KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Karangkembang di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, menyimpan jejak sejarah penting yang berkaitan dengan tokoh besar masa Mataram Islam, yakni Ki Bagus Bodronolo atau dikenal juga sebagai Badranala. Sosok ini dikenal luas sebagai Bupati pertama Panjer yang memiliki peran penting dalam perjuangan Kesultanan Mataram melawan VOC di Batavia.
Bagi para pemerhati sejarah Kebumen, nama Ki Bodronolo bukanlah sosok asing. Ia merupakan tokoh yang mendapat kepercayaan langsung dari Sultan Agung Hanyakrakusuma untuk membantu menyuplai kebutuhan pangan pasukan Mataram dalam penyerbuan ke Batavia pada abad ke-17.
Peristiwa bersejarah yang terjadi pada 21 Agustus 1629 itu kemudian dijadikan sebagai dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Kebumen melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 3 Tahun 2018.
Keturunan Bangsawan Mataram dan Majapahit
Ki Bagus Bodronolo diketahui merupakan putra dari Ki Maduseno, yang masih memiliki garis keturunan langsung dari Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram Islam. Bahkan jika ditarik lebih jauh, silsilah keluarganya terhubung hingga Raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V.
Selain dari jalur Mataram, Ki Bodronolo juga memiliki garis keturunan dari trah Kemangiran, yang berasal dari keluarga Ki Ageng Mangir Wanabaya.
Meski memiliki darah bangsawan, Ki Bodronolo tidak dibesarkan di lingkungan istana. Ayahnya, Ki Maduseno, sejak kecil disembunyikan dan dibesarkan di wilayah Karanglo, Panjer Gunung, yang kini termasuk wilayah Karanggayam, Kebumen.
Berguru Hingga Mengabdi untuk Mataram
Ki Bodronolo mulai menapaki perjalanan hidupnya sejak usia muda. Saat berusia 12 tahun, ia mengembara dan berguru kepada Ki Ageng Geseng di Gunung Geyong. Dari sinilah ia dikenal memiliki kemampuan kepemimpinan dan ketangguhan.
Pada tahun 1622, ia menikah dengan Endang Patrasari, putri Ki Nayapatra atau Ki Singapatra, tokoh yang dikenal sebagai pembuka wilayah Trukahan di Kebumen.
Setahun kemudian, wilayah Panjer kedatangan utusan Mataram bernama Ki Suwarno yang mencari daerah lumbung pangan untuk persiapan penyerangan Mataram ke Batavia. Saat itu Panjer dikenal sebagai “tanah Putihan”, wilayah yang belum berada di bawah kekuasaan Mataram.
Ki Bodronolo kemudian dipercaya Sultan Agung untuk membantu pengadaan bahan pangan dari masyarakat Panjer. Dari sinilah wilayah Panjer berkembang menjadi lumbung logistik terbesar bagi pasukan Mataram.
Panjer Menjadi Basis Militer Mataram
Seiring waktu, Panjer tidak hanya menjadi lumbung padi, tetapi juga berubah menjadi basis militer Mataram. Pasukan dari berbagai daerah berdatangan untuk mempersiapkan penyerangan terhadap VOC di Batavia.
Bahkan Sultan Agung beberapa kali berada di Panjer untuk memastikan kesiapan pasukan dan logistik.
Dalam kurun waktu 1627 hingga 1629, Ki Bodronolo ikut mengawal pengiriman bahan pangan ke Batavia dan turut bertempur melawan VOC di wilayah Rawa Bangke, Jakarta Timur.
Berkat keberanian dan jasanya, ia dipercaya menjadi senopati perang di sayap Hutan Kayu. Pasukan yang dipimpinnya bahkan berhasil menggempur benteng Solitude, benteng pertahanan VOC yang berada di wilayah yang kini menjadi kawasan Masjid Istiqlal Jakarta.
Diangkat Menjadi Bupati Pertama Panjer
Pada tahun 1642, wilayah Panjer resmi dijadikan kabupaten. Atas jasanya dalam membantu logistik perang Mataram, Ki Bodronolo diangkat menjadi Bupati pertama Panjer yang berkedudukan di Panjer Roma.
Sementara Ki Suwarno menjabat sebagai penguasa di Panjer Gunung.
Dengan pengangkatan tersebut, wilayah Panjer secara resmi menjadi bagian dari Kesultanan Mataram.
Menghalau Serangan VOC di Pantai Selatan
Ancaman VOC terhadap wilayah Panjer tidak berhenti. Pada tahun 1643, pasukan VOC mencoba mendarat di wilayah Urut Sewu, Pantai Petanahan, dengan tujuan menghancurkan lumbung pangan Mataram.
Namun serangan tersebut berhasil digagalkan oleh pasukan Panjer yang dipimpin langsung oleh Ki Bodronolo bersama Ki Singapatra.
Keberhasilan ini membuat Sultan Agung memberikan gelar kehormatan kepada Ki Bodronolo sebagai Ki Gedhe Panjer Roma I.
Mengakhiri Masa Kepemimpinan
Setelah memimpin cukup lama, pada tahun 1658 Ki Bodronolo menyerahkan kepemimpinan kepada putranya, Ki Hastrosuto, yang kemudian dikenal sebagai Ki Gedhe Panjer Roma II.
Di masa tuanya, Ki Bodronolo memilih menjalani kehidupan spiritual bersama istrinya di Gunung Kenap, Desa Karangkembang.
Hingga kini, makamnya masih berada di perbukitan Gunung Kenap, Desa Karangkembang, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, dan menjadi salah satu situs sejarah penting di daerah tersebut.
Sejarah juga mencatat, pada masa pemerintahan Ki Hastrosuto, datang seorang tokoh bernama Pangeran Bumidirjo. Ia mendirikan padepokan di wilayah utara Sungai Luk Ulo yang kemudian dikenal sebagai tempat Kyai Bumi.
Dari situlah nama “Kebumen” diyakini berasal, yakni dari kata Ke-Bumi-an, yang lambat laun menjadi sebutan bagi wilayah Kabupaten Kebumen.
Sumber : https://karangkembang.kec-alian.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/113/84
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















