SEJARAH

Sejarah dan Legenda Desa Tanahsari: Jejak Syekh Abdul Jalal dan Kisah Perlawanan Warga

537
×

Sejarah dan Legenda Desa Tanahsari: Jejak Syekh Abdul Jalal dan Kisah Perlawanan Warga

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tanahsari di Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang yang berpadu dengan kisah perjuangan dan legenda penyebaran Islam. Desa yang berada di titik koordinat 7.6717937 LS dan 109.706256 BT ini berada di ketinggian sekitar 29 meter di atas permukaan laut.

Meski tidak ada catatan tertulis yang benar-benar pasti mengenai awal mula berdirinya desa, berbagai cerita para sesepuh menjadi rujukan penting dalam menelusuri sejarah Tanahsari.

Salah satu peristiwa bersejarah yang kerap diceritakan adalah kejadian pada 10 Januari 1949. Saat itu, pasukan Belanda yang berkekuatan satu kompi dengan persenjataan lengkap berhadapan dengan Angkatan Oemat Islam (AOI) dalam pertempuran di Gunung Pager Kodok. Setelah mengalami kekalahan, pasukan Belanda mundur ke arah utara hingga memasuki wilayah Desa Tanahsari.

Peristiwa tersebut berujung tragis. Keesokan harinya, tentara Belanda melakukan penyerbuan dan membakar wilayah desa. Dari kisah itulah, diketahui bahwa nama Tanahsari sudah dikenal setidaknya sejak tahun 1949.

Jejak Ulama Besar

Selain kisah perjuangan, Tanahsari juga dikenal sebagai tempat bersejarah dalam penyebaran Islam. Di desa ini terdapat makam seorang ulama yang sangat dihormati masyarakat, yakni Syekh Abdul Jalal.

Menurut cerita para sesepuh, Syekh Abdul Jalal berasal dari wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia dikenal sebagai ulama besar pada masanya. Dalam perjalanan dakwahnya, ia tidak sendiri. Ia bersama para sahabatnya kerap berkumpul untuk bermujahadah sekaligus bermusyawarah membahas masa depan wilayah Kebumen.

Ada pula cerita lain yang menyebutkan bahwa Syekh Abdul Jalal merupakan tokoh kepercayaan Raden Patah dari Kesultanan Demak. Ia ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam di wilayah selatan Pulau Jawa, khususnya Kebumen.

Hingga kini, makam Syekh Abdul Jalal masih sering diziarahi masyarakat sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengenang jasa perjuangannya dalam menyebarkan ajaran Islam.

Perjalanan Pemerintahan Desa

Dalam sejarah pemerintahan, Desa Tanahsari pada awalnya terbagi menjadi dua wilayah, yaitu wilayah Bojong atau Kedungrandu dan wilayah Pengabean.

Wilayah Bojong/Kedungrandu meliputi Bojong, Kedungrandu, Jombor, Rawabang hingga Rujakbeling. Sementara wilayah Pengabean meliputi Pengabean, Karangsambung, dan Pejulungan.

Pada masa kepemimpinan Kepala Desa Rana Sentika, kedua wilayah tersebut akhirnya disatukan menjadi satu pemerintahan desa. Sejak saat itu, Tanahsari berkembang menjadi satu desa utuh yang kini terdiri dari 5 RW dan 15 RT.

Sejumlah tokoh tercatat pernah memimpin desa ini, di antaranya Sastromiharjo, Marta Sabar, Sofyan Aziz (1966), Suripto (1987), Masngudin (2003–2007), Saefudin Aziz (2007–2011), Muhammad Subur (2011–2015), Penjabat Kepala Desa Muhtar dan Warisno (2015–2017), hingga Khojin yang memimpin pada periode 2018–2023.

Tradisi dan Kearifan Lokal

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Tanahsari banyak menggantungkan hidup pada sektor pertanian, khususnya persawahan. Selain itu, sebagian warga juga mengembangkan usaha rumahan seperti produksi jas hujan, tas, dan topi.

Tradisi adat juga masih terjaga dengan baik. Salah satu yang rutin dilakukan adalah ziarah dan kegiatan resik kubur di area makam Syekh Abdul Jalal setiap tanggal 16 Ruwah.

Selain itu terdapat tradisi Sedekah Bumi atau Merdi Bumi sebagai bentuk rasa syukur setelah masa tanam padi. Dalam kegiatan ini warga menggelar tahlil bersama di lingkungan masing-masing RT, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama.

Yang menarik, tumpeng yang dibawa warga akan dikumpulkan dalam satu wadah besar sebelum dibagikan kepada seluruh masyarakat, baik yang hadir maupun yang berhalangan datang.

Sejumlah tradisi lain juga masih dijalankan, seperti mapati saat usia kandungan empat bulan, mitoni saat tujuh bulan, serta tradisi peringatan kematian mulai dari tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, satu tahun, hingga seribu hari dan haul setiap tahunnya.

Tradisi-tradisi tersebut menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Tanahsari masih menjaga nilai kebersamaan, spiritualitas, dan kearifan lokal yang diwariskan para leluhur.

(Disarikan dari berbagai sumber)

Sumber:https://tanahsari.keckebumen.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/123/158


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.