SEJARAH

Menelusuri Asal-Usul Karangglonggong Klirong: Jejak Perang Diponegoro, Dakwah Pesantren, hingga Gereja Tua Legendaris

311
×

Menelusuri Asal-Usul Karangglonggong Klirong: Jejak Perang Diponegoro, Dakwah Pesantren, hingga Gereja Tua Legendaris

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Nama Desa Karangglonggong di Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen menyimpan sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Di balik namanya yang unik, desa ini memiliki jejak sejarah yang berkaitan dengan masa setelah Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830), tradisi pesantren, hingga keberadaan gereja tua yang melegenda.

Asal-usul nama “Glonggong” sendiri sering kali disalahartikan. Banyak yang mengira kata tersebut berasal dari istilah gemolong. Namun secara bahasa, glonggong sebenarnya merujuk pada batang daun pepaya. Dalam pengertian lain, glonggong juga dapat diartikan sebagai sebuah wadah yang banyak mengandung udara.

Istilah ini kemudian dikaitkan dengan kondisi geografis wilayah tersebut pada masa lampau. Kampung Glonggong dahulu dikelilingi area persawahan yang sebelumnya berupa rawa-rawa. Topografi tanahnya yang lebih rendah membuat air mudah melimpah di wilayah ini, sehingga kemungkinan besar nama “Glonggong” lahir dari kondisi alam tersebut.

Jejak Perang Diponegoro

Sejarah mencatat, wilayah Glonggong diperkirakan mulai dibuka dan dihuni setelah berakhirnya Perang Diponegoro pada tahun 1830. Konon, permainan anak-anak prajurit Diponegoro menggunakan batang daun pepaya yang disebut glonggong sebagai pengganti pedang saat latihan perang-perangan.

Batang pepaya yang lentur itu menjadi simbol permainan sekaligus latihan bela diri sederhana bagi anak-anak para pejuang kala itu.

Perubahan Jalan dan Perpindahan Masjid

Awalnya, jalan utama yang membelah kampung Glonggong berada di sisi barat desa. Jejaknya masih dapat ditemukan pada sebuah gang di depan masjid yang ada sekarang.

Masjid yang berdiri saat ini dibangun pada tahun 1929, hasil pemindahan dari masjid lama yang dahulu berada di sebelah timur desa, tepatnya di utara lokasi SD Negeri Karangglonggong. Pemindahan tersebut terjadi karena proyek pembangunan dan pelebaran jalan utama pada masa kolonial Belanda.

Jalan tersebut diperkirakan dibangun antara tahun 1900 hingga 1920 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan membuat jalur lurus dari kota menuju wilayah pesisir selatan, tepatnya ke daerah Tanggul Angin.

Selain itu, pembangunan jalan tersebut juga berkaitan dengan keberadaan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Karangglonggong yang diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1880-an. Gereja ini menjadi salah satu bangunan bersejarah yang membuat nama Karangglonggong dikenal luas, bahkan hingga ke Yogyakarta.

Sosok Misterius Kyai Wulung

Dalam sejarah desa ini juga dikenal sosok Kyai Wulung. Nama tersebut diyakini bukan nama asli, melainkan sebutan. Identitas aslinya tidak diketahui secara pasti.

Namun dari simbol “wulung” yang identik dengan pakaian khas Sunan Kalijaga serta busana prajurit Pangeran Diponegoro, muncul dugaan bahwa Kyai Wulung merupakan salah satu komandan pasukan Diponegoro yang menetap di wilayah ini setelah perang berakhir.

Hal ini diperkuat dengan adanya makam yang menunjukkan bahwa ia memiliki keluarga dan keturunan.

Keturunan Kyai Wulung dikenal memiliki tradisi kuat dalam dunia pesantren. Generasi awal bahkan berjalan kaki dari Glonggong menuju berbagai pesantren di Jawa Timur melalui jalur selatan Jawa, melewati Yogyakarta, Solo, hingga Gunung Lawu.

Tradisi menimba ilmu di pesantren ini berlangsung hingga awal tahun 1920-an, sebelum kemudian berlanjut ke pesantren-pesantren di berbagai daerah seperti Termas, Banyumas, dan Pati.

Komposisi Penduduk dan Dakwah

Secara historis, penduduk awal kampung ini berasal dari tidak lebih dari lima keluarga. Namun seiring waktu, keturunan Kyai Wulung menjadi kelompok yang cukup dominan.

Mayoritas penduduk memeluk agama Islam. Meski demikian, sebagian masyarakat kemudian memeluk agama Kristen melalui aktivitas dakwah misi dari para pendatang dari wilayah timur seperti Ambal dan daerah selatan Purworejo.

Para misionaris kemudian membangun gereja di atas lahan tegalan yang saat itu masih kosong. Gereja tua inilah yang kemudian menjadikan nama Karangglonggong dikenal luas.

Bahkan pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia, patroli tentara Belanda disebut-sebut jarang memasuki kampung ini karena banyak penduduknya beragama Kristen.

Migrasi Besar Penduduk

Pada awal tahun 1930-an, jumlah penduduk Karangglonggong cukup padat. Namun kemudian terjadi migrasi besar-besaran ke arah barat menuju wilayah lembah Sungai Citandui.

Perpindahan ini terjadi karena kawasan lembah Citandui saat itu mulai dibuka sebagai pemukiman baru, seiring pembangunan jaringan rel kereta api di Pulau Jawa pada akhir abad ke-19.

Tradisi Pendidikan

Sejak masa kolonial Belanda, masyarakat Karangglonggong dikenal memiliki tradisi pendidikan yang cukup maju. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan Politik Etis atau politik balas budi pemerintah kolonial sekitar tahun 1900.

Banyak warga yang telah menamatkan pendidikan sekolah dasar pada era 1920-an, dengan menempuh pendidikan di pusat kecamatan Klirong.

Tidak sedikit pula keturunan warga Karangglonggong yang kemudian sukses di berbagai bidang, bahkan menjadi dokter dan perawat di Yogyakarta, termasuk di Rumah Sakit Bethesda.

Selain itu, pesantren yang dipimpin oleh KH Jarir juga dikenal luas dalam jaringan ulama di Jawa.

Sejarah panjang inilah yang menjadikan Karangglonggong bukan sekadar nama desa, tetapi juga ruang perjalanan budaya, pendidikan, dan keagamaan yang membentuk identitas masyarakatnya hingga hari ini.

SUMBER; WEBSITE DESA KARANGGLONGGONG


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com