KEBUMEN, Kebumen24.com — Nama sebuah desa sering kali menyimpan cerita panjang yang sarat makna. Hal itulah yang melekat pada Desa Lerepkebumen, Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen. Di balik namanya, tersimpan kisah pelarian seorang bangsawan Kerajaan Mataram pada abad ke-17.
Tokoh tersebut adalah Pangeran Bumidirja, paman dari Raja Mataram, Amangkurat I. Pada masa pemerintahannya sekitar tahun 1646–1677, Amangkurat I dikenal sering berselisih dengan para pejabat kerajaan. Kebijakan hukum yang dianggap tidak adil membuat banyak penasihat kerajaan mencoba memberikan masukan, termasuk Pangeran Bumidirja yang saat itu menjabat sebagai dewan penasihat kerajaan.
Namun, nasihat tersebut justru membuat sang raja murka. Ketegangan memuncak ketika Amangkurat I menjatuhkan hukuman mati kepada Pangeran Pekik, tokoh yang berjasa besar bagi Kerajaan Mataram. Merasa situasi semakin berbahaya dan mengetahui dirinya juga terancam hukuman mati, Pangeran Bumidirja akhirnya memutuskan melarikan diri dari Keraton Mataram bersama keluarganya dan beberapa abdi setia.
Perjalanan Menuju Panjer
Pelarian itu membawa Pangeran Bumidirja hingga ke wilayah Panjer, yang kini dikenal sebagai bagian dari Kabupaten Kebumen. Di sana ia diterima oleh pemimpin setempat, Ki Gede Panjer II.
Untuk menghindari pengejaran dari pihak kerajaan, Pangeran Bumidirja kemudian mengganti namanya menjadi Kyai Bumi atau Ki Bumi. Tempat tinggalnya pun dikenal masyarakat dengan sebutan “Kebumian”, yang berarti tempat tinggal Kyai Bumi. Seiring waktu, sosoknya dihormati sebagai sesepuh oleh masyarakat sekitar.
Namun keberadaannya akhirnya diketahui oleh utusan Keraton Mataram yang datang untuk menjemputnya kembali. Kyai Bumi menolak kembali ke keraton, bahkan dua utusan tersebut memilih menetap dan mengabdi kepadanya.
Karena khawatir keberadaannya kembali terendus oleh kerajaan, Kyai Bumi bersama keluarga dan para pengikutnya kembali melanjutkan perjalanan meninggalkan Panjer.
Asal Nama Lerepkebumen
Dalam perjalanan menuju arah timur melalui jalur utara, rombongan Kyai Bumi sempat berhenti untuk beristirahat di sebuah tempat. Lokasi itulah yang kemudian dikenal dengan nama Lerepkebumen.
Nama tersebut berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu “Lerep” yang berarti berhenti atau singgah, serta “Bumen” yang merujuk pada nama Kyai Bumi. Secara harfiah, Lerepkebumen berarti tempat singgahnya Kyai Bumi dalam perjalanan pelariannya.
Setelah bermalam, perjalanan dilanjutkan hingga ke wilayah Karang yang kini masuk daerah Kutowinangun. Di tempat itu Kyai Bumi menjalani kehidupan sebagai petani hingga akhir hayatnya.
Jejak Sejarah dan Makam Tokoh
Kyai Bumi diyakini dimakamkan di wilayah Kutowinangun. Kompleks makamnya bahkan telah dikenal sebagai bagian dari situs sejarah di Kabupaten Kebumen dan sering diziarahi, terutama saat peringatan Hari Jadi Kebumen.
Namun terdapat hal yang menarik perhatian masyarakat. Di kompleks tersebut terdapat dua makam dengan nama berbeda, yaitu makam bertuliskan Pangeran Bumidirja di dalam cungkup, dan makam bertuliskan Kyai Bumi di bagian luar. Padahal dalam kisah babad, keduanya diyakini sebagai sosok yang sama.
Perbedaan ini masih menjadi bahan diskusi bagi pemerhati sejarah lokal, sekaligus menjadi pengingat pentingnya pelestarian dan pelurusan sejarah daerah bagi generasi mendatang.
Selain jejak sejarahnya, sejumlah tradisi masyarakat juga dikaitkan dengan kisah perjalanan Kyai Bumi, seperti tradisi kenduri nasi mogana dan cerita tentang Pasar Senggol Selang yang dipercaya berkaitan dengan peristiwa rombongan warga yang mengantar kepergiannya.
Hingga kini, cerita tentang Kyai Bumi dan asal-usul nama Lerepkebumen tetap hidup di tengah masyarakat sebagai bagian dari warisan sejarah Kebumen.(k24/*).
Sumber: Rangkuman Artikel Sejarah Ananda. R
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















