PemerintahanPendidikan

Di Kebumen, Gus Ipul Cerita tentang Anak-Anak yang “Tak Terlihat” Negara

857
×

Di Kebumen, Gus Ipul Cerita tentang Anak-Anak yang “Tak Terlihat” Negara

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com — Tepuk tangan masih bergema ketika Menteri Sosial Gus Ipul memanggil seorang bocah kecil ke atas panggung Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 44 di Kabupaten Kebumen, Sabtu (14/2/2026). Namanya Anang Irawan (9). Seragamnya sedikit kebesaran, suaranya belum sempurna, tetapi sorot matanya menyala.

“Senang sekolah di sini?” tanya sang menteri.

“Senang,” jawab Anang pelan.

Jawaban sederhana itu membuat suasana sejenak hening. Di hadapan ratusan hadirin, Gus Ipul menegaskan, anak-anak seperti Anang adalah wajah nyata mereka yang sering luput dari perhatian sistem—the invisible people.

Anang adalah anak yatim. Ibunya meninggal lima tahun lalu. Ia tinggal bersama ayahnya, Kodrat (52), buruh serabutan dengan penghasilan tak menentu. Sejak ditinggal istrinya, Kodrat harus bekerja sambil mengasuh dua anak.

“Dulu Anang lebih sering main, kurang terarah. Sekarang lebih mandiri. Saya merasa sangat terbantu,” ujar Kodrat dengan mata berkaca-kaca.

Di hadapan siswa dan para pendamping, Gus Ipul menjelaskan makna besar Sekolah Rakyat.

“The invisible people itu bukan orang jauh. Mereka ada di sekitar kita hidup, berjuang tetapi kadang tidak terlihat, tidak tercatat, tidak terdengar,” katanya.

Ia menambahkan, perhatian khusus dari Presiden Prabowo Subianto diwujudkan salah satunya lewat Sekolah Rakyat. “Negara harus hadir untuk anak-anak seperti Anang.

Kisah lain datang dari Erni (14). Ia naik ke panggung bersama pamannya yang selama ini merawatnya. Ibunya pergi entah ke mana, ayahnya tak mengurus sejak bayi. “Ini the invisible people yang harus kita dengar, lihat, dan catat,” pesan Gus Ipul kepada para pendamping PKH. Menurutnya, amanat konstitusi—fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara—harus nyata di lapangan, termasuk melalui Sekolah Rakyat.

Kini Erni kembali bersekolah setelah sempat putus setahun usai lulus SD. Ia tinggal di asrama SRT 44 dan mengikuti kegiatan belajar seperti teman-temannya. Sekolah Rakyat, kata Gus Ipul, bukan sekadar ruang akademik: anak-anak tinggal bersama, makan bersama, dibimbing setiap hari, serta dibentuk karakter dan keterampilannya.

“Dalam satu semester, kita sudah melihat mereka lebih segar, lebih percaya diri, dan menatap masa depan dengan optimistis,” ujarnya.

Bupati Kebumen Lilis Nuryani mengakui perubahan itu. “Anak-anak kita sekarang lebih berani bermimpi. Bahkan sudah ada yang meraih prestasi nasional,” katanya.

Saat ini SRT 44 membina 100 siswa 50 SD dan 50 SMP dengan dukungan 10 guru, 16 wali asuh, dan 6 wali asrama. Dalam acara tersebut, para siswa menampilkan tari, pidato berbahasa Inggris, Arab, dan Jepang, paduan suara, hingga teater.

Acara turut dihadiri Wakil Bupati Zaeni Miftah, Anggota DPRD Jawa Tengah Reza Mahardika, jajaran pejabat tinggi madya Kementerian Sosial Republik Indonesia, Forkopimda, serta para pilar sosial Kabupaten Kebumen.

Di akhir kunjungan, satu pesan kembali ditegaskan: negara tidak boleh absen dari kehidupan anak-anak yang selama ini “tak terlihat”. Sekolah Rakyat hadir untuk memastikan mereka tercatat, didengar, dan diberi masa depan.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.