KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tanuharjo di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah panjang yang berakar dari masa kolonial hingga berkembang menjadi desa yang terus membangun berbagai sektor.
Berawal dari Penggabungan Dua Desa
Menurut catatan sejarah desa, Tanuharjo lahir dari penggabungan dua wilayah, yakni Desa Kedawung dan Desa Keceme. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan kolonial Belanda, ketika dunia mengalami krisis ekonomi setelah Perang Dunia I.
Kala itu, dua desa tersebut dipimpin oleh lurah masing-masing. Desa Kedawung dipimpin oleh H. Abdul Rahman, sementara Desa Keceme dipimpin oleh seorang menantu Bupati Arum Binang IV. Melalui kebijakan penggabungan wilayah, kedua desa kemudian disatukan menjadi satu desa baru.
Nama Tanuharjo sendiri diyakini berasal dari kata “Tani Raharjo”, yang memiliki makna lahan pertanian yang luas dan makmur. Seiring waktu, penyebutan itu berubah menjadi Tanuharjo seperti yang dikenal masyarakat hingga saat ini.
Kepemimpinan Desa dari Masa ke Masa
Dalam perjalanan sejarahnya, Desa Tanuharjo telah dipimpin oleh sejumlah kepala desa yang membawa perubahan di berbagai bidang.
Kepala desa pertama adalah H. Abdul Rahman pada tahun 1828. Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh adiknya, Tjawedana. Selanjutnya desa dipimpin oleh Muljodiwirjo, kemudian Martodimedjo, Mad Marto, R. Mustamir, Salimin, Moh. Khasani, hingga H. Supangat yang menjabat sejak 2013.
Setiap periode kepemimpinan meninggalkan jejak pembangunan yang berbeda.
Pada masa Mad Marto, administrasi desa mulai diperbarui melalui pemutakhiran data pajak tanah. Selain itu, kegiatan budaya seperti pementasan dalang dan kesenian ebleg juga sering digelar untuk masyarakat.
Sementara pada masa R. Mustamir, pembangunan infrastruktur mulai berkembang. Jalan desa diperlebar melalui program AMD pada tahun 1976, dibangun balai desa, sekolah dasar, serta saluran irigasi dari Waduk Wadaslintang yang membantu sektor pertanian warga.
Perkembangan desa juga terasa pada masa Salimin, ketika Tanuharjo berhasil keluar dari kategori desa tertinggal. Hal ini ditandai dengan adanya jalan utama, puskesmas pembantu, pasar desa, serta kondisi rumah warga yang semakin baik. Pada periode ini pula listrik mulai masuk desa serta sistem administrasi pemerintahan desa semakin tertata.
Kemudian pada masa Moh. Khasani, desa mulai menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) yang memuat program pembangunan ekonomi, sosial, budaya, dan fisik secara lebih terarah.
Selanjutnya pada masa H. Supangat, sejumlah pembangunan kembali dilakukan, antara lain pembangunan jalan lintas hutan, balai desa, pasar desa, gedung PAUD, gedung serbaguna, serta peningkatan pengelolaan jalan desa oleh pemerintah daerah.
Kondisi Geografis Desa
Secara geografis, Desa Tanuharjo merupakan salah satu dari sekitar 460 desa di Kabupaten Kebumen dengan luas wilayah sekitar 220 hektare. Desa ini berada pada ketinggian sekitar 24 meter di atas permukaan laut.
Wilayah Tanuharjo berbatasan dengan beberapa desa di sekitarnya, antara lain:
- Barat: Desa Karangtanjung dan Jatimulyo
- Timur: Desa Karangkembang dan Kambangsari
- Utara: Desa Kalijaya dan Widoro
- Selatan: Desa Jatimulyo dan Kalijirek
Sebagian besar wilayah desa didominasi lahan kering sekitar 60 persen, sedangkan 40 persen lainnya merupakan lahan persawahan yang mendukung aktivitas pertanian masyarakat.
Kondisi Penduduk
Berdasarkan data Profil Desa tahun 2019, jumlah penduduk Desa Tanuharjo mencapai 2.593 jiwa, terdiri dari 1.279 laki-laki dan 1.314 perempuan. Pertumbuhan penduduk dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan seiring berkembangnya wilayah desa.
Dengan potensi lahan pertanian yang luas serta pembangunan yang terus berjalan, Desa Tanuharjo diharapkan mampu terus berkembang sebagai wilayah yang mandiri dan sejahtera bagi masyarakatnya.
Sumber: https://tanuharjo.kec-alian.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/117/87
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















