SEJARAH

Asal usul Desa Sumberadi–Somalangu: Apa Hubungannya dengan Syeikh Abdul Kahfi

246
×

Asal usul Desa Sumberadi–Somalangu: Apa Hubungannya dengan Syeikh Abdul Kahfi

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Jejak sejarah panjang peradaban Islam di Kabupaten Kebumen ternyata telah dimulai sejak abad ke-15. Salah satu buktinya dapat ditelusuri dari kisah berdirinya Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu yang berkaitan erat dengan sejarah Desa Sumberadi, Kecamatan Kebumen.

Berdasarkan catatan sejarah dan penelitian arkeologis, aktivitas sosial masyarakat di wilayah tersebut telah berlangsung sejak tahun 1475 Masehi, bertepatan dengan berdirinya pesantren yang didirikan oleh ulama asal Hadhramaut, Yaman, Syeikh As-Sayid Abdul Kahfi Al-Jaelani Al-Hasani.

Penelitian yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kebumen bersama Balai Penelitian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah pada tahun 2005–2006 mengungkapkan bahwa pesantren tersebut berdiri pada 25 Sya’ban 879 Hijriah atau 4 Januari 1475 M.

Tanggal berdirinya diketahui dari sebuah prasasti batu Emerald Fuchsite yang memuat tulisan Arab dan candra sengkala berhuruf Jawa bertuliskan “Bumi Pitu Ina.” Temuan tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu telah terbentuk komunitas sosial yang aktif di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Sumberadi, meskipun belum memiliki struktur pemerintahan formal.

Ulama dari Yaman Membawa Dakwah ke Jawa

Syeikh Abdul Kahfi dikenal sebagai mubalig yang berasal dari Distrik Syihr, Hadhramaut, Yaman. Nama aslinya adalah Sayid Muhammad ‘Ishom bin Abdurrasyid bin Abdul Majid Al-Jilani Al-Hasani.

Ia mendapat julukan “Abdul Kahfi” karena sejak kecil menjalani pendidikan spiritual secara khusus di berbagai gua di Yaman hingga usia sekitar 17 tahun, sebuah metode pendidikan tasawuf yang lazim pada masa itu.

Dalam perjalanan dakwahnya, Syeikh Abdul Kahfi datang ke Pulau Jawa melalui jalur laut selatan dan mendarat di Pantai Karangbolong Kebumen pada tahun 1448 M. Saat itu Nusantara masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Kertawijaya (Brawijaya I).

Dari Karangbolong, ia melanjutkan perjalanan menuju wilayah Somalangu, meskipun sempat berdakwah di berbagai daerah sebelum akhirnya menetap di Kebumen.

Bertemu Sunan Ampel dan Menjadi Menantu Sultan Demak

Perjalanan dakwah Syeikh Abdul Kahfi juga membawanya bertemu dengan Sunan Ampel di Surabaya pada tahun yang sama. Ia kemudian membantu penyebaran Islam di wilayah Surabaya selama kurang lebih tiga setengah tahun.

Selanjutnya, ia melanjutkan perjalanan spiritual ke Demak dan Kudus. Di Demak, ia bahkan menjadi menantu Sultan Demak Raden Fatah setelah menikahi putri sang sultan yang bernama Nur Thayibah.

Beberapa tahun kemudian, Syeikh Abdul Kahfi kembali ke wilayah yang telah ia pilih sebagai pusat dakwahnya, yakni Somalangu, Kebumen.

Masjid Dibangun dalam Satu Malam

Sejarah penting terjadi pada Rabu malam, 25 Sya’ban 879 H atau 4 Januari 1475 M. Pada malam tersebut, Syeikh Abdul Kahfi bersama keluarga dan para pengikutnya tiba di Somalangu.

Dalam waktu semalam, mereka berhasil membangun sebuah masjid yang kemudian menjadi pusat kegiatan Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu.

Adzan pertama yang berkumandang di masjid tersebut adalah adzan Subuh, yang sekaligus menandai dimulainya aktivitas dakwah Islam di wilayah tersebut.

Pertemuan dengan Resi Pucuk Laras

Sehari setelah pembangunan masjid, Syeikh Abdul Kahfi menemukan sebuah candi Hindu besar di wilayah barat tempat tinggalnya. Di sekitar candi itu ia bertemu dengan tokoh spiritual setempat bernama Resi Pucuk Laras.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah penyebaran Islam di Kebumen. Resi Pucuk Laras akhirnya menerima ajakan Syeikh Abdul Kahfi untuk memeluk Islam, dan mengajak 21 kepala keluarga pengikutnya untuk mengikuti langkah yang sama.

Setelah memeluk Islam, Resi Pucuk Laras diberi nama Kartoyoso, yang dalam dialek Jawa Kebumen kemudian dikenal sebagai Kertayasa.

Candi yang sebelumnya berdiri di wilayah tersebut kemudian dihancurkan oleh Kertayasa karena dianggap sudah tidak lagi digunakan. Namun atas saran Syeikh Abdul Kahfi, sebagian peninggalan seperti yoni tetap dibiarkan sebagai penanda sejarah.

Menurut penelitian Balai Purbakala Jawa Tengah, ukuran candi yang pernah berdiri di kawasan tersebut diperkirakan dua kali lebih besar dari Candi Prambanan.

Asal Usul Nama Somalangu

Nama Somalangu juga memiliki cerita menarik. Setelah membantu menyelesaikan konflik keagamaan di Kesultanan Demak, Syeikh Abdul Kahfi mendapat hadiah tanah perdikan dari Sultan Raden Fatah.

Dalam titahnya, sang sultan menggunakan kalimat Arab “Tsumma dha’u” yang berarti silakan Anda mengelolanya.

Ucapan tersebut kemudian ditirukan para santri dengan pelafalan Jawa hingga berubah menjadi “Somalangu.” Seiring waktu, nama Somalangu justru lebih dikenal masyarakat luas dibandingkan nama Desa Sumberadi, yang baru digunakan secara resmi sekitar tahun 1950 pada masa Republik Indonesia Serikat.

Desa Sumberadi Saat Ini

Secara geografis, Desa Sumberadi berada pada koordinat -7,682475 LS dan 109,6958065 BT dengan luas wilayah sekitar 168 hektare dan ketinggian rata-rata 15 meter di atas permukaan laut.

Wilayah desa ini dilalui Sungai Kedungbener di bagian selatan dan timur, serta berbatasan dengan beberapa desa di Kecamatan Kebumen, antara lain:

  • Desa Candimulyo dan Candiwulan di utara
  • Desa Tanahsari dan Roworejo di timur
  • Desa Wonosari di selatan
  • Desa Kembaran dan Kalirejo di barat

Jumlah penduduk Desa Sumberadi saat ini sekitar 2.500 jiwa, dengan mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani. Seluruh warga desa memeluk agama Islam.

Hingga kini, keberadaan Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu tetap menjadi pusat sejarah dan spiritual yang mengingatkan bahwa wilayah ini merupakan salah satu titik penting perjalanan awal penyebaran Islam di Kebumen sekaligus bagian dari jejak sejarah Islam di Nusantara.

Sumber: Website Desa Sumberadi


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.