KEBUMEN, Kebumen24.com – Nama Kabupaten Kebumen ternyata memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Tidak banyak yang tahu bahwa wilayah yang kini dikenal sebagai Kebumen dulunya bernama Panjer, sebuah daerah yang memiliki peran penting dalam sejarah Jawa sejak masa Kerajaan Mataram.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Kebumen sendiri merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan Kabupaten Purworejo dan Wonosobo di sebelah timur, Banjarnegara di utara, Cilacap serta Banyumas di barat, dan Samudera Hindia di selatan. Wilayahnya cukup luas, sekitar 1.334 kilometer persegi, dengan garis pantai mencapai kurang lebih 57,5 kilometer yang membentang dari Kecamatan Mirit hingga Ayah. Tak heran jika daerah ini terkenal dengan wisata pantainya yang indah.
Namun di balik keindahan alamnya, Kebumen menyimpan kisah sejarah menarik tentang asal-usul namanya.
Berawal dari Nama Panjer
Pada masa lalu, wilayah Kebumen dikenal dengan nama Panjer. Nama Kebumen sendiri dipercaya muncul dari kisah seorang tokoh penting dalam sejarah Mataram, yaitu Pangeran Mangkubumi.
Pangeran Mangkubumi merupakan bangsawan Kerajaan Mataram, yang disebut sebagai adik Sultan Agung. Karena konflik di lingkungan kerajaan, ia meninggalkan istana dan kemudian menetap di sebuah desa bernama Karang.
Di tempat baru tersebut, Pangeran Mangkubumi mengganti namanya menjadi Kyai Bumi atau Kyai Bumi Dirjo. Sejak saat itu, wilayah tempat tinggalnya dikenal sebagai Kabumian, yang berarti tempat tinggal Kyai Bumi.
Seiring waktu, penyebutan Kabumian berubah menjadi Kebumen, nama yang akhirnya digunakan hingga sekarang.
Perjalanan Sejarah Kebumen
Perjalanan sejarah Kebumen tercatat melalui berbagai peristiwa penting.
Tahun 1629, daerah Panjer memiliki peran dalam upaya penyerangan pasukan Sultan Agung ke Batavia. Seorang tokoh lokal bernama Kiai Bodronolo membantu menyediakan logistik bagi pasukan Mataram. Peristiwa inilah yang kemudian dijadikan dasar penetapan hari jadi Kebumen.
Tahun 1677, Pangeran Mangkubumi menetap di wilayah ini dan dikenal sebagai Kyai Bumi. Nama Kabumian mulai digunakan oleh masyarakat dan lambat laun berubah menjadi Kebumen.
Tahun 1755, setelah Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, wilayah Bagelen—termasuk Panjer—masuk dalam pengaruh kedua kerajaan tersebut.
Periode 1825–1830, saat Perang Jawa terjadi, wilayah Kebumen berada dalam administrasi pemerintahan kolonial Belanda di bawah Karesidenan Bagelen.
Tahun 1901, terjadi perubahan administratif pada masa kolonial. Karesidenan Bagelen berubah menjadi Kedu, dan beberapa kabupaten seperti Panjer, Ambal, serta Karanganyar digabung menjadi satu wilayah yang kemudian dikenal sebagai Kabupaten Kebumen.
Perubahan Hari Jadi Kebumen
Pada masa Hindia Belanda, tanggal 1 Januari 1936 sempat ditetapkan sebagai hari jadi Kebumen berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal. Namun penetapan tersebut dianggap kurang mencerminkan semangat perjuangan masyarakat lokal.
Melalui kajian sejarah yang dilakukan pemerintah daerah, akhirnya hari jadi Kebumen diubah menjadi 21 Agustus, yang merujuk pada peristiwa tahun 1629 saat Kiai Bodronolo membantu perjuangan Mataram melawan VOC.
Perubahan ini kemudian ditetapkan secara resmi melalui Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2018.
Kini, Kebumen tidak hanya dikenal sebagai daerah dengan kekayaan sejarah, tetapi juga berkembang sebagai wilayah wisata dan budaya yang memiliki identitas kuat di Jawa Tengah.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















