KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Pejagatan di Kecamatan Kutowinangun memiliki kisah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Cerita yang diwariskan para sesepuh desa menyebutkan bahwa wilayah ini dahulu bukan satu kesatuan, melainkan terdiri dari beberapa daerah kecil yang berdiri sendiri dengan pemimpin masing-masing.
Wilayah-wilayah tersebut antara lain Karunan, Kecandaran, Telaga Warna, Siparu, Kedungsumur, Konduran, dan Bejaten. Meski terpisah, kehidupan masyarakat saat itu terhubung oleh aktivitas ekonomi yang terpusat di sebuah pasar desa.
Pasar tersebut dikenal dengan nama Pasar Kondursari, yang berada di bagian utara wilayah desa. Di tempat inilah perputaran ekonomi masyarakat berlangsung, tidak hanya bagi warga sekitar tetapi juga bagi masyarakat dari wilayah lain.
Nama-nama wilayah di sekitar Pejagatan juga memiliki cerita tersendiri. Misalnya Kedungsumur, yang konon dinamai karena adanya sumur yang airnya tidak pernah kering. Sementara Karunan dikaitkan dengan peristiwa yang terus berulang atau kegiatan yang selalu terjadi kembali.
Di wilayah Karunan pula pernah dipimpin seorang tokoh perempuan bernama Bu Candra, yang dikenal ahli memasak dalam jumlah besar. Dalam tradisi Jawa, orang yang memasak untuk hajatan biasa disebut sebagai tukang adang.
Adapun wilayah Siparu diyakini berasal dari istilah tempat memasak gulai kambing, karena masyarakat di daerah tersebut gemar mengadakan kegiatan makan bersama. Kawasan ini berada di tepi aliran sungai yang dikenal sebagai Telaga Warna.
Bersatu di Masa Penjajahan
Sekitar tahun 1918, kondisi penjajahan Belanda mendorong para tokoh dari berbagai wilayah tersebut untuk bersatu. Mereka kemudian melakukan pemilihan pemimpin dengan sistem yang dikenal sebagai blengketan, yakni proses penggabungan wilayah sekaligus penentuan nama desa.
Dalam proses tersebut, beberapa wilayah bergabung dan dipimpin oleh lurah masing-masing. Desa Konduran dipimpin oleh Mbah Cokropati, Kedungsumur oleh Mbah Rinjem, sedangkan Krajan dan Karunan dipimpin oleh Mbah Korun.
Blengketan pertama mempertemukan Konduran dengan Kedungsumur dan dimenangkan oleh Kedungsumur. Dari hasil itu muncul usulan nama Desa Tlogo Warno.
Sementara Krajan dan Karunan mengusulkan nama Desa Pejagatan. Dalam putaran akhir antara Tlogo Warno dan Pejagatan, akhirnya nama Pejagatan yang dipilih. Nama ini memiliki makna “Jagat Raya”, yang melambangkan harapan akan kehidupan yang luas, bersatu, dan berkembang.
Jejak Kepemimpinan Desa
Sejak terbentuknya Desa Pejagatan, kepemimpinan desa terus berganti dari masa ke masa, yaitu:
- Cokropati (1860–1884)
- Ngarif (1885–1901)
- Karun (1902–1923)
- Jayareja (1924–1945)
- Dulah Judi (1946–1967)
- Ashar Sodiq (1968–1989)
- Khamid Nuryanto (1990–1998)
- Mualip (1999–2013)
- Hidayat Djuhri (2013–2019)
- Mualip (2019–sekarang)
Tradisi yang Tetap Dilestarikan
Selain sejarahnya yang panjang, Desa Pejagatan juga dikenal memiliki tradisi yang masih dijaga hingga kini.
Tradisi Gombrang misalnya, merupakan kegiatan membersihkan makam leluhur yang dilakukan setiap tanggal 10 bulan Suro dan 25 bulan Ruwah. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.
Ada pula tradisi Sya’banan, yang menjadi penanda datangnya bulan Ramadan. Selama tiga hari dua malam, masyarakat bebas berjalan-jalan pada malam hari setelah Magrib hingga tengah malam di sepanjang jalan desa hingga Pasar Kedungsumur.
Ketika Ramadan tiba, warga juga melaksanakan tradisi Likuran dan Lawean pada malam ke-21 dan ke-25 puasa. Dalam tradisi ini, masyarakat membuat sapitan, yakni ayam bakar yang dijepit bambu dan dibungkus daun pisang sehingga menghasilkan aroma khas.
Suasana desa menjadi semakin meriah karena anak-anak membuat tenda kecil di depan rumah menggunakan jarik atau terpal. Warga juga saling berkunjung sambil membawa bongkohan, yakni paket berisi aneka jajanan tradisional maupun modern.
Tradisi ini dikenal dengan sebutan Entak-Entik, yang berlangsung ramai dari setelah tarawih hingga menjelang sahur, diiringi nyanyian lagu tradisional.
Tari Jagat Gerabah
Sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya, masyarakat Pejagatan juga mengembangkan Tari Jagat Gerabah. Tarian ini menggambarkan proses pembuatan gerabah, mulai dari pengolahan tanah, pembentukan, hingga pembakaran.
Tari tersebut diinisiasi oleh tiga remaja putri yang mengenakan busana tari khas Kebumen. Musik pengiringnya menggunakan kendang, trompet, dan perkusi yang memberikan nuansa khas dan dinamis.
Tarian ini juga menjadi bagian dari pengembangan Desa Eduwisata Gerabah, sekaligus ajakan kepada generasi muda untuk terus melestarikan budaya membuat gerabah.
Dengan sejarah panjang dan tradisi yang masih hidup, Desa Pejagatan tidak hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menjadi contoh bagaimana nilai budaya tetap dijaga di tengah perkembangan zaman.
Sumber website desa Pejagatan
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















