KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Brecong di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah unik yang menarik untuk ditelusuri. Nama “Brecong” ternyata berasal dari kisah penggabungan empat desa pada masa lampau yang dilatarbelakangi oleh rasa iri antarwilayah.
Pada zaman dahulu, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Brecong terdiri dari empat desa yang berdiri sendiri, yakni Desa Plempukan, Desa Adimulyo, Desa Gunaman, dan Desa Wringin. Seiring perkembangan zaman dan kebutuhan tata kelola pemerintahan desa yang lebih efektif, keempat desa tersebut akhirnya digabung menjadi satu desa bernama Brecong.
Desa Plempukan sendiri meliputi Dusun Bendan, Dusun Plempukan, dan Dusun Semaji. Sementara Desa Adimulyo terdiri dari Dusun Lakung, Dusun Jetis, serta Dusun Gunamanlakung. Desa Gunaman hanya memiliki satu dusun, yakni Dusun Gunaman. Adapun Desa Wringin meliputi dua dusun, yaitu Dusun Wringin dan Dusun Karangteja.
Konon, pada masa itu penghasilan kepala desa dan perangkat desa masih sangat terbatas. Perbedaan luas tanah bengkok atau tanah garapan yang menjadi sumber penghasilan perangkat desa memicu rasa iri di antara desa-desa tersebut. Desa Gunaman dan Desa Wringin memiliki bengkok yang lebih luas, sementara Desa Adimulyo dan Desa Plempukan memiliki bengkok yang jauh lebih sedikit.
Dalam bahasa Jawa, rasa iri tersebut disebut “ocong.” Untuk menghilangkan kecemburuan tersebut, para tokoh desa sepakat untuk menyatukan keempat desa agar tidak ada lagi perasaan iri. Istilah Jawa “dibrekaken ben ora ocong” yang berarti “disatukan agar tidak iri” kemudian berkembang menjadi kata Brecong, yang akhirnya menjadi nama desa hingga sekarang.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah asal-usulnya, jejak empat desa awal tersebut tetap diabadikan dalam bentuk Congkogan, yaitu Congkog Plempukan, Congkog Adimulyo, Congkog Wringin, dan Congkog Gunaman.
Selain sejarahnya yang unik, Desa Brecong juga memiliki perjalanan kepemimpinan desa yang panjang. Sejak berdirinya desa hasil penggabungan tersebut, tercatat tujuh kepala desa yang pernah memimpin.
Kepala Desa Brecong pertama adalah Sastro Suparno yang menjabat pada tahun 1924 hingga 1944. Selanjutnya kepemimpinan diteruskan oleh Ngadimin Prawiro Darsono yang memimpin cukup lama, yakni dari tahun 1944 hingga 1989.
Setelah itu, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Yatun Ahmadi pada periode 1989 hingga 1999, kemudian Kusmanto, S.Pd pada periode 1999 hingga 2007. Jabatan kepala desa berikutnya dipegang oleh H.A. Suradi dari tahun 2007 hingga 2013.
Selanjutnya, Suratman memimpin Desa Brecong pada periode 2013 hingga 2019. Saat ini, Desa Brecong dipimpin oleh Triyono Puji Widodo, SE yang menjabat sejak tahun 2019 hingga 2025.
Sejarah penggabungan desa yang berawal dari upaya menghapus rasa iri ini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Brecong hingga kini. Nilai persatuan dan kebersamaan yang lahir dari sejarah tersebut terus menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat desa.
(Sumber: Website Resmi Desa Brecong)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















