SEJARAH

Jejak Tapak Ratu Kembar di Lereng Gunung Puyuh: Menguak Spiritualitas dan Sejarah Panjer Kuno di Suratrunan, Alian

439
×

Jejak Tapak Ratu Kembar di Lereng Gunung Puyuh: Menguak Spiritualitas dan Sejarah Panjer Kuno di Suratrunan, Alian

Sebarkan artikel ini
situs-pertabatan-raden-putra-di-suratrunan-alian-kebumen-300x240

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik sunyinya lereng Gunung Puyuh, Desa Suratrunan, Kecamatan Alian, tersimpan jejak spiritual dan sejarah besar yang diyakini berkaitan dengan tokoh legendaris Majapahit, Brawijaya V, yang juga dikenal sebagai Ratu Kembar atau Harya Baribin. Situs ini kini dikenal sebagai Situs Pertabatan Brawijaya V, sebuah titik temu antara sejarah, budaya, dan spiritualitas di tanah Panjer—nama lama Kebumen.

Pertapaan di Gunung Koembang

Secara historis, Gunung Koembang—yang kini lebih dikenal sebagai Gunung Puyuh—disebut sebagai salah satu lokasi pertapaan Raden Suputra atau Raden Putra (Harya Baribin). Dalam sejumlah naskah klasik seperti Serat Sarasilah Mataram dan ringkasan Babad Tanah Jawi, Raden Putra disebut sebagai putra Prabu Brawijaya IV (Bra Tanjung) dari Putri Pajang.

Dikisahkan, setelah terjadi dinamika suksesi di Kerajaan Majapahit, Raden Putra memilih meninggalkan pusat kekuasaan dan bergerak ke arah barat menuju Negara Panjer. Dalam perjalanan spiritualnya, ia bertapa di beberapa lokasi, termasuk di Gunung Koembang Suratrunan. Situs ini bahkan diduga telah menjadi punden berundak jauh sebelum kedatangannya—menguatkan dugaan adanya jejak peradaban kuno di wilayah tersebut.

Dari Panjer ke Pajajaran

Perjalanan Raden Putra berlanjut hingga ke wilayah Kaleng (kini Puring), Kejawar, Pasir Luhur, hingga akhirnya ke Pajajaran. Di sana, ia menikah dengan cucu Raja Pajajaran dan dikaruniai empat anak, di antaranya Raden Kaduhu (Adipati Margautama) dan Raden Banyak Kumara (Adipati Kaleng).

Dalam fase selanjutnya, Raden Putra kembali ke timur dan menghabiskan masa tuanya sebagai pandita di Gunung Grenggeng, Karanganyar, Kebumen. Hingga kini, masyarakat mengenalnya sebagai Syekh Baribin—figur spiritual yang dihormati lintas generasi.

Panjer dan Transformasi Sejarah

Dalam literatur Belanda Tijdschrift Voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, disebutkan bahwa ketika Majapahit runtuh dan kekuasaan beralih ke Demak, Panjer bertransformasi menjadi Kadipaten Panjer di bawah pengaruh Islam. Sejak saat itu, ajaran Islam menyebar luas di wilayah Panjer dan Wirasaba.

Menariknya, makam Kuwu Panjer berada berdekatan dengan Pamoksan Gajah Mada, di kompleks bekas pabrik NV Oliefabrieken Insulinde (kini kawasan industri Sari Nabati). Area ini diyakini sebagai bekas keraton Panjer yang dibumihanguskan Belanda pada 1832.

Jejak Spiritual Jaka Lancing

Tak hanya Raden Putra, tanah Panjer juga menjadi saksi perjalanan spiritual Raden Jaka Lancing, putra Brawijaya V (Angkawijaya). Ia bertapa di Gunung Pager Dandang—kini dikenal sebagai Gunung Kenap Karangkembang—yang diduga merupakan situs kuno berbahan batu gamping, memiliki kemiripan struktur dengan situs Sigedong di Karanganyar.

Jaka Lancing kemudian menjadi pandita di Mirit hingga wafat, dan dikenal masyarakat sebagai Mbah Lancing.

Pemugaran dan Revitalisasi Situs

Kesadaran pelestarian sejarah mendorong digelarnya peletakan batu pertama pemugaran Situs Pertabatan Brawijaya V pada Selasa Pahing, 6 Mei 2014. Acara tersebut dihadiri berbagai elemen masyarakat, tokoh budaya, hingga Komandan Kodim 0709/Kebumen saat itu.

Momentum tersebut menjadi simbol kebangkitan kesadaran sejarah lokal. Situs ini tidak hanya dipandang sebagai tempat ziarah spiritual, tetapi juga aset wisata sejarah dan budaya yang potensial dikembangkan.

Potensi Wisata Sejarah dan Spiritualitas

Situs Pertabatan Brawijaya V di Suratrunan kini mulai dilirik sebagai destinasi wisata sejarah dan religi di Kebumen. Lanskap alam yang masih asri, batuan purba, serta pohon mlinjo tua yang mengitari lokasi menambah aura sakral sekaligus eksotis.

Bagi generasi muda, situs ini menjadi pengingat bahwa Kebumen—dulu Panjer—memiliki posisi penting dalam lintasan sejarah Nusantara. Jejak Majapahit, Pajajaran, hingga Demak bertaut dalam satu narasi panjang di tanah ini.

Dengan pengelolaan yang tepat, Situs Pertabatan Brawijaya V bukan hanya menjadi ruang kontemplasi, tetapi juga ruang edukasi sejarah dan penguatan identitas budaya lokal.(k24/*).

Sumber: Ananda. R


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.