KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Bandung menjadi salah satu desa yang menyimpan jejak sejarah panjang di Kabupaten Kebumen. Terletak di bagian timur Kecamatan Kebumen, desa ini tidak hanya dikenal karena letak geografisnya yang strategis, tetapi juga kisah masa lalu yang diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh.
Secara geografis, Desa Bandung berbatasan langsung dengan beberapa desa di dua kecamatan. Di sebelah timur berbatasan dengan Desa Bojongsari, sementara di bagian utara berbatasan dengan Desa Suratrunan, Kecamatan Alian. Untuk wilayah selatan berbatasan dengan Desa Candimulyo dan Desa Tanahsari, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Desa Kalijerak yang masih berada dalam satu kecamatan.
Dalam struktur wilayahnya, Desa Bandung memiliki delapan pedukuhan, yakni Dukuh Ketanggeran, Dukuh Mujahidin, Dukuh Sungada, Dukuh Kebonsari, Dukuh Syuhada, Dukuh Darussalam, Dukuh Tegong, dan Dukuh Bandung Kidul. Namun dalam tata kelola pemerintahan desa saat ini, wilayah tersebut dirampingkan menjadi empat dusun agar lebih efektif dalam pelayanan masyarakat.
Kehidupan masyarakat Desa Bandung dikenal kental dengan nuansa religius. Berbagai kegiatan keagamaan rutin digelar oleh warga. Selain itu, tradisi budaya Jawa juga masih dijaga hingga sekarang, salah satunya melalui kegiatan merdi bumi atau sedekah bumi yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil bumi dan kehidupan yang diberikan.
Menurut cerita para sesepuh desa, Desa Bandung termasuk salah satu desa tertua di Kabupaten Kebumen. Konon, dahulu ada seorang tokoh keturunan Banteng Malang yang datang dan menetap di wilayah tersebut. Tokoh itu dikenal dengan nama Kanteg. Ia kemudian membangun kehidupan di daerah tersebut dan disebut-sebut pernah menikah hingga 40 kali, sehingga memiliki banyak keturunan yang tersebar di wilayah sekitar.
Cerita lain yang berkembang di masyarakat juga menyebutkan bahwa Bupati Kebumen pertama, Joko Sangkrip, pernah menimba ilmu kepada seorang ulama yang tinggal di sekitar wilayah Desa Bandung, yakni Syech Maulana Yusuf.
Jejak sejarah lainnya yang masih dipercaya masyarakat adalah keberadaan sebuah masjid yang disebut sebagai masjid tiban, yakni bangunan masjid yang diyakini muncul secara tiba-tiba. Keberadaan masjid tersebut menjadi salah satu cerita spiritual yang masih melekat dalam ingatan warga.
Meski waktu pasti berdirinya Desa Bandung tidak diketahui secara jelas, para sesepuh menuturkan bahwa dahulu desa ini bermula dari sebuah wilayah kecil seluas sekitar 60 ubin yang berada di sebelah selatan Kuburan Sabrang. Saat ini lokasi tersebut berada di wilayah RT 03 RW 02. Dari kawasan itulah kemudian berkembang permukiman yang akhirnya dikenal dengan nama Desa Bandung hingga sekarang.
Seiring perkembangan zaman, Desa Bandung terus tumbuh menjadi desa yang tetap menjaga nilai tradisi, sejarah, serta kehidupan sosial masyarakatnya.(K24/*).
Sumber : https://bandung.kec-kebumen.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/120
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















