KEBUMEN, Kebumen24.com – Di tengah derasnya arus modernisasi dan kemajuan teknologi, masyarakat kini dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi dari seluruh penjuru dunia. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut sering membuat masyarakat justru semakin jauh dari sejarah dan budaya lokal di lingkungan mereka sendiri.
Padahal, sejarah lokal memiliki peran penting sebagai penghubung antara masyarakat dengan jejak masa lalu di daerahnya. Kesadaran sejarah tidak hanya lahir dari mempelajari peristiwa besar, tetapi juga dari mengenal kisah dan asal-usul daerah tempat seseorang tinggal.
Salah satu kisah menarik datang dari Desa Balingasal, Kecamatan Padureso, Kabupaten Kebumen. Desa ini memiliki cerita unik yang berkaitan dengan legenda pohon jati yang konon selalu kembali ke tempat asalnya.
Berawal dari Perjalanan Sunan Kalijaga
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh desa, asal-usul Balingasal bermula pada masa Kesultanan Mataram sekitar tahun 1600-an. Pada masa itu, seorang tokoh penyebar Islam bernama Sunan Kalijaga melakukan perjalanan dakwah ke wilayah barat Jawa.
Dalam perjalanan tersebut, Sunan Kalijaga ditemani dua muridnya, yakni Sunan Jati dan Sunan Geseng. Setelah menempuh perjalanan panjang, rombongan ini tiba di sebuah kawasan hutan belantara yang saat itu masih sangat jarang dihuni penduduk.
Di tempat tersebut mengalir sungai besar yang dikenal sebagai Sungai Bengawan, yang bersumber dari kawasan Gunung Kembang di Wadaslintang, Wonosobo. Saat beristirahat di tepi sungai, Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya ke tanah.
Ketika perjalanan dilanjutkan, tongkat tersebut dicabut kembali. Namun bekas tancapan tongkat itu ternyata menumbuhkan tunas pohon jati. Seiring waktu, pohon tersebut tumbuh besar dan menjulang tinggi.
Peristiwa itu membuat masyarakat setempat menamai daerah tersebut Jatiteken—dari kata jati (pohon jati) dan teken yang berarti tongkat.
Pohon Jati yang Selalu Kembali ke Asalnya
Legenda semakin menarik ketika pohon jati yang tumbuh di tepi sungai tersebut suatu saat roboh akibat tanah yang tergerus arus Sungai Bengawan yang deras. Batang pohon jati itu terbawa arus sungai.
Namun keanehan terjadi. Setiap kali hanyut terbawa arus, batang pohon jati tersebut konon selalu kembali ke tempat asalnya.
Peristiwa yang dianggap luar biasa itu kemudian melahirkan nama Balingasal. Kata bali berarti kembali, sedangkan ngasal berarti asal. Secara harfiah, Balingasal berarti kembali ke asalnya.
Di lokasi tersebut hingga kini masih terdapat petilasan Sunan Kalijaga yang tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Sungai Bengawan dan Kisah Mbah Begawan
Pada masa lampau, Sungai Bengawan dikenal sangat luas dan memiliki arus yang kuat. Sungai ini melintasi beberapa wilayah, mulai dari Wadaslintang, Sendangdalem, Rahayu, Jatiteken, Bleber, Kabuaran, Korowelang hingga bermuara di pantai selatan.
Konon masyarakat percaya sungai ini memiliki penjaga bernama Mbah Begawan yang dipercaya sebagai ili-ili atau penjaga aliran sungai.
Seiring waktu, aliran Sungai Bengawan mengalami perubahan dan kini lebih dikenal sebagai Sungai Bleber.
Penyatuan Lima Wilayah Menjadi Desa Balingasal
Sebelum resmi menjadi Desa Balingasal, pada sekitar tahun 1850-an wilayah ini terbagi menjadi beberapa pemerintahan kecil, yaitu:
- Kenayan, dipimpin Mbah Mentayuda
- Pepedan, dipimpin Mbah Pringga Yudha
- Kalapacung, dipimpin Dul Sujak
- Bleber, dipimpin lurah perempuan bernama Klentheng
- Jatiteken, dipimpin Mbah Wirakerta
Masing-masing wilayah memiliki kondisi geografis dan kisah penamaan yang berbeda.
Baru pada tahun 1901, kelima wilayah tersebut sepakat untuk bersatu dan membentuk satu pemerintahan desa bernama Desa Balingasal. Kepala desa pertama saat itu adalah Cohdwiryo, yang memimpin hingga tahun 1922.
Seiring berjalannya waktu, sistem pemerintahan desa terus berkembang hingga kini Desa Balingasal telah dipimpin oleh beberapa kepala desa, mulai dari Sahroni, Misran Fauzi, Ruminah, Sumarno, Priyatini, hingga Manang yang menjabat saat ini.
Pentingnya Menjaga Sejarah Lokal
Sejarah Desa Balingasal menjadi bukti bahwa setiap daerah memiliki cerita dan nilai budaya yang patut dijaga. Kisah-kisah lokal seperti ini bukan sekadar legenda, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat.
Dengan mengenal sejarah daerahnya sendiri, generasi muda diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga dan kecintaan terhadap budaya lokal.
Seperti pesan yang pernah disampaikan Presiden pertama Indonesia, Soekarno, melalui semboyan yang terkenal: “Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.”
Narasumber: Mbah Sohib, Maulana Azis, Mbah Kambari
Sumber: Website Desa Balingasal
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















