KEBUMEN, Kebumen24.com– Banyak masyarakat melihat lambang daerah hanya sebagai simbol yang terpampang di kantor pemerintahan, dokumen resmi, atau papan nama instansi. Namun di balik Lambang Kabupaten Kebumen, tersimpan filosofi mendalam tentang sejarah, perjuangan, potensi alam, hingga cita-cita masyarakatnya.
Dikutip dari laman resmi Pemkab Kebumen menyebutkan, Lambang daerah ini diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 6 Tahun 2022 tentang Lambang Daerah, serta diperkuat dengan Perda Nomor 30b/DPRD-GR/70 tanggal 14 Oktober 1970 mengenai penggunaan lambang daerah.
Setiap bagian dalam lambang tersebut memiliki arti yang menggambarkan karakter dan perjalanan Kabupaten Kebumen.
Perisai: Tekad Menjaga NKRI
Bentuk dasar lambang berupa perisai dengan perbandingan 4:3. Perisai ini melambangkan tekad, semangat, serta kesiapsiagaan masyarakat Kebumen dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
Bintang Emas: Keimanan kepada Tuhan
Di bagian atas terdapat bintang bersegi lima berwarna kuning emas yang melambangkan kepercayaan yang kuat kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai dasar kehidupan masyarakat.
Gunung, Laut, dan Gua: Potensi Alam Kebumen
Lambang ini juga menggambarkan kondisi geografis Kebumen.
- Pegunungan melambangkan keteguhan hati serta kondisi wilayah yang sebagian berupa dataran tinggi.
- Laut biru menggambarkan semangat perjuangan yang terus bergelora sekaligus kedamaian, serta menunjukkan wilayah selatan Kebumen yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia.
- Gua berwarna hitam mencerminkan ketenangan dan kesederhanaan masyarakat, sekaligus menggambarkan kekayaan alam karst Kebumen yang menjadi pusat penelitian, wisata, serta habitat burung walet.
Burung Lawet: Simbol Ketekunan
Terdapat dua burung lawet yang melambangkan ketekunan, kegigihan, serta dinamika masyarakat dalam membangun daerah. Jumlah dua ekor juga menggambarkan keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan.
Padi dan Kapas: Cita-cita Kesejahteraan
Simbol padi dan kapas menggambarkan harapan terciptanya masyarakat yang adil dan makmur.
- 8 butir padi melambangkan bulan kemerdekaan sekaligus bulan hari jadi Kebumen.
- 5 butir kapas melambangkan lima sila dalam Pancasila.
Mata Rantai dan Bambu Runcing: Persatuan dan Kepahlawanan
Lambang mata rantai berjumlah 17 menggambarkan tanggal kemerdekaan Indonesia serta semangat persatuan masyarakat.
Sementara bambu runcing dengan sembilan ruas menjadi simbol kepahlawanan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Batu Bata dan Genteng: Identitas Ekonomi Rakyat
Di bagian bawah terdapat 16 batu bata dan 2 genteng, yang mencerminkan usaha rakyat di sektor industri batu bata dan genteng yang telah lama menjadi sumber penghidupan masyarakat Kebumen.
Semboyan Bhumi Tirta Praja Mukti
Tulisan “Bhumi Tirta Praja Mukti” memiliki arti tanah dan air untuk kesejahteraan bangsa dan negara. Maknanya menggambarkan rasa syukur atas kekayaan alam Kebumen: pegunungan di utara, lahan pertanian yang subur, hasil tambang, hingga potensi laut dan gua di wilayah selatan.
Semua potensi itu menjadi modal bagi masyarakat untuk mewujudkan kehidupan yang adil, makmur, dan diridai Tuhan.
Makna Warna
Berbagai warna dalam lambang juga memiliki filosofi:
- Biru laut: kedamaian
- Kuning: keluhuran
- Kuning emas: keagungan
- Hijau: kesuburan dan harapan
- Hitam: keabadian
- Putih: kesucian
- Merah: keberanian
- Cokelat: kekayaan alam
- Biru langit: keluasan wawasan
Selain itu, jumlah ombak 10 di atas dan 11 di bawah (total 21) melambangkan tanggal hari jadi Kabupaten Kebumen.
Sedangkan kombinasi 16 batu bata, 2 genteng, dan 9 ruas bambu runcing melambangkan tahun berdirinya Kabupaten Kebumen.
Lambang ini bukan sekadar identitas visual, melainkan cerminan perjalanan sejarah, kekayaan alam, serta semangat masyarakat Kebumen dalam membangun daerah menuju kesejahteraan bersama.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















