KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tlogowulung, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang perjalanan sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Desa yang kini dikenal sebagai kawasan pegunungan dengan masyarakat yang masih menjunjung tinggi semangat gotong royong ini, dulunya hanyalah kawasan hutan rakyat.
Berdasarkan cerita para sesepuh desa, Tlogowulung terbentuk dari penggabungan dua desa lama, yaitu Desa Sokareja dan Desa Siparuk yang meliputi Dusun Siparuk dan Dusun Silekor. Penggabungan tersebut terjadi sekitar tahun 1921.
Kala itu, pemilihan kepala desa dilakukan dengan cara unik yang dikenal dengan sistem “dodokan”, yaitu warga memilih dengan jongkok di belakang calon yang didukung. Dalam pemilihan tersebut, H. Ngusman memperoleh suara terbanyak dan terpilih menjadi kepala desa, mengungguli calon lainnya, Karto Pawiro.
Pergantian Kepemimpinan dari Masa ke Masa
Perjalanan pemerintahan desa terus berubah mengikuti dinamika zaman. Saat masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942, terjadi pergantian kepemimpinan. Pemilihan kembali digelar dengan sistem yang sama dan diikuti tiga calon: H. Hasyim, Tirto, dan Suraji. Hasilnya, H. Hasyim—putra H. Ngusman—terpilih menjadi kepala desa.
Memasuki sekitar tahun 1950–1951, setelah peristiwa pemberontakan AOI, Tlogowulung kembali menggelar pemilihan kepala desa. Kali ini metode pemilihan berubah menggunakan sistem sada dimasukkan bumbung, yakni lidi yang dimasukkan ke potongan bambu sebagai bentuk suara. Dalam pemilihan ini, Yudo Hadi Sutaryo keluar sebagai pemenang, mengalahkan Hartono dan Duljamil.
Perubahan kepemimpinan kembali terjadi setelah peristiwa nasional G30S/PKI tahun 1965. Tiga calon maju dalam pemilihan, yakni Djaenudin, Marto Miharjo, dan Daryakun. Djaenudin—anak bungsu H. Ngusman—terpilih dan memimpin desa selama sekitar 25 tahun.
Masa Transisi Demokrasi Desa
Pada tahun 1991, aturan baru dari pemerintah kabupaten menetapkan masa jabatan kepala desa menjadi delapan tahun. Sistem pemilihan juga berubah menggunakan pencoblosan gambar pada kertas suara seperti gambar padi, ketela, atau jagung.
Dalam pemilihan ini, Djaenudin kembali mencalonkan diri. Karena tidak ada pesaing lain, ia maju bersama istrinya sebagai formalitas calon, dan kembali terpilih untuk periode kedua.
Setelah memimpin kurang lebih 32 tahun, masa jabatan Djaenudin berakhir pada 1999. Pemilihan berikutnya dimenangkan oleh Mohamad Sudarno, mengalahkan Abu Sujangi. Namun kepemimpinannya tidak berlangsung lama karena ia wafat pada tahun 2003.
Kepemimpinan desa kemudian dilanjutkan oleh Cholik pada periode 2004–2009. Setelah itu, pada pemilihan 5 Desember 2009, Paeri terpilih menjadi kepala desa setelah mengungguli kandidat lain yang juga kakak kandungnya, Wasingah.
Pada tahun 2017, Paeri kembali mencalonkan diri melawan Santo, dan kembali dipercaya masyarakat untuk memimpin Desa Tlogowulung periode 2017–2022.
Asal Usul Nama Tlogowulung
Nama Tlogowulung berasal dari sebuah telaga yang dahulu berada di wilayah Siparuk. Air telaga tersebut sangat jernih hingga terlihat kehitaman atau dalam bahasa Jawa disebut “wulung.” Dari situlah nama Tlogo (telaga) dan Wulung digabung menjadi Tlogowulung. Kini lokasi telaga tersebut telah berubah menjadi area persawahan.
Desa Pegunungan yang Terus Berkembang
Desa Tlogowulung merupakan satu dari 16 desa di Kecamatan Alian dan berjarak sekitar 13 kilometer dari pusat kecamatan. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 247 hektare dan berada di kawasan pegunungan.
Secara perkembangan, desa ini tergolong desa swadaya dan swakarya. Artinya, masyarakat masih memegang tradisi lama namun mulai beradaptasi dengan teknologi dan perkembangan zaman.
Semangat gotong royong masih menjadi ciri kuat masyarakatnya, sekaligus menjadi modal sosial dalam pembangunan desa.
Data Penduduk
Desa Tlogowulung terdiri dari tiga dusun, yaitu:
- Dusun Silekor
- Dusun Siparuk
- Dusun Sokareja
Masing-masing dusun memiliki tiga RT.
Total jumlah penduduk sekitar 1.900 jiwa, terdiri dari:
- Laki-laki: 977 orang
- Perempuan: 923 orang
Rinciannya:
- Siparuk: 579 jiwa
- Silekor: 619 jiwa
- Sokareja: 702 jiwa
Mata Pencaharian Warga
Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani. Selain itu ada juga yang berprofesi sebagai guru, PNS, wiraswasta, karyawan swasta, hingga buruh harian lepas.
Menariknya, banyak warga Tlogowulung merantau ke Jakarta dan sukses membuka usaha sendiri, terutama rumah makan Padang, bahkan sebagian pekerjanya juga berasal dari desa yang sama.
Kondisi Geografis
Desa Tlogowulung berada di ketinggian sekitar 390 mdpl dengan suhu rata-rata 30°C dan memiliki sekitar 7 bulan musim hujan setiap tahun.
Adapun penggunaan lahannya meliputi:
- Tanah kering: 92 hektare
- Sawah dan tegalan: 56 hektare
- Perkebunan, pekarangan, dan permukiman: 95 hektare
- Tanah kas desa: 2 hektare
- Tanah sekolah dan pemakaman: 2 hektare
Dengan sejarah panjang, budaya yang masih terjaga, serta masyarakat yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, Desa Tlogowulung menjadi salah satu desa yang menyimpan cerita penting dalam perjalanan wilayah Kebumen.
Sumber : https://tlogowulung.kec-alian.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/8/32
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















