SEJARAH

Legenda Desa Murtirejo: Kisah Lima Ulama Membuka Hutan Hingga Lahirnya Lima Dusun

588
×

Legenda Desa Murtirejo: Kisah Lima Ulama Membuka Hutan Hingga Lahirnya Lima Dusun

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Murtirejo di Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah legenda yang diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh desa. Cerita ini mengisahkan tentang lima tokoh ulama besar yang diyakini sebagai pelopor pembukaan wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Murtirejo.

Menurut cerita para orang tua terdahulu, kelima tokoh tersebut datang ke sebuah wilayah yang pada masa itu masih berupa hutan lebat, gelap, dan dipenuhi semak belukar. Selain membuka lahan untuk tempat tinggal, mereka juga berdakwah mengingatkan masyarakat tentang hakikat kehidupan.

Para ulama tersebut menanamkan pesan bahwa kehidupan manusia di dunia tidaklah abadi. Cepat atau lambat, setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah SWT. Namun pesona dunia sering kali membuat manusia terlena dan lupa bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.

Lima tokoh ulama yang dipercaya membuka wilayah tersebut antara lain: Syekh Derpanangga, Syekh Singapada, Syekh Wangsapada, Syekh Singamenggala, dan Syekh Longkawa.

Membuka Hutan dengan Cara Dibakar

Dikisahkan, untuk membuka kawasan yang masih berupa hutan belantara, kelima tokoh tersebut berinisiatif membakar semak belukar dan pepohonan. Api yang dinyalakan kemudian membakar hampir seluruh kawasan hutan hingga akhirnya padam.

Setelah api mereda, tampaklah wilayah yang terbuka menyerupai sebuah pulau jika dilihat dari peta. Wilayah itulah yang kemudian menjadi batas-batas desa yang dikenal hingga sekarang.

Dari proses pembukaan lahan tersebut, kemudian terbentuk lima dusun yang menjadi bagian dari Desa Murtirejo, yakni Karangkemiri, Waruamba, Semampir, Karangmalang, dan Karangtembok.

Asal-usul Nama Lima Dusun

Setiap dusun memiliki kisah tersendiri yang berkaitan dengan perjuangan para ulama saat membuka kawasan tersebut.

Dusun Karangkemiri berasal dari peristiwa ketika Syekh Derpanangga hendak memasuki wilayah tersebut, namun kakinya terperosok ke dalam tanah berlumpur yang sangat dalam. Dalam istilah Jawa disebut “bolongan jerone sa kemiren”, yang kemudian menjadi asal nama Karangkemiri.

Dusun Waruamba dinamai demikian karena saat Syekh Singapada membuka lahan, muncul beberapa lubang tanah yang lebar. Dalam bahasa Jawa, kata “amba” berarti lebar, sehingga wilayah tersebut dikenal sebagai Waruamba.

Sementara Dusun Semampir berkaitan dengan kisah Syekh Wangsapada yang mencari tempat untuk beristirahat. Ia menemukan sebuah tempat untuk bersampir atau singgah sementara, yang kemudian dikenal dengan nama Semampir.

Adapun Dusun Karangmalang berasal dari adanya pohon besar yang melintang atau dalam bahasa Jawa disebut “malang-malang”. Pohon tersebut sempat menghalangi proses pembukaan lahan oleh Syekh Singamenggala.

Sedangkan Dusun Karangtembok dinamai demikian karena Syekh Longkawa menghadapi rintangan berupa pohon besar yang melintang dan sangat kokoh, menyerupai tembok alami.

Makna Nama Desa Murtirejo

Nama Murtirejo sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Sanskerta, yakni “Murti” dan “Rejo”. Murti berarti bentuk atau wujud keindahan, sedangkan Rejo berarti makmur dan sejahtera.

Pemberian nama tersebut mencerminkan harapan para pendahulu agar wilayah Desa Murtirejo menjadi tempat yang indah, makmur, dan sejahtera bagi masyarakatnya.

Sejarah Kepemimpinan Desa

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pendatang yang menetap di wilayah tersebut. Perkembangan masyarakat kemudian melahirkan sistem pemerintahan desa dengan berbagai pemimpin yang silih berganti.

Adapun beberapa tokoh yang pernah memimpin Desa Murtirejo antara lain:

  • Raden Soemardi (1943–1948)
  • Suchaeri (1948–1951)
  • Muhammad Mansur Wiryorejo (1952–1989)
  • Muhaimin (1989–1993)
  • Romelan Yahya Umar – pejabat sementara (1993–1997)
  • M. Maskal (1997–2005)
  • Muhammad Haryanto – pejabat sementara (2005–2007)
  • Achmad Munir (2007–2013)
  • Mokhamad Hidayat (2013–2019)
  • Nurchamid (2019–2025)

Nama Raden Soemardi bahkan diabadikan sebagai nama Gedung Serbaguna Desa Murtirejo yang hingga kini digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat.

Legenda dan sejarah ini menjadi pengingat bagi generasi penerus agar tetap menghargai perjuangan para pendahulu yang telah membuka dan membangun Desa Murtirejo. Diharapkan masyarakat dapat terus menjaga nama baik desa sekaligus berpartisipasi dalam pembangunan untuk mewujudkan Murtirejo yang semakin maju dan sejahtera.

Sumber: Website resmi Desa Murtirejo.

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.