KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kemangguan di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah legenda yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat. Cerita ini berkaitan dengan tokoh dari Kerajaan Mataram bernama Raden Nalajaya yang dipercaya sebagai perintis berdirinya wilayah tersebut.
Menurut penuturan sejarah yang berkembang di masyarakat, Raden Nalajaya merupakan putra kesepuluh dari raja pertama Mataram, Panembahan Senopati. Ia datang dari Mataram untuk membuka wilayah baru atau babad alas di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Kemangguan.
Namun saat tiba di wilayah tersebut, ternyata sudah ada sosok yang lebih dahulu menguasainya, yaitu Mbah Bondoyudo. Keduanya pun terlibat persaingan untuk menentukan siapa yang berhak memimpin wilayah tersebut.
Pertarungan antara Raden Nalajaya dan Mbah Bondoyudo berlangsung sengit. Mereka saling mengadu kekuatan, kesaktian, hingga kemampuan memainkan senjata tajam. Meski begitu, tidak ada yang benar-benar unggul.
Akhirnya keduanya sepakat menentukan pemenang dengan cara menyelam di sebuah kedung (kubangan air). Siapa yang mampu bertahan paling lama di dalam air, dialah yang berhak menguasai wilayah tersebut.
Setelah beberapa waktu, Mbah Bondoyudo muncul lebih dahulu dari dalam air. Berdasarkan kesepakatan, kemenangan pun jatuh kepada Raden Nalajaya. Sementara itu Mbah Bondoyudo kemudian pergi dan menurut cerita dibuang ke daerah Rawakeling, Cilacap.
Asal Usul Nama Kemangguan
Setelah memimpin wilayah tersebut, Raden Nalajaya mulai membangun permukiman bersama putranya, Raden Nalawijaya yang juga dikenal dengan nama kecil Suwal.
Wilayah yang mereka pimpin saat itu sangat luas, meliputi kawasan Jemur Barat Sungai Lukulo, Jemur Timur Sungai Lukulo, Karangtanjung, Sumolangu hingga ke arah barat sampai Tembana. Kondisi masyarakat pada masa itu masih keras, bahkan banyak perampok dan pencuri.
Karena merasa ragu-ragu dalam memimpin wilayah yang begitu luas dan penuh tantangan, muncul istilah “manggu-manggu” atau “mangu-mangu”. Dari situlah konon nama Kemangguan berasal.
Menghadirkan Ulama dan Dakwah Islam
Menyadari pentingnya kehidupan beragama bagi masyarakat, Raden Nalajaya dan Raden Nalawijaya kemudian mencari seorang ulama untuk membimbing warga.
Pencarian tersebut membawa mereka bertemu dengan seorang tokoh agama dari Banjursari, Buluspesantren, yaitu KH. Syekh Raden Abdul Manan, putra dari Syekh Marwan.
Sejak saat itu pembagian peran mulai terbentuk.
Raden Nalawijaya mengurus pemerintahan, sementara KH. Abdul Manan membimbing masyarakat dalam bidang keagamaan.
Dakwah Islam berkembang pesat di Kemangguan. Sebuah masjid kemudian didirikan dengan nama Masjid Baitul Makmur, yang dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Kebumen. Selain masjid, juga berdiri pondok pesantren yang menjadi pusat pendidikan agama.
Keharmonisan antara pemimpin pemerintahan (umara) dan ulama membuat kehidupan masyarakat semakin tertata, damai, dan makmur.
Jejak Makam Para Tokoh
Di masa tuanya, Raden Nalajaya wafat dan dimakamkan di Dusun Sarwodadi, Kemangguan, yang berbatasan dengan Dukuh Karangcekrik Jemur Sidomukti, Kebumen.
Sementara itu KH. Syekh Abdul Manan dimakamkan di kompleks sekitar Masjid Baitul Makmur Kemangguan. Di lokasi yang sama juga dimakamkan salah satu istrinya.
Para sesepuh desa menuturkan bahwa baik Raden Nalajaya maupun KH. Abdul Manan masing-masing memiliki empat istri. Dari keluarga Raden Nalajaya tercatat memiliki tujuh anak, terdiri dari empat laki-laki dan tiga perempuan.
Beberapa keturunan KH. Abdul Manan yang masih dikenal masyarakat di antaranya berada di Kemangguan, Tejasari Kalijirek, Karangtanjung, hingga Wonosoro.
Legenda ini menjadi bagian penting dari identitas Desa Kemangguan, sekaligus mengingatkan masyarakat tentang sejarah persatuan antara pemimpin pemerintahan dan ulama dalam membangun peradaban desa.
Sumber : https://kemangguan.kec-alian.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/345
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















