KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kalirancang di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Catatan sejarah desa menunjukkan bahwa sistem kepemimpinan di Kalirancang telah berlangsung sejak abad ke-19, dimulai dari masa kepemimpinan Bekel hingga Kepala Desa seperti saat ini.
Menurut catatan sejarah desa dan cerita para sesepuh, pemerintahan di Desa Kalirancang pada awalnya dipimpin oleh seorang Bekel. Salah satu yang tercatat adalah Bekel Raksadipa yang memimpin sekitar tahun 1867 hingga 1877. Setelah itu, kepemimpinan dilanjutkan oleh Bekel Rakadipa bersama Bekel Suradipa pada periode 1877 hingga 1882.
Memasuki tahun 1883, sistem kepemimpinan desa mulai berubah dengan hadirnya jabatan Lurah atau yang dikenal dengan sebutan Glondong. Kala itu, seorang Glondong memimpin beberapa wilayah sekaligus, yakni Desa Sawangan, Krakal, Kalijaya, dan Kalirancang.
Sejak saat itu, kepemimpinan desa terus berganti dari generasi ke generasi. Beberapa nama yang tercatat antara lain Glondong Hudawikrama atau H. Moeh Saleh (1883–1902), Huda Pawira (1903–1905), Hudawijaya atau Darman (1906–1925), hingga Wiraredja atau Marikun yang memimpin cukup lama dari tahun 1926 hingga 1956.
Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Sastromihardjo (1957–1984), Martodiharjo atau Kamsah (1985–1994), Dalikun Hary Soegito (1994–2002), Winarto (2002–2013), Kuswanto, S.E. (2013–2019), dan saat ini dipimpin oleh Suwito sejak tahun 2019.
Jika dihitung sejak tahun 1867 hingga sekarang, Desa Kalirancang telah mengalami belasan kali pergantian pemimpin yang turut membentuk perjalanan sejarah dan perkembangan desa.
Tradisi Leluhur yang Tetap Dijaga
Selain memiliki sejarah panjang dalam pemerintahan, masyarakat Kalirancang juga dikenal masih memegang kuat tradisi leluhur. Salah satu tradisi terbesar adalah Merdi Desa atau Sedekah Bumi, yang biasanya digelar setelah masa tanam padi.
Tradisi ini diawali dengan kegiatan bersih-bersih makam oleh warga desa, kemudian dilanjutkan dengan selamatan di setiap pedukuhan. Puncak acara biasanya ditandai dengan hidangan ingkung serta pagelaran wayang kulit yang berlangsung siang dan malam.
Tak hanya itu, masyarakat juga rutin menggelar berbagai kegiatan keagamaan sepanjang tahun, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mi’raj, Tahun Baru Hijriah, hingga kegiatan menjelang Ramadan seperti munggahan dan khataman Al-Qur’an.
Warisan Kesenian Tradisional
Pada masa lalu, Desa Kalirancang juga dikenal memiliki berbagai kesenian tradisional yang hidup di tengah masyarakat. Beberapa di antaranya adalah kuda lumping atau ebeg yang pernah memiliki tiga grup, janeng di setiap dukuh, rebana, hingga kesenian jidur, angguk, dan wayang wong yang kini sebagian sudah tidak aktif.
Kesenian tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya desa sekaligus hiburan masyarakat pada masanya.
Situs Makam yang Dikeramatkan
Di beberapa wilayah dukuh, terdapat makam tokoh-tokoh yang oleh masyarakat dianggap memiliki nilai spiritual. Salah satunya berada di Dukuh Jerotengah yang dikenal sebagai pusat atau “puser” Desa Kalirancang.
Makam tersebut diyakini sering dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah yang datang untuk berdoa atau mencari berkah dalam usaha, jabatan, maupun kehidupan mereka.
Selain itu, terdapat pula makam-makam lain seperti Makam Kebogares di Jerotengah, Makam Kecik atau Brajagati di Dukuh Gupit, serta Makam Jati Panggang di Dukuh Kedungsemut.
Kisah Mistis dan Legenda Desa
Beberapa kisah yang berkembang di masyarakat juga menjadi bagian dari cerita turun-temurun desa. Salah satunya berkaitan dengan sebuah musala panggung di Dukuh Kalikudu yang diwariskan oleh seorang tokoh bernama Mbah Ginem atau Mohammad Sari.
Konon, tokoh tersebut memiliki perilaku yang dianggap tidak biasa oleh masyarakat, termasuk kisah tentang tamu tak diundang yang akhirnya dijamu dengan baik hingga pergi tanpa mencuri apa pun.
Cerita lain juga berkaitan dengan sumber air hangat yang berada di wilayah perbatasan desa. Menurut kisah para sesepuh, tempat tersebut pernah ditemukan oleh seorang prajurit Kerajaan Mataram yang sedang bertapa karena penyakit kulit yang tak kunjung sembuh. Setelah mandi di sumber air tersebut, penyakitnya dipercaya sembuh.
Hingga kini, cerita-cerita tersebut masih menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Kalirancang.
Sejarah panjang, tradisi yang tetap hidup, serta kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadikan Desa Kalirancang sebagai salah satu desa yang kaya akan nilai budaya dan kearifan lokal di Kabupaten Kebumen.
Sumber: Website resmi Desa Kalirancang
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















