KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Mirit, yang kini menjadi salah satu desa bersejarah di Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Dahulu, wilayah ini merupakan sebuah hutan atau alas pada masa kerajaan Mataram, ketika Raden Brawijaya, yang dikenal juga dengan nama Damar Wulan, melakukan pengembaraan ke barat.
Dalam perjalanannya, Raden Brawijaya singgah di Tlogo Depok dan bertemu dengan seorang putri cantik bernama Dewi Renges (juga dikenal sebagai Reksolani). Dari pertemuan ini lahirlah Aryo Damar, yang kemudian menjadi Hadipati Eng Palembang. Aryo Damar memiliki keturunan Raden Kusen (Joko Timbal), yang selanjutnya melahirkan Raden Telo Moyo (Kyai Carang Nolo).
Kyai Carang Nolo memiliki seorang anak bernama Raden Wiro Tanu, yang kemudian memiliki dua putra: Raden Ketijoyo dan Raden Wongso Joyo II (Wonoyudo Pecut). Dari garis keturunan ini, muncul tokoh-tokoh penting seperti Kyai Lancing (Mbah Lancing) dan Wonoyudo Gerbong, yang meneruskan pemerintahan hingga generasi Wono Dikromo II.
Wono Dikromo II menjadi demang atau lurah Mirit dengan wilayah yang luas dan memiliki tiga anak laki-laki: Wonodikromo, Cokrodikromo, dan Derpowikromo. Anak tertua, Wonodikromo, mewarisi jabatan demang Mirit, sementara adik-adiknya diberikan wilayah masing-masing. Cokrodikromo memimpin wilayah yang kini dikenal sebagai Tlogomirit, dan Derpowikromo memimpin Tlogopragoto.
Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah, tapi juga menjadi akar identitas masyarakat Desa Mirit yang kaya akan warisan budaya dan kepemimpinan lokal.
Sumber : https://mirit.kec-mirit.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/82
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















