar wilayah tersebut senantiasa hidup dalam kemakmuran.
Hingga kini, Desa Sidorejo terus berkembang dengan tetap membawa nilai-nilai sejarah yang menjadi fondasi kehidupan masyarakatnya.
Sumber:https://sidorejo.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/122/101
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















