SEJARAH

Menyusuri Asal Usul Desa Karangtanjung: Kisah Mbah Buncing, Pejuang dari Mataram

451
×

Menyusuri Asal Usul Desa Karangtanjung: Kisah Mbah Buncing, Pejuang dari Mataram

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Karangtanjung di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen menyimpan kisah panjang perjalanan sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Jejak masa lalu desa ini bahkan berkaitan dengan perjuangan tokoh pada masa perlawanan terhadap penjajah.

Sejarah lisan masyarakat menyebutkan, sekitar tahun 1830-an seorang pengikut Pangeran Diponegoro bernama Mbah Buncing dari Mataram datang ke wilayah selatan Pulau Jawa. Ia mendapat amanah untuk menyebarkan ajaran Islam. Perjalanan dakwahnya akhirnya sampai di Desa Karangtanjung dan ia menetap di sana hingga akhir hayatnya.

Mbah Buncing datang bersama putra angkatnya, Dipawecana atau yang dikenal dengan sebutan Banteng Kuntet. Sosok ini dikenal masyarakat sebagai tokoh yang sakti mandraguna dan memiliki pusaka bernama Kudi Jenggaran. Dari garis keturunan inilah kemudian lahir salah satu kepala desa penting di Karangtanjung, yakni H. Abdul Kodir.

Perkembangan desa semakin terlihat ketika pada sekitar tahun 1863 datang seorang ulama pejuang bernama Kyai Mubaedah. Tokoh agama ini kemudian dipercaya masyarakat menjadi kepala desa pertama Karangtanjung pada tahun 1905 hingga 1947.

Setelah masa kepemimpinan Kyai Mubaedah berakhir, pemilihan kepala desa dilakukan dengan cara sederhana yang khas pada masa itu, yakni menggunakan biting atau batang lidi yang dipotong kecil sebagai alat memilih.

Masa Perjuangan dan Peristiwa Penting Desa

Sejarah desa juga tidak lepas dari situasi perjuangan melawan penjajah. Pada tahun 1948, seorang warga bernama Basirun bin Madgasmin ditembak tentara Belanda saat bersembunyi di atas pohon kelapa. Pada masa yang sama, halaman Masjid Tanjung dan pendopo kediaman seorang kyai juga terkena serangan mortir. Meski beberapa warga terluka, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Memasuki tahun 1965, warga Karangtanjung turut terlibat dalam situasi nasional saat penumpasan Partai Komunis Indonesia.

Ujian lain juga pernah dirasakan masyarakat. Pada tahun 1980 desa mengalami paceklik akibat kemarau panjang. Saat itu warga mendapat bantuan pangan berupa bulgur, susu bubuk, dan ikan kaleng.

Gotong Royong dan Pembangunan Desa

Semangat kebersamaan masyarakat terlihat pada tahun 1981–1982 ketika warga bergotong royong membangun Jembatan Kali Bakung. Jembatan tersebut menjadi akses vital yang menghubungkan wilayah RW 01 dan RW 02.

Pada periode yang sama, Desa Karangtanjung juga terdampak hujan abu akibat letusan Gunung Galunggung.

Perubahan besar dalam sektor pertanian mulai terjadi pada tahun 1984 ketika petani mulai menanam padi varietas unggul berumur pendek (PB). Namun saat itu petani masih bergantung pada air hujan karena belum adanya saluran irigasi dari Waduk Wadaslintang.

Baru pada tahun 1989 saluran sekunder dari Waduk Wadaslintang mulai dibangun di wilayah desa. Dampaknya sangat terasa. Sejak tahun 1990 para petani mulai bisa menanam padi dua kali dalam setahun sehingga produksi meningkat dan ketahanan pangan desa membaik.

Kemajuan lain datang pada tahun 1992 ketika listrik dari Perusahaan Listrik Negara mulai masuk ke desa. Kehadiran listrik membuat kehidupan masyarakat berubah, malam hari menjadi lebih terang dan warga mulai mengenal televisi.

Pada tahun 2010, Karangtanjung juga sempat terdampak hujan abu dari letusan Gunung Merapi.

Daftar Kepala Desa Karangtanjung

Perjalanan kepemimpinan desa dari masa ke masa turut membentuk perkembangan Karangtanjung hingga saat ini. Berikut daftar kepala desa yang pernah memimpin:

  1. 1905 – 1947 : Resa Atmadja / Kyai Mubaedah
  2. 1947 – 1989 : H. Abdul Kodir
  3. 1989 – 1996 : Nurcholis Edy Haryanto
  4. 1996 : Sukirno (Pj)
  5. 1997 : R. Agung Pambudi, S.IP (Pj)
  6. 1997 – 2005 : K.H. Muhamad Choerudin
  7. 2005 – 2007 : Mansurun (Pj)
  8. 2007 – 2013 : Kyai Rokhmat
  9. 2013 – 2019 : Budiyanto, Sm.Hk
  10. 2019 – sekarang : Akhmad Mutasil

Sejarah panjang tersebut menjadi bagian penting identitas masyarakat Desa Karangtanjung. Kisah perjuangan, gotong royong, hingga perkembangan desa dari masa ke masa menjadi warisan berharga bagi generasi sekarang.

Sumber: Website resmi Desa Karangtanjung.

 

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.