SEJARAH

Asal-usul Desa Kalibening di Kebumen, Ternyata Gabungan dari Dua Desa Mirahan dan Jatisawit

332
×

Asal-usul Desa Kalibening di Kebumen, Ternyata Gabungan dari Dua Desa Mirahan dan Jatisawit

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kalibening di Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, ternyata memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan penuh cerita menarik. Desa ini merupakan hasil penggabungan dua desa lama, yakni Desa Mirahan dan Desa Jatisawit, yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 1942 pada masa penjajahan.

Nama Kalibening sendiri memiliki makna yang erat dengan kondisi alam di wilayah tersebut. Nama ini dicetuskan oleh tokoh bernama Wangsa Lekasana, terinspirasi dari keberadaan mata air jernih di wilayah Pertabatan Pagerjawa yang mengalir sepanjang waktu. Air yang bening itulah kemudian melahirkan nama “Kalibening”.

Gabungan Dua Wilayah Bersejarah

Sebelum digabung menjadi satu desa, masing-masing wilayah memiliki pemimpin serta kawasan tersendiri.

Desa Mirahan saat itu dipimpin oleh Mbah Mangunreja dengan wilayah yang cukup luas, meliputi Dukuh Siul, Mirahan, Siparuk, Kalipacet, Kaligending, Saman, Semplep, Kaligua, Kedung Sempor, Kedungkidang, Kedungrandan, Kedungsalam, Kedunglumbung, Sibopong, Panturan, hingga Kalikukap.

Sementara itu Desa Jatisawit dipimpin oleh Mbah Wangsasentana yang membawahi wilayah Dukuh Wates, Cengkolak, Domas, Jengking, Seling, Wadasmalang, Gajah Putih, Karangpontang, Jatisawit, Karangtengah, Karangjati, dan Wates Wetan.

Penggabungan kedua desa ini kemudian menjadi tonggak awal terbentuknya Desa Kalibening seperti yang dikenal masyarakat hingga sekarang.

Asal-usul Nama Dukuh yang Unik

Selain sejarah penggabungan desa, Kalibening juga dikenal memiliki cerita rakyat yang melekat pada nama-nama pedukuhannya.

Dukuh Mirahan, misalnya, diyakini berasal dari tokoh budaya Nyai Mirah, seorang penari Lengger yang konon dimakamkan di wilayah tersebut. Sementara Dukuh Kaligending dikenal karena masyarakatnya banyak yang menjadi penabuh gamelan atau “tukang gending”.

Ada pula Dukuh Kedungkidang yang konon berasal dari kebiasaan warga zaman dahulu berburu kijang atau kidang. Sedangkan Dukuh Kedunglumbung dikenal sebagai tempat penyimpanan hasil panen pertanian masyarakat.

Dukuh Wates dulunya menjadi batas wilayah antara Desa Mirahan dan Desa Jatisawit. Adapun Dukuh Gajah Putih berasal dari cerita masyarakat mengenai keberadaan seekor gajah berwarna putih yang pernah terlihat di kawasan tersebut.

Daftar Kepala Desa Kalibening dari Masa ke Masa

Sejak terbentuk, Desa Kalibening telah dipimpin oleh beberapa kepala desa yang berperan dalam pembangunan wilayah tersebut.

Kepala Desa pertama adalah H. Rusdi yang menjabat pada 1942–1957. Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh Martamiarjo (1958–1966) dan Wiryaguna (1967–1970).

Selanjutnya Sumeri memimpin cukup lama pada periode 1970–1988. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Sunarjo (1989–1998), Sumedi (1998–2006), Ritam (2007–2013), serta Kasiyo (2014–2019).

Saat ini Desa Kalibening dipimpin oleh Usman Maulana untuk periode 2019–2025.

Seiring perkembangan zaman, Desa Kalibening tidak hanya dikenal sebagai wilayah yang kaya sejarah, tetapi juga sebagai desa yang menyimpan berbagai kisah budaya dan legenda yang masih hidup di tengah masyarakat hingga sekarang.

Sumber: Website resmi Desa Kalibening


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.