KEBUMEN, Kebumen24.com – Di pesisir selatan Kabupaten Kebumen, tepatnya di Desa Entak, Kecamatan Ambal, tersimpan kisah sejarah dan legenda yang masih hidup di tengah masyarakat. Dahulu, wilayah ini dikenal dengan nama Bumi Rawa Jombor, sebuah kawasan yang sering dilanda banjir pada masa pemerintahan Panembahan Senopati atau Raden Danang Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram.
Dikutip dari situs kalen-gunungtugel.blogspot.com menyebutkan pada masa itu, setiap musim penghujan air meluap hingga ke permukiman warga. Sementara saat musim kemarau, air memang berkurang namun lahan pertanian tetap tergenang. Kondisi tersebut membuat kehidupan masyarakat Rawa Jombor tidak mudah.
Datangnya Ulama Pengembara dari Banten
Dalam catatan cerita turun-temurun masyarakat, suatu ketika datang seorang pengembara muslim dari Banten bernama Syekh Maulana Nurul Duhur, yang kemudian dikenal sebagai Mbah Duhur. Sosok ini disebut memiliki pengetahuan agama yang luas sekaligus kepedulian tinggi terhadap masyarakat.
Kedatangannya juga bertepatan dengan perjalanan Panembahan Senopati yang sedang melakukan peninjauan wilayah di pesisir selatan Kebumen. Pertemuan keduanya disebut menjadi awal pengabdian Syekh Maulana Nurul Duhur di wilayah Rawa Jombor.
Ia kemudian mendapat amanah untuk menetap dan menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat. Saat itu, wilayah pesisir Urutsewu masih didominasi kepercayaan Hindu dan Buddha.
Berdakwah dengan Pendekatan Sosial
Berbeda dengan dakwah yang keras, Syekh Maulana Nurul Duhur memilih pendekatan sosial. Ia membantu masyarakat bertani, beternak, dan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.
Perlahan, masyarakat mulai simpati dan tertarik dengan ajaran Islam yang dibawanya. Namun perubahan itu tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Pemimpin masyarakat saat itu, I Gusti Gede, merasa khawatir ajaran lama akan hilang. Ia pun menantang Mbah Duhur melalui sebuah sayembara.
Sayembara Membuat Sungai dalam Satu Malam
Sayembara tersebut terdengar mustahil. Mbah Duhur diminta membuat sungai yang mengalir dari Rawa Jombor hingga ke laut selatan hanya dalam satu malam, sebelum ayam berkokok saat fajar.
Jika gagal, ia harus meninggalkan wilayah tersebut.
Menurut cerita masyarakat, Mbah Duhur menerima tantangan itu. Ia kemudian berdoa dan bermunajat di kawasan perbukitan yang kini dikenal sebagai Bedahan Gunung Gede atau Kalen Gunungtugel.
Konon, pada malam itu terbentuk aliran sungai yang membelah perbukitan. Namun sebelum pekerjaan selesai, masyarakat yang dipimpin I Gusti Gede membuat kegaduhan dan menyalakan api agar terlihat seolah fajar telah tiba.
Akibatnya pekerjaan tersebut terhenti dan sungai yang dibuat tidak sampai langsung ke laut.
Asal Usul Nama Desa Entak
Melihat hal itu, I Gusti Gede menyatakan Mbah Duhur gagal dan memintanya pergi dari kampung tersebut. Namun sebelum meninggalkan tempat itu, Mbah Duhur disebut mengucapkan kalimat yang kemudian dipercaya menjadi asal-usul nama desa.
Ia menyinggung cara berbicara yang keras dan “mengentak”, yang kelak menurut cerita akan menjadi nama wilayah tersebut. Dari kata “Ngentak” inilah kemudian berkembang menjadi Entak, yang hingga kini menjadi nama desa di Kecamatan Ambal.
Sungai yang dibuat Mbah Duhur juga dipercaya tetap memberi manfaat. Aliran air tersebut membantu mengurangi banjir yang selama ini melanda Rawa Jombor.
Jejak yang Masih Ada Hingga Kini
Di kawasan Bedahan atau Kalen Gunungtugel saat ini terdapat makam yang diyakini sebagai makam Syekh Maulana Nurul Duhur. Tempat tersebut masih sering dikunjungi masyarakat untuk berziarah.
Selain itu, masyarakat juga mengenal lokasi bernama Sigong, yang diyakini sebagai bekas tempat ibadah lama sebelum kemudian digunakan sebagai mushola.
Kisah Syekh Maulana Nurul Duhur tidak hanya menjadi cerita legenda, tetapi juga bagian dari sejarah lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi di Desa Entak.
Hingga kini, cerita tentang perjuangannya menyebarkan ajaran Islam sekaligus membantu masyarakat mengatasi bencana banjir masih dikenang sebagai inspirasi dan teladan.(K24/*)
Sumber: http://kalen-gunungtugel.blogspot.com
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















